Author: agungagriza

Tokyo: Itinerary

Percaya ngga kalau saya bilang bahwa saya baru bikin itinerary setibanya di Jepang? Satu-satunya saksi hidup ketidaksiapan saya adalah Kak Fiqi yang cuma bisa ketawa-ketawa lihat saya pusing malam-malam mencatat tujuan untuk 7 hari kedepan. Atau beberapa teman kantor yang mungkin sering mergokin saya googling soal Tokyo tanpa menghasilkan satu catatan apapun. Keuntungan buat saya yang sudah sering melakukan perjalanan adalah, setidaksiap apapun itu, pasti ada plan. Termasuk ketika membeli tiket pesawat yang tiba di bandara Haneda, dan pulang melalui bandara Narita. Keputusan itu saja sudah cukup membuat itinerary saya selanjutnya menjadi lebih mudah.

Aesthetics

Dalam beberapa hal, sering saya menemukan anggapan bahwa desain visual sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari user experience (UX). Padahal ketika sebuah organisasi mulai mengadopsi user experience sebagai basis dalam menjalankan atau membangun sebuah produk dan layanan, memahami bahwa sebuah desain visual yang baik dapat mempengaruhi pengalaman pengguna, sangatlah penting untuk mencapai hasil yang luar biasa. Suatu hari di sebuah laman LinkedIn saya menemukan sebuah tulisan dari seorang VP digital experiences sebuah bank, dimana beliau menyatakan kalau visual design is not a user experience. Masih dalam tulisan yang sama, beliau mengutarakan bahwa desain visual hanya berfokus pada tata letak, warna, dan yaa sekedar agar enak dilihat saja— aesthetically pleasing.

Tokyo, Kemarin

Saya kesal setiap ada dari mereka, teman-teman saya, yang selalu mengait-ngaitkan saya dengan Jepang. Kesal karena saya belum jadi-jadi juga ke sana. Setiap dari mereka yang sudah pernah ke Jepang, selalu bilang bahwa Jepang cocok buat saya. Cocok apanya sih?

Design Thinking

Ketika segerombolan millennial dengan label digital savvy tiba-tiba diundang untuk hadir pada sebuah workshop 4 hari dengan tema Design Thinking, yang juga menghadirkan para ibu-bapak yang biasa kami simpan namanya dalam kolom copy di email kantor—muncullah pertanyaan dalam diam— “Kenapa harus Design Thinking?” Ini semua berawal di tahun 1958, tidak lama setelah NASA dibentuk. Seorang Profesor Engineering dari Stanford bernama John Arnold menggagas ide bahwa proses rekayasa desain seharusnya berfokus pada manusia. Saat itu, gagasan ini dianggap cukup nyeleneh—karena pada era perang dingin yang saat itu sedang terjadi, proses desain dan rekayasa produk lebih berfokus pada tujuan utama mereka, yaitu persaingan menuju luar angkasa dan optimalisasi bom hydrogen. Tidak ada unsur manusia-nya sama sekali.

Visa Jepang

Sebagai orang yang malas berurusan dengan birokrasi, hukum dan hal-hal menyebalkan lainnya, mengajukan visa adalah hal yang cukup menegangkan— terlebih karena ini masuk ke ranah hukum internasional. “Caranya gimana sih? Gimana kalau pengajuan visa gue ditolak? Gimana kalau di imigrasi nanti gue ngga diijinin masuk terus dideportasi?” —dan banyak ketakutan lainnya. Surprisingly, pengajuan visa jepang kemarin cukup mudah dan cepat prosesnya. Selain karena proses pengajuannya yang sudah dipindah dari kantor Kedutaan Besar Jepang di Thamrin ke Japan Visa Application Centre (JVAC) di Mal Lotte Shopping Avenue, juga karena syarat dan tata caranya yang tertulis jelas baik di web kedutaan besar Jepang ataupun di web vfs— sebuah perusahaan spesialis layanan Visa dan teknologi terbesar di dunia untuk pemerintah dan misi diplomatik.

Sigma 30mm f/1.4

Sejak memiliki lensa 50mm di tahun 2012 lalu, saya langsung tau bahwa lensa selanjutnya yang akan saya miliki akan selalu lensa dengan fixed focal length, atau yang biasa disebut prime lens. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah focal length berapa yang pas dengan cara atau gaya pengambilan gambar yang sering saya lakukan. Ketika dengan 50mm lalu saya sering merasa terlalu sempit, kemudian 18.5mm di Fujifilm X70 dan 19mm di Sigma Art Lens kadang terasa terlalu lebar, maka saya tau bahwa focal length yang sesuai dengan cara saya mengambil gambar, ada di antara 50mm dan 20mm.

On Marriage

Minggu lalu saya mendapatkan kabar bahagia dari seorang teman tentang dirinya yang akan segera mengakhiri masa lajangnya. Segera disini adalah dalam arti yang sebenarnya yaitu minggu depan. Cerita perjalanan menuju pernikahan seorang teman akan selalu menarik, terlebih teman saya ini adalah sosok yang sangat baik agamanya —dan dia menjalani apa yang disebut ta’aruf dalam menuju pernikahannya ini. Seperti berita pernikahan yang sudah-sudah, saya selalu membuka jalur diskusi dengan, “what makes you tick? kenapa kamu bisa yakin bahwa ini saat yang tepat dan kenapa perempuan ini yang tepat?“

Wrap up

It was a failure. Harus saya akui 2017 lalu tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja karena sepanjang tahun kemarin ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya lakukan tapi nyatanya belum berhasil terwujud. Dan hari pertama di tahun 2018 kemarin adalah momen yang tepat untuk menyadari semua itu; ketika tiba-tiba ingatan tentang kegagalan yang saya alami sepanjang 2017 sepakat menghajar memori saya pagi itu. Sayang mereka datang terlambat.

On Conversation

Maybe we had never met before, maybe we had. We could be complete strangers or long-lost friends. You could be a friend of a friend. And I may be attracted to you, or I may not be. But, if I ask you out for movie or coffee —or even if I just followed your account, it means I find you interesting and it would be my pleasure to engage in sincere human contact over conversation with you.

Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm

Bukan, ini bukan review mirrorless Sony A6000 ataupun Sigma Art Lens 19mm. Kali ini saya hanya akan sedikit berbagi cerita tentang gear yang sekarang menjadi bawaan saya sehari-hari dan beberapa contoh dari hasilnya. Oiya, jadi ceritanya selepas dari sistem Fujifilm, saya beralih ke sistem Sony. Sempat akan mengambil seri RX100 tapi mengingat kejadian kemarin dengan kamera yang tidak dapat diganti lensanya, saya memutuskan untuk mengambil seri A6xxx paling lawas, yaitu A6000.