Startup Life Is Not For Everyone

After more than 3 years of working in an established company, I moved to a startup with a different industry. It’s been 6 months and all I can say is: It feels like an effing roller coaster.

I still remember the farewell moment back in February, along with the emotions and dilemma I had— the dilemma that I know a lot of people experience: should I stay in this company and chill or jump start my career in the startup universe?

Continue reading “Startup Life Is Not For Everyone”

Masih Tentang Kecemasan

Dari sekian banyak alasan yang ada untuk membuat seseorang cemas atau bahkan stress, saya tertarik dengan salah satu alasan yang dikemukakan oleh Alain de Botton. Menurutnya, salah satu alasan yang paling relevan di era ini adalah melimpahnya peluang untuk sukses.

Suka atau tidak, saat ini kita sedang hidup di era yang penuh dengan kecemasan. Terutama orang-orang yang hidup di kota besar yang serba cepat dan penuh persaingan. Semuanya tegang, gelisah. Sampai muncul sebuah retorik yang menjadi jargon anak muda ibu kota— Apasih yang dicari?

Continue reading “Masih Tentang Kecemasan”

Diskursus Politik

Dari semua hiruk-pikuk tentang pilihan politik kemarin, ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran yang berujung pada riset-riset kecil tentang pilihan-pilihan politik manusia.

Berawal dari kegemasan saya akan fenomena di sekitar, di mana figur yang saya rasa cukup berpendidikan ternyata begitu mudah terbawa oleh opini dan narasi yang dibentuk oleh pihak tertentu.

Dalam riset kecil-kecilan yang saya lakukan selama perjalanan Jakarta-Bandung malam tadi, bisa dipahami bahwa manusia dalam pandangan politik dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok: Konservatif dan Progresif.

Continue reading “Diskursus Politik”

Sometimes leaving is the difficult part

my support system

Yesterday I bade farewell to a bunch of people that I love. I never thought this moment would arrive in my life when I would stand amidst them and deliver my farewell speech. One more old and comfortable piece of my life being taken away. There will be new friends, for sure, but they might never share with me the same fun during lunchtime, the joy of birthday celebrations and skipping meetings to get some snacks downstairs or the anxiety of walking down the hallway when the big bosses were around.

Continue reading “Sometimes leaving is the difficult part”

Mengulas Diri

Saya kira— tidak akan sulit buat manusia yang hidup di era ini untuk menuliskan ulasan tentang apapun itu. Termasuk tentang diri atau pribadi seseorang. Bukankah kolom komentar akun-akun turah selalu penuh sesak dengan ulasan yang seringnya tidak pernah diminta?

Hipokrit dan utopic— begitu katanya. Meski tampil tanpa identitas alias anonim, saya senang sekaligus gusar ketika Desember lalu ada manusia yang meninggalkan ulasan tentang saya di laman ini. Gusar karena kepikiran bagaimana caranya untuk mengelaborasi lebih tentang apa yang dia katakan. Segitu buruknya ya saya?

Maka di awal tahun ini, saya punya ide, apa jadinya kalau saya kumpulkan saja ulasan dari mereka yang hadir di berbagai spektrum kehidupan. Barangkali ada pelajaran yang bisa saya petik— tentu saja ada. Atau bahkan akan ada ulasan-ulasan serupa yang bercerita tentang betapa hipokrit-nya saya atau apapun itu.

Continue reading “Mengulas Diri”

Berhenti Berekspektasi

Bahkan ‘Sakit’ adalah kata pertama dari lirik lagu Ekspektasi milik Kunto Aji.

Jadi suatu sore muncul sebuah pertanyaan dengan kolom jawaban di instastory salah seorang teman. Pertanyaanya seperti ini: What matter the most to you and why. Harusnya ini sederhana, tapi mendadak bodoh aja waktu saya mencoba menjawabnya. Butuh beberapa menit sampai akhirnya bisa menentukan jawaban.

Hope— jawab saya singkat. Because it inspires, leads, directs and moves us to do, to overcome, to believe and accomplish— lanjut saya. Terdengar agak sotoy tapi memang saya selalu berpegang dan percaya akan kekuatan sebuah harapan. Hope will gives us strength. Selalu berharap yang terbaik kan?

Continue reading “Berhenti Berekspektasi”

Berlabuh di Olympus

Memangnya kamera Olympus bagus ya? Kok jarang yang pakai?

Mungkin kamera ini bukan untuk semua orang— bahkan sepertinya ngga banyak yang tau kalau ada kamera dengan merek Olympus. Di atas kertas juga sebenarnya tidak ada yang menonjol dari mirrorless seri EM10 Mark-II ini, tapi percaya deh, ada yang beda ketika kita mulai menggunakannya.

Melihat spesifikasinya, tidak ada yang spesial dari deretan angka di atribut kamera tanpa cermin seri EM10 Mark-II ini: Sensor Micro Four Thirds 16MP dengan sensor Live MOS, TruePic VII processor, 5-axis image stabilization, 2.36M-dot OLED EVF dan 3-inch touchscreen LCD.

Continue reading “Berlabuh di Olympus”

Beberapa Hal Belakangan Ini

Belakangan cuaca di Jakarta sedang tidak terlalu panas. Sesekali hujan turun meramaikan jalanan ibu kota, sampai terkadang ia lupa kalau manusianya juga butuh pulang. Bicara soal pulang, beberapa minggu terakhir ini saya hampir selalu menikmati perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Selain karena cuaca yang mendukung, berjalan kaki juga memungkinkan saya untuk mengamati dan merenungkan lebih banyak hal dibanding saat berkendara— meski itu artinya saya harus merelakan sedikit lebih banyak miligram karbon monoksida yang masuk ke rongga pernapasan.

Tahun ini menyisakan kurang dari tiga puluh hari. Sebenarnya banyak yang ingin diceritakan— tentang pilihan-pilihan, tentang perkenalan dan perpisahan, tentang menerima dan merelakan, tentang malam-malam panjang di kedai mie Aceh atau tentang hangatnya perbincangan di salah satu sudut kedai gelato baru-baru ini. Juga tentang pertemuan pertama dengan Manila, Tokyo dan Belitung, tentang hangatnya Yogyakarta dan Surabaya, tentang kontemplatifnya Ubud dan tentu saja Bandung— terlalu banyak, semoga ini mampu merangkum tentang beberapa hal belakangan ini.

Continue reading “Beberapa Hal Belakangan Ini”

Hitam

Kepulan asap rokok milik bapak-bapak paruh baya di depan barusan, mengingatkan saya akan satu hal. Bahwa tanpa sadar, kita sedang berlomba-lomba menuju apa yang biasa disebut dengan kematian. Meski sebenarnya kita tidak akan pernah benar-benar mati— hanya berpindah dari kehidupan sekarang ke kehidupan selanjutnya. Setidaknya itu yang saya yakini. Tapi tetap saja.

Masih dari rumah duka di kisaran Jakarta pusat. Siang tadi tidak seperti biasanya, saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih awal. Setali tiga uang; menghindari hujan dan macet di malam hari, menemani seorang teman yang kebetulan sedang berakhir pekan di Bandung agar tidak menyetir seorang diri dan ingin menyempatkan hadir untuk seorang rekan yang sedang berduka.

Dari sekian banyak agenda hari ini, yang terakhir cukup menguras emosi. Ternyata saya memang selemah itu kalau soal keluarga, terlebih ketika menyangkut perihal kehilangan orang tua. Saya yang mencoba tegar dengan balutan hitam-hitam, runtuh seketika ketika memasuki rumah duka dan menemukan wajah yang tidak asing sedang menangis di depan peti jenazah.

“Yang kuat ya, yang sabar. Boleh sedih, tapi jangan lama-lama”— lirih dalam pelukan. Terdengar kuat dan menguatkan, padahal pengelihatan mulai buram oleh air mata. Lantas bergegas keluar ruangan setelah mencium tangan sang ibu. Tidak lama, sayup-sayup terdengar nyanyian dalam bahasa batak dari dalam ruangan. Mengelilingi jenazah mereka bernyanyi dengan lirik-lirik doa yang menghibur; mungkin juga benar— selayaknya kelahiran, kematian juga patut dirayakan. 

Lalu sembari menatap kepulan asap rokok yang menghilang di langit-langit, saya bertanya dalam diam: kalau tiba saatnya saya nanti, akankah ada yang perduli? Bersedihkah atau sebaliknya?

Apapun, yang penting mohon dimaaf dan doakan.

Resureksi

Belakangan saya sadar akan beberapa hal;

Bahwa apa yang terjadi pada kita —benar-benar— tergantung pada bagaimana kita melihat hidup itu sendiri. Keberpihakan semesta pada kita tergantung bagaimana kita memilih peran dan sudut pandang; optimistis atau pesimistis, positif atau negatif dan berlanjut atau berhenti.

Bahwa hal tersulit ternyata bukanlah bagaimana cara mendapatkan penampilan fisik yang menarik atau bagaimana mendapatkan banyak materi. Bukan juga tentang bagaimana kita mendapatkan sesuatu yang membuat semua orang berdecak kagum. Tapi hal yang paling sulit adalah menjadi manusia yang sederhana, yang baik, yang bisa lempeng aja tanpa envy kanan kiri. Yang paling sulit adalah untuk bisa bersyukur terhadap apapun yang kita miliki, open minded tapi tetap konsisten pada prinsip. Ketika kita bisa hidup tanpa peduli apa kata orang lain; hidup yang tanpa pencitraan.

Lagian bisa bertahan sampai kapan pandangan positif orang lain terhadap kita?