Tokyo, Kemarin

Saya kesal setiap ada dari mereka, teman-teman saya, yang selalu mengait-ngaitkan saya dengan Jepang. Kesal karena saya belum jadi-jadi juga ke sana. Setiap dari mereka yang sudah pernah ke Jepang, selalu bilang bahwa Jepang cocok buat saya. Cocok apanya sih?

“Pas di Jepang langsung kepikiran, ini Agung banget”

Saya tidak tahu apa yang membuat mereka berfikiran seperti itu. Bagaimana caranya sebuah kota atau negara bisa diasosiasikan begitu dekat dengan sosok manusia biasa macam saya. Dan semakin banyak yang berfikiran seperti itu, semakin saya kesal dan penasaran. Itu sebabnya kemarin saya memutuskan untuk pergi ke sana— “Get lost, to find yourself” kalau kata orang bijak.

Continue reading “Tokyo, Kemarin”

Design Thinking

Ketika segerombolan millennial dengan label digital savvy tiba-tiba diundang untuk hadir pada sebuah workshop 4 hari dengan tema Design Thinking, yang juga menghadirkan para ibu-bapak yang biasa kami simpan namanya dalam kolom copy di email kantor—muncullah pertanyaan dalam diam— “Kenapa harus Design Thinking?”

Ini semua berawal di tahun 1958, tidak lama setelah NASA dibentuk. Seorang Profesor Engineering dari Stanford bernama John Arnold menggagas ide bahwa proses rekayasa desain seharusnya berfokus pada manusia. Saat itu, gagasan ini dianggap cukup nyeleneh—karena pada era perang dingin yang saat itu sedang terjadi, proses desain dan rekayasa produk lebih berfokus pada tujuan utama mereka, yaitu persaingan menuju luar angkasa dan optimalisasi bom hydrogen. Tidak ada unsur manusia-nya sama sekali.

Continue reading “Design Thinking”

Visa Jepang

Sebagai orang yang malas berurusan dengan birokrasi, hukum dan hal-hal menyebalkan lainnya, mengajukan visa adalah hal yang cukup menegangkan— terlebih karena ini masuk ke ranah hukum internasional.

“Caranya gimana sih? Gimana kalau pengajuan visa gue ditolak? Gimana kalau di imigrasi nanti gue ngga diijinin masuk terus dideportasi?” —dan banyak ketakutan lainnya.

Surprisingly, pengajuan visa jepang kemarin cukup mudah dan cepat prosesnya. Selain karena proses pengajuannya yang sudah dipindah dari kantor Kedutaan Besar Jepang di Thamrin ke Japan Visa Application Centre (JVAC) di Mal Lotte Shopping Avenue, juga karena syarat dan tata caranya yang tertulis jelas baik di web kedutaan besar Jepang ataupun di web vfs— perusahaan spesialis layanan Visa dan teknologi terbesar di dunia untuk pemerintah dan misi diplomatik.

Continue reading “Visa Jepang”

Sigma 30mm f/1.4

Sejak memiliki lensa 50mm di tahun 2012 lalu, saya langsung tau bahwa lensa selanjutnya yang akan saya miliki akan selalu lensa dengan fixed focal length, atau yang biasa disebut prime lens. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah focal length berapa yang pas dengan cara atau gaya pengambilan gambar yang sering saya lakukan.

Ketika dengan 50mm lalu saya sering merasa terlalu sempit, kemudian 18.5mm di Fujifilm X70 dan 19mm di Sigma Art Lens kadang terasa terlalu lebar, maka saya tau bahwa focal length yang sesuai dengan cara saya mengambil gambar, ada di antara 50mm dan 20mm.

Continue reading “Sigma 30mm f/1.4”

On Marriage

Minggu lalu saya mendapatkan kabar bahagia dari seorang teman tentang dirinya yang akan segera mengakhiri masa lajangnya. Segera disini adalah dalam arti yang sebenarnya yaitu minggu depan. Cerita perjalanan menuju pernikahan seorang teman akan selalu menarik, terlebih teman saya ini adalah sosok yang sangat baik agamanya —dan dia menjalani apa yang disebut ta’aruf dalam menuju pernikahannya ini.

Seperti berita pernikahan yang sudah-sudah, saya selalu membuka jalur diskusi dengan, “what makes you tick? kenapa kamu bisa yakin bahwa ini saat yang tepat dan kenapa perempuan ini yang tepat? Continue reading “On Marriage”

Wrap up

It was a failure. Harus saya akui 2017 lalu tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja karena sepanjang tahun kemarin ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya lakukan tapi nyatanya belum berhasil terwujud. Dan hari pertama di tahun 2018 kemarin adalah momen yang tepat untuk menyadari semua itu; ketika tiba-tiba ingatan tentang kegagalan yang saya alami sepanjang 2017 sepakat menghajar memori saya pagi itu. Sayang mereka datang terlambat.

Continue reading “Wrap up”

On Conversation

Maybe we had never met before, maybe we had. We could be complete strangers or long-lost friends. You could be a friend of a friend. And I may be attracted to you, or I may not be. But, if I ask you out for movie or coffee —or even if I just followed your account, it means I find you interesting and it would be my pleasure to engage in sincere human contact over conversation with you.

It doesn’t matter what movie or which coffee shop. It could be a run-down stall that serves black coffee with condensed milk, or a fancy cafe that serves a range of coffee with creative yet pretentious names. I’m not a coffee person but that’s okay. We could go to XXI or CGV for movie, or even go to foreign film festival, it really doesn’t matter.

Continue reading “On Conversation”

Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm

Bukan, ini bukan review mirrorless Sony A6000 ataupun Sigma Art Lens 19mm. Kali ini saya hanya akan sedikit berbagi cerita tentang gear yang sekarang menjadi bawaan saya sehari-hari dan beberapa contoh dari hasilnya. Oiya, jadi ceritanya selepas dari sistem Fujifilm, saya beralih ke sistem Sony. Sempat akan mengambil seri RX100 tapi mengingat kejadian kemarin dengan kamera yang tidak dapat diganti lensanya, saya memutuskan untuk mengambil seri A6xxx paling lawas, yaitu A6000.

Continue reading “Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm”

Eps. 25

Today, I just want to let you know that I’m proud of you. Not because of the things that people compliment you on from what they can see of you, but because of those that they don’t see. Those things that matter the most, and yet no one ever noticed and complimented on.

For being so responsible in facing all the decisions that you have picked in your life despite the fact that many of them look more like a mess now. For being so strong in adapting to your problems and trying to solve them all alone. Nobody realises what things you have been through.

Continue reading “Eps. 25”

I Ditched My Fujifilm X70

Ragam respon yang saya terima ketika pertama kali mengatakan bahwa saya akan mengganti Fujifilm X70 kesayangan saya dengan kamera lain; mulai dari gelak tawa, sumpah serapah sampai kernyit dahi penuh tanda tanya. Bagaimana tidak, seperti yang pernah saya tulis disini sebelumnya bahwa X70 adalah kamera yang saya beli setelah melalui proses kontemplasi yang cukup panjang yang sampai jauh merambat ke proses mengenal diri sendiri. Begitu jauhnya sampai saya lupa bahwa ini cuma tentang hobi.

Situasi berbanding terbalik ketika saya memutuskan untuk melepaskannya: begitu mudah dan cepat sekali menemukan penggantinya. Singkat cerita, selama kurang lebih delapan bulan penggunaan Fuji X70 kemarin, sering saya temui kondisi-kondisi yang kurang atau di bawah ambang ekspektasi saya. Yang kemudian menimbulkan pertanyaan, “loh kok gini ya?”

Continue reading “I Ditched My Fujifilm X70”