Samsung Galaxy Note 5

Saya baru mulai kepincut dengan smartphone buatan Samsung kira-kira tahun lalu, tepatnya ketika Samsung Galaxy Note 5 diperkenalkan (yang kemudian jatuh cinta ketika Samsung Galaxy S7 diperkenalkan bulan lalu!). Sebelum itu, saya termasuk orang yang skeptis dengan smartphone Samsung, selain karena kualitasnya yang menurut saya biasa aja, juga karena harganya yang relatif overpriced. Tapi apa yang dilakukan oleh Samsung pada Galaxy Note 5 sepertinya mulai menggoyahkan skeptisme saya pada smartphone pabrikan Korea selatan itu.

Continue reading “Samsung Galaxy Note 5”

Movie : Spotlight

Dalam satu bulan terakhir, saya menyempatkan untuk menonton tiga buah film yang diputar di bioskop. Sayangnya, dua film pertama yang saya tonton ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. A Copy of My Mind dan Deadpool, meski kedua film ini laris manis di linimasa twitter, saya kok kurang suka ya dengan film karya Joko Anwar itu, begitu juga dengan Deadpool, keduanya terasa biasa banget untuk ukuran film yang ditunggu-tunggu kehadirannya di layar lebar. Kemudian karena saya masih merasa butuh asupan akan film bagus, saya akhirnya kembali lagi ke bioskop untuk menonton film yang ketiga bulan ini: Spotlight.

Continue reading “Movie : Spotlight”

Young Leaders for Indonesia (YLI)

Ini salah satu proyek ambisius saya waktu kuliah. Jadi ceritanya, sejak SMA saya semacam menjadikan beberapa orang sebagai role-model. Orang-orang ini menurut saya hebat dengan caranya masing-masing, usianya rata-rata beda dua-tiga tahun diatas, dan saya menemukan mereka ini begitu saja, lewat blognya masing-masing misalnya. Salah satu dari mereka sebut saja Johan.

Continue reading “Young Leaders for Indonesia (YLI)”

Schneider Electric Campus Ambassador (IV)

Di tulisan Tentang Menjadi Schneider Electric Campus Ambassador (I) saya bilang bahwa ada 3 alasan yang bikin saya tertarik untuk daftar menjadi Schneider Electric Campus Ambassador. Saya baru ingat, ternyata ada satu lagi alasan yang belum saya sebutkan disana, yaitu logo. Iya, saya suka logonya, logo Schneider Electric Campus Ambassador. Logo seharga sepuluh juta rupiah itu. Tau darimana sepuluh juta? Rahasia.

Continue reading “Schneider Electric Campus Ambassador (IV)”

Fokus

Demi meningkatkan produktifitas dan tetap menjaga agar otak tetap fit, mulai akhir tahun kemarin saya mulai membuat challenge atau resolusi yang bersifat pribadi, maupun yang melibatkan orang lain. Biar rame aja sih, karena entah bagaimana kalau ada orang yang sama-sama mengejar suatu hal yang sama dengan saya, biasanya saya akan menjadi lebih bersemangat. Sama-sama mengejar wanita yang sama misalnya, apalagi kalau ngejarnya bareng teman atau sahabat. Krik.

Continue reading “Fokus”

Schneider Electric Campus Ambassador (III)

By default, saya adalah orang yang optimis. Saya orang yang selalu yakin bahwa semuanya akan berjalan baik, lancar, dan berhasil —Apalagi kalau sesuatu itu, saya yang menyelesaikannya—. Saya selalu melihat sisi baik dari setiap hal yang terjadi. Bahkan ketika terjadi sesuatu yang tidak baik, saya selalu berusaha mencari sisi baiknya. Positivity, kalau kata Tom Rath dalam bukunya, Strength Finder 2.0.

Continue reading “Schneider Electric Campus Ambassador (III)”

Schneider Electric Campus Ambassador (II)

“Dim, aku lanjut ngga ya?”

“Lanjut, Gung, tanggung sudah sejauh ini. Coba dulu lah”

Waktu itu saya lagi kerja praktek di Telkom Indonesia, bareng dimas. Dan mungkin udah lebih dari lima kali percakapan kayak gitu terjadi diantara kita. Dan Dimas, dengan sabarnya selalu bilang, “lanjut Gung, sudah sejauh ini, tanggung..”

Jadi ceritanya, setelah dapat surat rekomendasi dari Kaprodi, saya langsung daftar via email. Gampang sih, cuma CV sama surat rekomendasi aja. Kemudian datanglah panggilan untuk Focus Group Discussion (FGD) di ITB. Dari sini saya masih pede, karena pikiran saya saat itu tidak akan terlalu banyak yang daftar. Ternyata banyak. Mam-pus.

Continue reading “Schneider Electric Campus Ambassador (II)”

Schneider Electric Campus Ambassador (I)

“Mas ambas” is kind of nickname yang bikin saya kesal sekaligus bikin beban tiap mendengarnya. Menurut saya itu alay, maksudnya, panggilan “mas ambas” itu. Entah siapa yang pertama kali memulainya, but it went viral at that time. Iya, saya dipanggil dan dikenal sebagai mas ambas, sejak terpilih jadi Schneider Electric Campus Ambassador semester 7 lalu bersama 12 mahasiswa dari berbagai macam universitas di Indonesia —di pulau Jawa lebih tepatnya.

Continue reading “Schneider Electric Campus Ambassador (I)”