singapura malam hari

Pertemuan Pertama dengan Singapura

Kemarin sempat kumpul bareng teman-teman kuliah dan dari sekian banyak hal yang kita bahas, yang paling lama dan seru bahasannya adalah tentang jalan-jalan —karena memang itu sih tujuan kita kumpul.

Singapura, Malaysia, Thailand, paspor, visa dan segala hal tentang sebuah perjalanan kita obrolin. Satu hal yang pasti setiap membicarakan sebuah perjalanan adalah semangat. Entahlah, baik saya maupun teman-teman saya juga merasakan hal yang sama, tetiba excited yang berujung ngga bisa tidur.

Seketika saya jadi ingat dan melipir kangen sama negeri singa di seberang sana. Terus baru sadar juga ternyata belum ada postingan tentang Singapura disini. Jadi.. baiklah, mari kita ingat-ingat tentang Singapura.

***

Lagi HUT kemerdekaan Singapura

Singapura adalah negara pertama yang saya kunjungi dan entah kenapa saya merasa akan sering mampir kesana (semoga). Padahal kalau dipikir-pikir, ngga ada yang spesial dengan Singapura; Ya gitu, negara sekaligus kota yang modern. Mirip Jakarta tapi jauh lebih rapi, bersih, teratur, dan canggih. Komposisi penduduknya juga kurang lebih mirip dengan Jakarta, Surabaya, atau kota besar lainnya.

Satu hal yang bikin saya kaget di Singapura adalah negara ini cepet banget. Seperti yang sudah pernah saya tuliskan di sini, penduduk di sana jalan kakinya cepet banget. Didukung dengan eskalator yang juga cepat yang selalu sukses bikin siapapun nyaris terjungkal ke belakang ketika pertama kali menggunakannya, begitu juga dengan MRT-nya. Semuanya serba cepat.

Beberapa tempat yang sempat saya kunjungi kemarin adalah Singapore Flyer seharga SGD 30 —naik bianglala raksasa selama 30 menit untuk bisa melihat Singapura dari ketinggian. Iya, gitu doang kena Rp 300ribu—, Universal Studio seharga SGD 750 atau SGD 800 ya, lupa. Ini worth it sih menurut saya, wahana-nya banyak dan bagus. Baiknya sih datang dari pagi, kemarin saya baru masuk jam 2 siang, jadi ngga terlalu banyak wahana yang dicobain, keburu gelap. Selain itu juga karena pengunjungnya rame banget, kalau wahana yang favorit ngantrinya bisa sampai 2 jam!

Universal Studio Singapore

Universal Studio Singapore

Yang paling bikin kesel adalah seminggu setelah saya main di Universal Studio, saya diajak ke Dufan, udah pasti kebanting bangetlah *sombong*, jadi ngga pengen main di Dufannya. Terasa kecil banget Dufan, roller coaster-nya berasa hahahihi doang *congkak*. Astaghfirullah ngga boleh congkak, gung.

Nah selanjutnya menyoal kebersihan. Biasanya kalau orang Indonesia dari Singapura pasti cerita kalau Singapura bersih banget, padahal memang iya. Tapi seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Saya sempat hampir muntah ketika mampir ke toilet di salah satu stasiun MRT disana, lupa nama stasiunnya. Jorok banget, lebih jorok dari toilet di Indonesia. Tapi jarang, mungkin hanya 1 dari 50 yang jorok seperti itu. Ngga tau ya, tapi saya merasa ketika di luar negeri ada suatu tempat yang jorok, itu pasti jauh lebih jorok dari yang jorok di Indonesia. Di Arab saudi juga kemarin saya menemukan banyak yang lebih jorok dari yang jorok di Indonesia.

Yang paling menyenangkan dari Singapura menurut saya adalah integrasi angkutan transportasinya. Saya seneng banget ketika harus naik MRT dari satu titik ke titik lain, seru aja. Bahkan saking senangnya, ketika di Jakarta saya menyempatkan untuk keliling Jakarta cuma pakai Transjakarta, terbawa suasana(?). Efek bahagianya sampai segitunya, lho.

Jadi, kapan kita bertemu lagi, SIN? wink

 

Comment 1

  1. Pingback: The SGD 50 Trip – mind-wanderer

Leave a Reply