Alinea Sasikirana

Tulisan ini saya buat ketika ia sedang tertidur pulas di samping saya. Tiga bulan terakhir, dia memang selalu tidur di tempat yang sama dengan kami berdua. Mengisi ruang kosong yang tidak banyak, dan menjadikannya lebih hangat.

Sebelum menikah, saya tidak pernah secara khusus mendiskusikan tentang rencana kehamilan dan sebagainya dengan Aswita. Secara pribadi saya menganggap kehadiran buah hati adalah sebuah kebaikan. Dan saya juga tidak melihat adanya alasan untuk menunda kehamilan. Karena saya rasa kami berdua sudah cukup siap. Maka pikiran-pikiran untuk menunda dan sebagainya tidak pernah terlintas. Tapi tidak juga menduga akan secepat ini.

Continue reading “Alinea Sasikirana”

Tahun 2021

Setelah semua ini, setelah nyaris satu tahun kita ‘terkurung’ dalam isolasi sosial, yang kemudian semakin sering pula kita bercengkrama dengan diri kita sendiri. Mencoba adil dan lebih sering mendengarkan cerita dan perasaan tentang diri kita sendiri.

Ternyata begini ya rasanya menjadi dewasa. Ada sebuah kebebasan dari ikatan ego tertentu. Ada perasaan legawa meskipun tidak semua hal yang kita suka bisa kita miliki atau alami. Juga, kita sudah tidak lagi takut dengan isi media sosial, instagram story kah, twitter kah— karena kebanggaan dan kenyamanan dengan diri sendiri jauh lebih besar dari kemampuan Instagram mengerdilkan kebahagiaan seseorang.

Apakah semua orang dewasa mengalami perasaan ini? Perasaan ‘selesai’ dengan diri mereka sendiri dan mau terbuka untuk berinteraksi dengan dunia yang luas ini?

Sebuah Tempat Untuk Menetap

Dari sekian banyak highlight yang terjadi di 2020, keputusan untuk membeli rumah di tahun ini adalah salah satu bagian paling menarik dalam catatan kami. Banyak sekali yang ingin diceritakan mulai dari proses pencarian hunian yang sesuai budget dan selera, survey lokasi rumah, urus-urusan dengan notaris dan bank, renovasi rumah, mengisi perabotan rumah, hingga akhirnya pindah untuk menetap.

Beberapa waktu sebelum menikah dengan Aswita, perihal tempat tinggal ini pernah saya angkat ke meja diskusi. Saat itu saya berpikir bahwa tinggal di apartemen 2 kamar tidur yang saya sewa dengan luas kurang dari 45m² di bilangan Jakarta Selatan sudah cukup untuk kami berdua, bahkan bertiga seandainya kami nanti punya seorang bayi. Aswita setuju, tapi dengan syarat: harus sudah pindah ke rumah tapak sebelum anak lahir. Saya setuju. Lagi pula, ngga akan langsung hamil juga kan setelah menikah?

Continue reading “Sebuah Tempat Untuk Menetap”

Imposter Syndrome

Jadi barusan saya baca medium-nya Yoel, salah satu role model per-UX-an di Indonesia yang membahas pengalaman beliau tentang Imposter Syndrome. Jujur ini baru kali pertama saya dengar tentang istilah tersebut. Melegakan membacanya, karena ternyata hal yang biasa saya alami ini ada penjelasannya, dan tentu saja bukan cuma saya yang mengalaminya.

Imposter syndrome itu singkatnya adalah merasa tidak layak karena (merasa) skill kita tidak sebaik atau jauh di bawah dari apa yang orang lain kira.

Continue reading “Imposter Syndrome”

Satu

Barangkali kami berdua sama-sama tidak pernah menyangka bahwa pertemuan tidak terencana di festival musik jazz akhir tahun 2017 lalu adalah awal dari semua cerita tentang Agung dan Aswita. Pun saya menduga, dia tidak pernah berencana untuk menjalin hubungan dengan saya, lalu meresmikannya di awal tahun ini.

Bedanya, saya sudah merencanakannya. Sederhana sekali rencananya, sesederhana: “terkait pernikahan, semuanya akan berawal di 2018, kemudian jadian di 2019, setahun pacaran lalu menikah di 2020”. Hal yang sama dengan rencana-rencana lainnya, sederhana namun sering diulang dalam pikiran.

Continue reading “Satu”

On Compatibility

Sejak saya memutuskan akan menikah dengan Aswita awal tahun nanti, banyak sekali pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri. Sebenarnya tanpa perlu menunggu momen nikah-nikahan ini juga saya selalu punya banyak pertanyaan di kepala; hanya saja kali ini substansi pertanyaannya lebih banyak tentang kehidupan dan hubungan-interaksi antar manusia.

Bertanyanya pun bukan dalam konteks meragu seperti yang banyak orang ceritakan di masa menjelang pernikahan, melainkan sekedar memenuhi rasa penasaran saya akan sebuah alasan logis dibalik terjadinya sesuatu.

Ada satu pertanyaan yang menarik saya cukup dalam, yaitu tentang bagaimana saya, justru bisa mantap untuk menetap pada hubungan yang frekuensi interaksinya bisa dibilang tidak seintens hubungan yang sudah-sudah. Bukankah komunikasi-dan-interaksi is the key?

Continue reading “On Compatibility”

Startup Life Is Not For Everyone

After more than 3 years of working in an established company, I moved to a startup with a different industry. It’s been 6 months and all I can say is: It feels like an effing roller coaster.

I still remember the farewell moment back in February, along with the emotions and dilemma I had— the dilemma that I know a lot of people experience: should I stay in this company and chill or jump start my career in the startup universe?

Continue reading “Startup Life Is Not For Everyone”

Masih Tentang Kecemasan

Dari sekian banyak alasan yang ada untuk membuat seseorang cemas atau bahkan stress, saya tertarik dengan salah satu alasan yang dikemukakan oleh Alain de Botton. Menurutnya, salah satu alasan yang paling relevan di era ini adalah melimpahnya peluang untuk sukses.

Suka atau tidak, saat ini kita sedang hidup di era yang penuh dengan kecemasan. Terutama orang-orang yang hidup di kota besar yang serba cepat dan penuh persaingan. Semuanya tegang, gelisah. Sampai muncul sebuah retorik yang menjadi jargon anak muda ibu kota— Apasih yang dicari?

Continue reading “Masih Tentang Kecemasan”

Diskursus Politik

Dari semua hiruk-pikuk tentang pilihan politik kemarin, ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran yang berujung pada riset-riset kecil tentang pilihan-pilihan politik manusia.

Berawal dari kegemasan saya akan fenomena di sekitar, di mana figur yang saya rasa cukup berpendidikan ternyata begitu mudah terbawa oleh opini dan narasi yang dibentuk oleh pihak tertentu.

Dalam riset kecil-kecilan yang saya lakukan selama perjalanan Jakarta-Bandung malam tadi, bisa dipahami bahwa manusia dalam pandangan politik dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok: Konservatif dan Progresif.

Continue reading “Diskursus Politik”