Sigma 30mm f/1.4

Sejak memiliki lensa 50mm di tahun 2012 lalu, saya langsung tau bahwa lensa selanjutnya yang akan saya miliki akan selalu lensa dengan fixed focal length, atau yang biasa disebut prime lens. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah focal length berapa yang pas dengan cara atau gaya pengambilan gambar yang sering saya lakukan.

Ketika dengan 50mm lalu saya sering merasa terlalu sempit, kemudian 18.5mm di Fujifilm X70 dan 19mm di Sigma Art Lens kadang terasa terlalu lebar, maka saya tau bahwa focal length yang sesuai dengan cara saya mengambil gambar, ada di antara 50mm dan 20mm.

Continue reading “Sigma 30mm f/1.4”

Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm

Sony A6000

Bukan, ini bukan review mirrorless Sony A6000 ataupun Sigma Art Lens 19mm. Kali ini saya hanya akan sedikit berbagi cerita tentang gear yang sekarang menjadi bawaan saya sehari-hari dan beberapa contoh dari hasilnya. Oiya, jadi ceritanya selepas dari sistem Fujifilm, saya beralih ke sistem Sony. Sempat akan mengambil seri RX100 tapi mengingat kejadian kemarin dengan kamera yang tidak dapat diganti lensanya, saya memutuskan untuk mengambil seri A6xxx paling lawas, yaitu A6000.

Continue reading “Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm”

I Ditched My Fujifilm X70

Ragam respon yang saya terima ketika pertama kali mengatakan bahwa saya akan mengganti Fujifilm X70 kesayangan saya dengan kamera lain; mulai dari gelak tawa, sumpah serapah sampai kernyit dahi penuh tanda tanya. Bagaimana tidak, seperti yang pernah saya tulis disini sebelumnya bahwa X70 adalah kamera yang saya beli setelah melalui proses kontemplasi yang cukup panjang yang sampai jauh merambat ke proses mengenal diri sendiri. Begitu jauhnya sampai saya lupa bahwa ini cuma tentang hobi.

Situasi berbanding terbalik ketika saya memutuskan untuk melepaskannya: begitu mudah dan cepat sekali menemukan penggantinya. Singkat cerita, selama kurang lebih delapan bulan penggunaan Fuji X70 kemarin, sering saya temui kondisi-kondisi yang kurang atau di bawah ambang ekspektasi saya. Yang kemudian menimbulkan pertanyaan, “loh kok gini ya?”

Continue reading “I Ditched My Fujifilm X70”

Review Fujifilm X70

(source: mariusmasalar.me)

Setelah sebulan lebih kamera ini berada di tangan —naik turun bukit dan kehujanan, masuk kabin pesawat, jalan-jalan di udara yang panas dan berdebu, berkali-kali masuk kantung celana jins, dan akhirnya jatuh disenggol teman!— sepertinya ini saat yang tepat untuk memberikan review awam Fujifillm X70 ala Agung Agriza.

FYI, Fujifilm X70 ini dirilis pada Februari 2016 lalu bersamaan dengan dirilisnya Fujifilm X-Pro2 yang merupakan kamera dengan segmen kelas profesional, jadi tentu saja bukan tandingan untuk X70. Perbandingan paling masuk akal tentu saja adalah saudara dekatnya yaitu Fujifilm X100T. Selain itu ada juga Ricoh GR II yang di atas kertas lebih pantas disebut sebagai saudara kembar dari X70 —beberapa tahun lalu, saya hampir beli Ricoh GR, lho!

Continue reading “Review Fujifilm X70”

Menemukan Mr.Puttachat

Orang indonesia yang mau pergi backpacking ke Phuket pasti pernah menemukan blog ataupun thread di sebuah forum yang menyebutkan tentang salah satu penduduk Phuket yang juga seorang travel agent yang sudah jadi langganan orang Indonesia, yaitu Mr. Puttachat.

Selain Mr. Puttachat, ada nama-nama lain tapi entah kenapa yang paling banyak disebut adalah Mr. Puttachat. Mungkin karena harganya yang lebih murah dan (katanya) orang baik. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung mencari kontak Mr. Puttachat ini di seantero dunia maya. Anehnya, meski Mr. Puttachat sering disebut-sebut, tapi kontaknya cukup sulit untuk ditemukan.

Continue reading “Menemukan Mr.Puttachat”

About Last Year

Lately, I’ve started each morning by reading my Feedly feed for a while before turning to my work. And just like every first-month on each year, I found recap post or year in review with wishes and resolutions here and there; and I was naturally tempted to make my own.

Long short story, yesterday I woke up and spent the day thinking about how the past 12 months had treated me and what I feel about it. Without the intention to sound cocky whatsoever, here goes the highlight of my 2016 —which most of you might not even be interested in.

Continue reading “About Last Year”

Catering Berrykitchen

Berawal dari beberapa bulan lalu dimana saya mengalami sakit. Bukan sakit ece-ece tapi sakit beneran, melibatkan tiga buah organ pencernaan. Bahkan sampai sekarang pun saya belum tau pasti apa sebenarnya yang terjadi di dalam perut karena saya tidak mengikuti saran dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bandel.

Menurut analisa Mama, tetangga, Dokter, Apoteker, dan semua orang, sakit yang saya alami adalah efek dari pola makan dan kualitas makanan yang buruk; sarapan yang sering terlewat, makan siang sering telat, makan malam yang terlalu malam, rajin makan junk food dan sebagainya. Yha, namanya juga anak kos.

Continue reading “Catering Berrykitchen”

Pebble : First Impression

Paling tidak sampai minggu lalu, saya masih berpendirian bahwa smartwatch itu bukan benda yang cocok buat orang yang ngga pengen ribet seperti saya. Punya satu buah handphone yang perlu di-charge sehari dua kali aja rasanya udah ribet banget, ini mau ditambah untuk ngecharge jam tangan segala?

Kemarin pun awalnya masih agak mikir-mikir ketika mau mengangkut Pebble Classic ke pergelangan tangan menggantikan G-Shock yang sudah agak berumur untuk sementara. Kebayang gimana nanti kalau baterainya habis, karena kabel yang digunakan bukan kabel USB yang biasa digunakan oleh kebanyakan device. Selain itu saya selalu punya pikiran bahwa smartwatch tidak akan pernah tahan terhadap air dan suhu sekuat jam biasa, apalagi G-shock. Was-was.

Continue reading “Pebble : First Impression”

XL Apprentice

Karena belakangan banyak yang bertanya tentang program XL Apprentice, maka saya akan mencoba menceritakan sebenarnya apa itu XL Apprentice dari sudut pandang saya sebagai alumni.

Tepat setahun yang lalu, saya mendapatkan informasi mengenai program XL Apprentice ini dari sahabat saya, karena dia rasa program ini akan cocok dengan saya, begitu katanya. Entah bagaimana, saat itu saya mengamini ucapan sahabat saya itu dan dengan pede-nya langsung mendaftarkan diri melalui email ke bagian HRD. Padahal saya belum lulus.

Tidak lama setelah itu saya mendapatkan undangan melalui email, untuk melakukan tes pertama yaitu Psikotes, Bahasa Inggris, dan (bila lulus) dilanjut dengan FGD (Focus Group Discussion). Saat itu tes dilakukan di Grha XL, Mega Kuningan, Jakarta selatan. Sempat agak kaget ketika ternyata Psikotes yang dilakukan bukanlah Psikotes seperti pada proses seleksi di kebanyakan tempat; tidak ada tes koran, tes menggambar ataupun tes yang memutar-mutar kubus itu, melainkan GMAT (General Management Aptitude Test).

Continue reading “XL Apprentice”

iPhone 5s: Dua Tahun Kemudian

Coba tanya siapapun teman dekat saya semasa kuliah, pasti mereka tau kalau dulu saya pernah menjadi seorang yang skeptis banget sama produk Apple. I was an android fanboy back in 2010 ketika blackberry lagi hype padahal lelet banget, “bagian mana dari blackberry yang smart sampai dia bisa disebut sebuah smartphone?”.

Memasuki masa kuliah, saya menjadi the microsoft-guy, melawan arus android dengan Lumia dan berhasil mempengaruhi beberapa orang untuk pakai Lumia juga. Frustasi dengan segala keterbatasan di Windows phone, dan ngga mau pakai Android yang terlihat “mengerikan”, tahun 2014 akhirnya saya luluh dan pakai produk apple untuk yang pertama kalinya, iPhone 5s. Bangga sih, bukan karena iPhone-nya, tapi karena berhasil beli dengan uang hasil jerih payah sendiri.

Continue reading “iPhone 5s: Dua Tahun Kemudian”