Eps. 25

Today, I just want to let you know that I’m proud of you. Not because of the things that people compliment you on from what they can see of you, but because of those that they don’t see. Those things that matter the most, and yet no one ever noticed and complimented on.

For being so responsible in facing all the decisions that you have picked in your life despite the fact that many of them look more like a mess now. For being so strong in adapting to your problems and trying to solve them all alone. Nobody realises what things you have been through.

Continue reading “Eps. 25”

Tentang Millennials

millennials

“Gue ngga suka sama anak-anak millennials, belagu banget!”

Di sebuah perusahaan yang berada di industri yang sudah mapan, gencar —atau latah?— menggunakan istilah ‘Millennials’ sebagai apa yang saya anggap propaganda, biasanya akan berdampak pada banyaknya gesekan-gesekan yang disebabkan oleh ketidakpahaman akan makna millennials itu sendiri. Era keterbukaan dan (ehem) area kerja yang terbuka nyatanya tidak serta merta membuat mereka yang merasa ‘bukan millennials’ menjadi sedikit lebih millennials, atau setidaknya sedikit lebih terbuka dengan hadirnya para millennials.

Continue reading “Tentang Millennials”

Mimpi Seperempat Abad

Pembangunan tol sumatera

Indonesia bukan cuma Jakarta, bukan juga cuma pulau Jawa. Di usia saya yang mendekati seperempat abad ini, akhirnya saya merasa mulai adanya pemerataan yang —meskipun belum signifikan— tapi mulai terlihat hasilnya. Pemerintah sudah mulai bergerak, sekarang pertanyaannya, kita —yang katanya generasi paling kreatif— sudah mulai apa?

Saya selalu diingatkan untuk tidak merendahkan mimpi dan diri saya sendiri dengan hanya bermimpi untuk bisa hidup nyaman sambil duduk di balik layar monitor di suatu sudut ruangan berpendingin. Atau jangan-jangan angan kita sebatas ribuan likes dan followers di media sosial? Ngg— itu sih terlalu rendah dan terlampau mudah bagi kita yang lahir dan hidup di negara sebesar Indonesia. Walaupun bagi sebagian orang mungkin jawabannya akan semudah “kenapa tidak?”

Continue reading “Mimpi Seperempat Abad”

Yang Menarik Dengan Oppo dan Vivo

source: gadgetmatch.com

Berawal dari sebuah pencarian yang saya lakukan tentang smartphone android yang sekiranya bisa menggantikan iPhone 5s yang sudah berusia hampir 3 tahun ini, saya menemukan beberapa hal yang menarik mengenai dua brand smartphone yang bisa dibilang anak baru, tapi pencapaiannya sudah sangat luar biasa, yaitu Oppo dan Vivo.

Oppo dan Vivo merupakan brand smartphone yang berasal dari China, dan pada dasarnya kedua brand tersebut berasal dari induk yang sama, yaitu BBK. Jadi jangan heran kalau desain dan fitur dari smartphone besutan kedua brand ini mirip-mirip, ibarat Xenia dan Avanza.

Continue reading “Yang Menarik Dengan Oppo dan Vivo”

Budak Kapitalis

Beberapa hari yang lalu ketika sedang berkunjung ke Surabaya, saya sempat berdiskusi tentang pekerjaan dan karir dengan seseorang yang cukup dekat dengan saya. Dalam diskusi tersebut ia mengutip saran yang diterimanya tentang betapa perlunya ia untuk masuk ke dalam sebuah perusahaan —apapun itu, untuk mengalami apa yang disebut bekerja untuk orang lain dan merasakan “nikmatnya” berada di ujung terbawah rantai korporasi sebagai sarana untuk mengembangkan diri.

Memang bukan itu cara satu-satunya untuk mengembangkan diri selepas dunia kampus, sebagai anak muda yang tumbuh pada generasi ini, rasanya kini kita punya lebih banyak opsi untuk mengembangkan potensi diri. Tapi kali ini saya menanggapinya dengan mengangguk setuju, karna saya pun mengambil jalan itu; menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar, dan memulainya dengan masuk ke lantai paling dasar dalam sebuah hirarki korporasi. Karena buat saya, memang itu yang saya perlukan.

Continue reading “Budak Kapitalis”

Tentang Memilih Kamera (II)

Setelah melalui proses pencarian selama beberapa minggu, akhirnya pilihan saya jatuh pada Fujifilm X70; sebuah kamera yang justru tidak pernah masuk dalam daftar kamera untuk dipertimbangkan sebelumnya. Bahkan salah seorang teman sempat merespon dengan “Gue ngga nyangka akhirnya lo beli kamera ini, Gung, kayak bukan lo banget..” yang kemudian saya respon dengan tawa —“Justru gue rasa, ini kamera gue banget.”

Bahwa kita harus mengenal diri sendiri dulu sebelum orang lain itu benar adanya. Dalam kasus memilih kamera, ketika kita mengenali siapa dan apa yang akan kita lakukan dengan si kamera, dan mampu berdamai dengan ambisi, semuanya jadi lebih mudah. Bukan karena teman atau bisikan penjaga toko kamera —saran tentu ditampung, tapi keputusan tetap ada di tangan si calon pengguna kamera, kan?

Continue reading “Tentang Memilih Kamera (II)”

Tentang Memilih Kamera

Suatu hari saya pernah bilang ke teman saya, bahwa ada beberapa benda yang saya miliki, yang ketika ingin membelinya, saya tidak akan pernah main-main melakukan riset untuk kemudian memutuskan memilikinya —duh, diksi. Salah satunya adalah kamera. Memang bukan fotografer beneran sih, tapi proses membekukan momen dalam frame kamera itu menyenangkan buat saya.

Jadi ceritanya, satu-dua tahun kebalakang saya mulai merasa bahwa kamera yang saya miliki saat ini —Canon EOS 60D— terasa terlalu besar dan berat. Agak risih bawa-bawa barang sebesar itu, ditambah dengan beberapa lensa yang juga berat. Semakin terasa ketika sedang traveling atau di tempat yang ramai. Engga heran ketika saya memutuskan untuk pakai iPhone di tahun 2014, si 60D makin jarang keluar rumah.

Continue reading “Tentang Memilih Kamera”

Berhenti Sejenak

Setidaknya dalam satu tahun kebelakang, saya tidak pernah merasa sesehat ini. Selalu bersyukur meski untuk mencapai kondisi ini saya harus dipaksa istirahat dan berhenti dari segala aktifitas selama lebih dari 10 hari, plus menelan 6 buah pil obat dalam sehari untuk beberapa bulan kedepan.

Padahal ya, dari jaman kuliah dulu, saya termasuk orang yang percaya bahwa terkadang kita memang perlu berhenti sejenak dari segala rutinitas dan aktifitas. Yang kemudian semua itu perlahan terlupakan seiring terlalu asiknya rutinitas di kantor. Eh ladalah akhirnya tubuh memaksa saya untuk berhenti biar saya sadar.

Continue reading “Berhenti Sejenak”

Murmuring

I think about finding that elusive balance between the past and the future.

Lean back, and I find myself swamped in what has already happened. Regret, remorse, guilt, sorrow, grief —whatever the emotional residue may be. I go there again and again, even though going there changes nothing.

When I lean forward, into the future, I am also off-balance. Hope, fear, excitement, anxiety, grasping —I go there too. I go there again and again, even though going there also changes nothing. I cannot control the future any more than I can change the past.

Continue reading “Murmuring”

Why I Unfollowed You

Sometimes I unfollow people on Instagram, Twitter, or Path. I do it, you do it —we all do it. Otherwise imagine how long it would take you to scroll through your Instagram feed every day? But, last week I managed to make someone completely lose their mind, just by deciding I didn’t want to follow them any more. (S)he is not the first one.

Actually, I don’t remember what it was that made me decide to unfollow that person, but I do know it wouldn’t have been anything personal, because it never is.

Continue reading “Why I Unfollowed You”