All posts filed under: Review

iphone 5s dua tahun kemudian

iPhone 5s: Dua Tahun Kemudian

Coba tanya siapapun teman dekat saya semasa kuliah, pasti mereka tau kalau dulu saya pernah menjadi seorang yang skeptis banget sama produk Apple. I was an android fanboy back in 2010 ketika blackberry lagi hype padahal lelet banget, “bagian mana dari blackberry yang smart sampai dia bisa disebut sebuah smartphone?”. Memasuki masa kuliah, saya menjadi the microsoft-guy, melawan arus android dengan Lumia dan berhasil mempengaruhi beberapa orang untuk pakai Lumia juga. Frustasi dengan segala keterbatasan di Windows phone, dan ngga mau pakai Android yang terlihat “mengerikan”, tahun 2014 akhirnya saya luluh dan pakai produk apple untuk yang pertama kalinya, iPhone 5s. Bangga sih, bukan karena iPhone-nya, tapi karena berhasil beli dengan uang hasil jerih payah sendiri.

Samsung Galaxy S7

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka dengan smartphone berukuran besar, jadi walaupun kemarin akhirnya kepincut dengan Galaxy Note 5, dalam hati sebenarnya masih berharap ada versi kecil dari seri note kelima itu. Nah, bulan Februari kemarin dalam event MWC di Barcelona, Samsung untuk pertama kalinya memperkenalkan Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge. Awalnya dalam bayangan saya sih, Samsung Galaxy S7 ini akan lebih mirip dengan seri pendahulunya, Samsung Galaxy S6, tapi ternyata Samsung Galaxy S7 justru mengusung desain yang sama dengan Samsung Galaxy Note 5 —mulai dari material metal and glass yang digunakan, sampai desain ergonomis-nya— tapi dengan performa yang jauh lebih baik. Iya, itu artinya, harapan saya akan kemunculan versi kecil Note 5 jadi kenyataan.

Samsung Galaxy Note 5

Saya baru mulai kepincut dengan smartphone buatan Samsung kira-kira tahun lalu, tepatnya ketika Samsung Galaxy Note 5 diperkenalkan (yang kemudian jatuh cinta ketika Samsung Galaxy S7 diperkenalkan bulan lalu!). Sebelum itu, saya termasuk orang yang skeptis dengan smartphone Samsung, selain karena kualitasnya yang menurut saya biasa aja, juga karena harganya yang relatif overpriced. Tapi apa yang dilakukan oleh Samsung pada Galaxy Note 5 sepertinya mulai menggoyahkan skeptisme saya pada smartphone pabrikan Korea selatan itu.

Movie : Spotlight

Dalam satu bulan terakhir, saya menyempatkan untuk menonton tiga buah film yang diputar di bioskop. Sayangnya, dua film pertama yang saya tonton ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. A Copy of My Mind dan Deadpool, meski kedua film ini laris manis di linimasa twitter, saya kok kurang suka ya dengan film karya Joko Anwar itu, begitu juga dengan Deadpool, keduanya terasa biasa banget untuk ukuran film yang ditunggu-tunggu kehadirannya di layar lebar. Kemudian karena saya masih merasa butuh asupan akan film bagus, saya akhirnya kembali lagi ke bioskop untuk menonton film yang ketiga bulan ini: Spotlight.

Young Leaders for Indonesia (YLI)

Ini salah satu proyek ambisius saya waktu kuliah. Jadi ceritanya, sejak SMA saya semacam menjadikan beberapa orang sebagai role-model. Orang-orang ini menurut saya hebat dengan caranya masing-masing, usianya rata-rata beda dua-tiga tahun diatas, dan saya menemukan mereka ini begitu saja, lewat blognya masing-masing misalnya. Salah satu dari mereka sebut saja Johan.

Schneider Electric Campus Ambassador (IV)

Di tulisan Tentang Menjadi Schneider Electric Campus Ambassador (I) saya bilang bahwa ada 3 alasan yang bikin saya tertarik untuk daftar menjadi Schneider Electric Campus Ambassador. Saya baru ingat, ternyata ada satu lagi alasan yang belum saya sebutkan disana, yaitu logo. Iya, saya suka logonya, logo Schneider Electric Campus Ambassador. Logo seharga sepuluh juta rupiah itu. Tau darimana sepuluh juta? Rahasia.

focus

Fokus

Demi meningkatkan produktifitas dan tetap menjaga agar otak tetap fit, mulai akhir tahun kemarin saya mulai membuat challenge atau resolusi yang bersifat pribadi, maupun yang melibatkan orang lain. Biar rame aja sih, karena entah bagaimana kalau ada orang yang sama-sama mengejar suatu hal yang sama dengan saya, biasanya saya akan menjadi lebih bersemangat. Sama-sama mengejar wanita yang sama misalnya, apalagi kalau ngejarnya bareng teman atau sahabat. Krik.

Schneider Electric Campus Ambassador (III)

By default, saya adalah orang yang optimis. Saya orang yang selalu yakin bahwa semuanya akan berjalan baik, lancar, dan berhasil —Apalagi kalau sesuatu itu, saya yang menyelesaikannya—. Saya selalu melihat sisi baik dari setiap hal yang terjadi. Bahkan ketika terjadi sesuatu yang tidak baik, saya selalu berusaha mencari sisi baiknya. Positivity, kalau kata Tom Rath dalam bukunya, Strength Finder 2.0.

Schneider Electric Campus Ambassador (II)

“Dim, aku lanjut ngga ya?” “Lanjut, Gung, tanggung sudah sejauh ini. Coba dulu lah” Waktu itu saya lagi kerja praktek di Telkom Indonesia, bareng dimas. Dan mungkin udah lebih dari lima kali percakapan kayak gitu terjadi diantara kita. Dan Dimas, dengan sabarnya selalu bilang, “lanjut Gung, sudah sejauh ini, tanggung..” Jadi ceritanya, setelah dapat surat rekomendasi dari Kaprodi, saya langsung daftar via email. Gampang sih, cuma CV sama surat rekomendasi aja. Kemudian datanglah panggilan untuk Focus Group Discussion (FGD) di ITB. Dari sini saya masih pede, karena pikiran saya saat itu tidak akan terlalu banyak yang daftar. Ternyata banyak. Mam-pus.

Schneider Electric Campus Ambassador (I)

“Mas ambas” is kind of nickname yang bikin saya kesal sekaligus bikin beban tiap mendengarnya. Menurut saya itu alay, maksudnya, panggilan “mas ambas” itu. Entah siapa yang pertama kali memulainya, but it went viral at that time. Iya, saya dipanggil dan dikenal sebagai mas ambas, sejak terpilih jadi Schneider Electric Campus Ambassador semester 7 lalu bersama 12 mahasiswa dari berbagai macam universitas di Indonesia —di pulau Jawa lebih tepatnya.