Beberapa Hal Belakangan Ini

Belakangan cuaca di Jakarta sedang tidak terlalu panas. Sesekali hujan turun meramaikan jalanan ibu kota, sampai terkadang ia lupa kalau manusianya juga butuh pulang. Bicara soal pulang, beberapa minggu terakhir ini saya hampir selalu menikmati perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Selain karena cuaca yang mendukung, berjalan kaki juga memungkinkan saya untuk mengamati dan merenungkan lebih banyak hal dibanding saat berkendara— meski itu artinya saya harus merelakan sedikit lebih banyak miligram karbon monoksida yang masuk ke rongga pernapasan.

Tahun ini menyisakan kurang dari tiga puluh hari. Sebenarnya banyak yang ingin diceritakan— tentang pilihan-pilihan, tentang perkenalan dan perpisahan, tentang menerima dan merelakan, tentang malam-malam panjang di kedai mie Aceh atau tentang hangatnya perbincangan di salah satu sudut kedai gelato baru-baru ini. Juga tentang pertemuan pertama dengan Manila, Tokyo dan Belitung, tentang hangatnya Yogyakarta dan Surabaya, tentang kontemplatifnya Ubud dan tentu saja Bandung— terlalu banyak, semoga ini mampu merangkum tentang beberapa hal belakangan ini.

Continue reading “Beberapa Hal Belakangan Ini”

Hitam

Kepulan asap rokok milik bapak-bapak paruh baya di depan barusan, mengingatkan saya akan satu hal. Bahwa tanpa sadar, kita sedang berlomba-lomba menuju apa yang biasa disebut dengan kematian. Meski sebenarnya kita tidak akan pernah benar-benar mati— hanya berpindah dari kehidupan sekarang ke kehidupan selanjutnya. Setidaknya itu yang saya yakini. Tapi tetap saja.

Masih dari rumah duka di kisaran Jakarta pusat. Siang tadi tidak seperti biasanya, saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih awal. Setali tiga uang; menghindari hujan dan macet di malam hari, menemani seorang teman yang kebetulan sedang berakhir pekan di Bandung agar tidak menyetir seorang diri dan ingin menyempatkan hadir untuk seorang rekan yang sedang berduka.

Dari sekian banyak agenda hari ini, yang terakhir cukup menguras emosi. Ternyata saya memang selemah itu kalau soal keluarga, terlebih ketika menyangkut perihal kehilangan orang tua. Saya yang mencoba tegar dengan balutan hitam-hitam, runtuh seketika ketika memasuki rumah duka dan menemukan wajah yang tidak asing sedang menangis di depan peti jenazah.

“Yang kuat ya, yang sabar. Boleh sedih, tapi jangan lama-lama”— lirih dalam pelukan. Terdengar kuat dan menguatkan, padahal pengelihatan mulai buram oleh air mata. Lantas bergegas keluar ruangan setelah mencium tangan sang ibu. Tidak lama, sayup-sayup terdengar nyanyian dalam bahasa batak dari dalam ruangan. Mengelilingi jenazah mereka bernyanyi dengan lirik-lirik doa yang menghibur; mungkin juga benar— selayaknya kelahiran, kematian juga patut dirayakan. 

Lalu sembari menatap kepulan asap rokok yang menghilang di langit-langit, saya bertanya dalam diam: kalau tiba saatnya saya nanti, akankah ada yang perduli? Bersedihkah atau sebaliknya?

Apapun, yang penting mohon dimaaf dan doakan.

Resureksi

Belakangan saya sadar akan beberapa hal;

Bahwa apa yang terjadi pada kita —benar-benar— tergantung pada bagaimana kita melihat hidup itu sendiri. Keberpihakan semesta pada kita tergantung bagaimana kita memilih peran dan sudut pandang; optimistis atau pesimistis, positif atau negatif dan berlanjut atau berhenti.

Bahwa hal tersulit ternyata bukanlah bagaimana cara mendapatkan penampilan fisik yang menarik atau bagaimana mendapatkan banyak materi. Bukan juga tentang bagaimana kita mendapatkan sesuatu yang membuat semua orang berdecak kagum. Tapi hal yang paling sulit adalah menjadi manusia yang sederhana, yang baik, yang bisa lempeng aja tanpa envy kanan kiri. Yang paling sulit adalah untuk bisa bersyukur terhadap apapun yang kita miliki, open minded tapi tetap konsisten pada prinsip. Ketika kita bisa hidup tanpa peduli apa kata orang lain; hidup yang tanpa pencitraan.

Lagian bisa bertahan sampai kapan pandangan positif orang lain terhadap kita?

Tokyo: Itinerary

Percaya ngga kalau saya bilang bahwa saya baru bikin itinerary setibanya di Jepang? Satu-satunya saksi hidup ketidaksiapan saya adalah Kak Fiqi yang cuma bisa ketawa-ketawa lihat saya pusing malam-malam mencatat tujuan untuk 7 hari kedepan. Atau beberapa teman kantor yang mungkin sering mergokin saya googling soal Tokyo tanpa menghasilkan satu catatan apapun.

Keuntungan buat saya yang sudah sering melakukan perjalanan adalah, setidaksiap apapun itu, pasti ada plan. Termasuk ketika membeli tiket pesawat yang tiba di bandara Haneda, dan pulang melalui bandara Narita. Keputusan itu saja sudah cukup membuat itinerary saya selanjutnya menjadi lebih mudah.

Continue reading “Tokyo: Itinerary”

Aesthetics

Dalam beberapa hal, sering saya menemukan anggapan bahwa desain visual sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari user experience (UX). Padahal ketika sebuah organisasi mulai mengadopsi user experience sebagai basis dalam menjalankan atau membangun sebuah produk dan layanan, memahami bahwa sebuah desain visual yang baik dapat mempengaruhi pengalaman pengguna, sangatlah penting untuk mencapai hasil yang luar biasa.

Suatu hari di sebuah laman LinkedIn saya menemukan sebuah tulisan dari seorang VP digital experiences sebuah bank, dimana beliau menyatakan kalau visual design is not a user experience. Masih dalam tulisan yang sama, beliau mengutarakan bahwa desain visual hanya berfokus pada tata letak, warna, dan yaa sekedar agar enak dilihat saja— aesthetically pleasing.

Continue reading “Aesthetics”

Design Thinking

Ketika segerombolan millennial dengan label digital savvy tiba-tiba diundang untuk hadir pada sebuah workshop 4 hari dengan tema Design Thinking, yang juga menghadirkan para ibu-bapak yang biasa kami simpan namanya dalam kolom copy di email kantor—muncullah pertanyaan dalam diam— “Kenapa harus Design Thinking?”

Ini semua berawal di tahun 1958, tidak lama setelah NASA dibentuk. Seorang Profesor Engineering dari Stanford bernama John Arnold menggagas ide bahwa proses rekayasa desain seharusnya berfokus pada manusia. Saat itu, gagasan ini dianggap cukup nyeleneh—karena pada era perang dingin yang saat itu sedang terjadi, proses desain dan rekayasa produk lebih berfokus pada tujuan utama mereka, yaitu persaingan menuju luar angkasa dan optimalisasi bom hydrogen. Tidak ada unsur manusia-nya sama sekali.

Continue reading “Design Thinking”

Visa Jepang

Sebagai orang yang malas berurusan dengan birokrasi, hukum dan hal-hal menyebalkan lainnya, mengajukan visa adalah hal yang cukup menegangkan— terlebih karena ini masuk ke ranah hukum internasional.

“Caranya gimana sih? Gimana kalau pengajuan visa gue ditolak? Gimana kalau di imigrasi nanti gue ngga diijinin masuk terus dideportasi?” —dan banyak ketakutan lainnya.

Surprisingly, pengajuan visa jepang kemarin cukup mudah dan cepat prosesnya. Selain karena proses pengajuannya yang sudah dipindah dari kantor Kedutaan Besar Jepang di Thamrin ke Japan Visa Application Centre (JVAC) di Mal Lotte Shopping Avenue, juga karena syarat dan tata caranya yang tertulis jelas baik di web kedutaan besar Jepang ataupun di web vfs— sebuah perusahaan spesialis layanan Visa dan teknologi terbesar di dunia untuk pemerintah dan misi diplomatik.

Continue reading “Visa Jepang”

Sigma 30mm f/1.4

Sejak memiliki lensa 50mm di tahun 2012 lalu, saya langsung tau bahwa lensa selanjutnya yang akan saya miliki akan selalu lensa dengan fixed focal length, atau yang biasa disebut prime lens. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah focal length berapa yang pas dengan cara atau gaya pengambilan gambar yang sering saya lakukan.

Ketika dengan 50mm lalu saya sering merasa terlalu sempit, kemudian 18.5mm di Fujifilm X70 dan 19mm di Sigma Art Lens kadang terasa terlalu lebar, maka saya tau bahwa focal length yang sesuai dengan cara saya mengambil gambar, ada di antara 50mm dan 20mm.

Continue reading “Sigma 30mm f/1.4”

On Marriage

Minggu lalu saya mendapatkan kabar bahagia dari seorang teman tentang dirinya yang akan segera mengakhiri masa lajangnya. Segera disini adalah dalam arti yang sebenarnya yaitu minggu depan. Cerita perjalanan menuju pernikahan seorang teman akan selalu menarik, terlebih teman saya ini adalah sosok yang sangat baik agamanya —dan dia menjalani apa yang disebut ta’aruf dalam menuju pernikahannya ini.

Seperti berita pernikahan yang sudah-sudah, saya selalu membuka jalur diskusi dengan, “what makes you tick? kenapa kamu bisa yakin bahwa ini saat yang tepat dan kenapa perempuan ini yang tepat? Continue reading “On Marriage”