Imposter Syndrome

Jadi barusan saya baca medium-nya Yoel, salah satu role model per-UX-an di Indonesia yang membahas pengalaman beliau tentang Imposter Syndrome. Jujur ini baru kali pertama saya dengar tentang istilah tersebut. Melegakan membacanya, karena ternyata hal yang biasa saya alami ini ada penjelasannya, dan tentu saja bukan cuma saya yang mengalaminya.

Imposter syndrome itu singkatnya adalah merasa tidak layak karena (merasa) skill kita tidak sebaik atau jauh di bawah dari apa yang orang lain kira.

Continue reading “Imposter Syndrome”

Satu

Barangkali kita berdua sama-sama tidak pernah menyangka bahwa pertemuan tidak terencana di festival musik jazz akhir tahun 2017 lalu adalah awal dari semua cerita tentang kita. Pun aku menduga, kamu tidak pernah berencana untuk menjalin hubungan denganku dan meresmikannya di awal tahun ini. Bedanya, aku sudah merencanakannya. Sederhana sekali rencananya, sesederhana “semuanya berawal di 2018, kemudian jadian di 2019, setahun pacaran lalu menikah di 2020”. Hal yang sama dengan rencana-rencana lainnya, sederhana namun sering diulang dalam pikiran.

Continue reading “Satu”

On Compatibility

Sejak saya memutuskan akan menikah dengan Aswita awal tahun nanti, banyak sekali pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri. Sebenarnya tanpa perlu menunggu momen nikah-nikahan ini juga saya selalu punya banyak pertanyaan di kepala; hanya saja kali ini substansi pertanyaannya lebih banyak tentang kehidupan dan hubungan-interaksi antar manusia.

Bertanyanya pun bukan dalam konteks meragu seperti yang banyak orang ceritakan di masa menjelang pernikahan, melainkan sekedar memenuhi rasa penasaran saya akan sebuah alasan logis dibalik terjadinya sesuatu.

Ada satu pertanyaan yang menarik saya cukup dalam, yaitu tentang bagaimana saya, justru bisa mantap untuk menetap pada hubungan yang frekuensi interaksinya bisa dibilang tidak seintens hubungan yang sudah-sudah. Bukankah komunikasi-dan-interaksi is the key?

Continue reading “On Compatibility”

Startup Life Is Not For Everyone

After more than 3 years of working in an established company, I moved to a startup with a different industry. It’s been 6 months and all I can say is: It feels like an effing roller coaster.

I still remember the farewell moment back in February, along with the emotions and dilemma I had— the dilemma that I know a lot of people experience: should I stay in this company and chill or jump start my career in the startup universe?

Continue reading “Startup Life Is Not For Everyone”

Masih Tentang Kecemasan

Dari sekian banyak alasan yang ada untuk membuat seseorang cemas atau bahkan stress, saya tertarik dengan salah satu alasan yang dikemukakan oleh Alain de Botton. Menurutnya, salah satu alasan yang paling relevan di era ini adalah melimpahnya peluang untuk sukses.

Suka atau tidak, saat ini kita sedang hidup di era yang penuh dengan kecemasan. Terutama orang-orang yang hidup di kota besar yang serba cepat dan penuh persaingan. Semuanya tegang, gelisah. Sampai muncul sebuah retorik yang menjadi jargon anak muda ibu kota— Apasih yang dicari?

Continue reading “Masih Tentang Kecemasan”

Diskursus Politik

Dari semua hiruk-pikuk tentang pilihan politik kemarin, ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran yang berujung pada riset-riset kecil tentang pilihan-pilihan politik manusia.

Berawal dari kegemasan saya akan fenomena di sekitar, di mana figur yang saya rasa cukup berpendidikan ternyata begitu mudah terbawa oleh opini dan narasi yang dibentuk oleh pihak tertentu.

Dalam riset kecil-kecilan yang saya lakukan selama perjalanan Jakarta-Bandung malam tadi, bisa dipahami bahwa manusia dalam pandangan politik dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok: Konservatif dan Progresif.

Continue reading “Diskursus Politik”

Sometimes leaving is the difficult part

my support system

Yesterday I bade farewell to a bunch of people that I love. I never thought this moment would arrive in my life when I would stand amidst them and deliver my farewell speech. One more old and comfortable piece of my life being taken away. There will be new friends, for sure, but they might never share with me the same fun during lunchtime, the joy of birthday celebrations and skipping meetings to get some snacks downstairs or the anxiety of walking down the hallway when the big bosses were around.

Continue reading “Sometimes leaving is the difficult part”

Mengulas Diri

Saya kira— tidak akan sulit buat manusia yang hidup di era ini untuk menuliskan ulasan tentang apapun itu. Termasuk tentang diri atau pribadi seseorang. Bukankah kolom komentar akun-akun turah selalu penuh sesak dengan ulasan yang seringnya tidak pernah diminta?

Hipokrit dan utopic— begitu katanya. Meski tampil tanpa identitas alias anonim, saya senang sekaligus gusar ketika Desember lalu ada manusia yang meninggalkan ulasan tentang saya di laman ini. Gusar karena kepikiran bagaimana caranya untuk mengelaborasi lebih tentang apa yang dia katakan. Segitu buruknya ya saya?

Maka di awal tahun ini, saya punya ide, apa jadinya kalau saya kumpulkan saja ulasan dari mereka yang hadir di berbagai spektrum kehidupan. Barangkali ada pelajaran yang bisa saya petik— tentu saja ada. Atau bahkan akan ada ulasan-ulasan serupa yang bercerita tentang betapa hipokrit-nya saya atau apapun itu.

Continue reading “Mengulas Diri”

Berhenti Berekspektasi

Bahkan ‘Sakit’ adalah kata pertama dari lirik lagu Ekspektasi milik Kunto Aji.

Jadi suatu sore muncul sebuah pertanyaan dengan kolom jawaban di instastory salah seorang teman. Pertanyaanya seperti ini: What matter the most to you and why. Harusnya ini sederhana, tapi mendadak bodoh aja waktu saya mencoba menjawabnya. Butuh beberapa menit sampai akhirnya bisa menentukan jawaban.

Hope— jawab saya singkat. Because it inspires, leads, directs and moves us to do, to overcome, to believe and accomplish— lanjut saya. Terdengar agak sotoy tapi memang saya selalu berpegang dan percaya akan kekuatan sebuah harapan. Hope will gives us strength. Selalu berharap yang terbaik kan?

Continue reading “Berhenti Berekspektasi”

Berlabuh di Olympus

Memangnya kamera Olympus bagus ya? Kok jarang yang pakai?

Mungkin kamera ini bukan untuk semua orang— bahkan sepertinya ngga banyak yang tau kalau ada kamera dengan merek Olympus. Di atas kertas juga sebenarnya tidak ada yang menonjol dari mirrorless seri EM10 Mark-II ini, tapi percaya deh, ada yang beda ketika kita mulai menggunakannya.

Melihat spesifikasinya, tidak ada yang spesial dari deretan angka di atribut kamera tanpa cermin seri EM10 Mark-II ini: Sensor Micro Four Thirds 16MP dengan sensor Live MOS, TruePic VII processor, 5-axis image stabilization, 2.36M-dot OLED EVF dan 3-inch touchscreen LCD.

Continue reading “Berlabuh di Olympus”