Aesthetics

Dalam beberapa hal, sering saya menemukan anggapan bahwa desain visual sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari user experience (UX). Padahal ketika sebuah organisasi mulai mengadopsi user experience sebagai basis dalam menjalankan atau membangun sebuah produk dan layanan, memahami bahwa sebuah desain visual yang baik dapat mempengaruhi pengalaman pengguna, sangatlah penting untuk mencapai hasil yang luar biasa.

Suatu hari di sebuah laman LinkedIn saya menemukan sebuah tulisan dari seorang VP digital experiences sebuah bank, dimana beliau menyatakan kalau visual design is not a user experience. Masih dalam tulisan yang sama, beliau mengutarakan bahwa desain visual hanya berfokus pada tata letak, warna, dan yaa sekedar agar enak dilihat saja— aesthetically pleasing.

Continue reading “Aesthetics”

Design Thinking

Ketika segerombolan millennial dengan label digital savvy tiba-tiba diundang untuk hadir pada sebuah workshop 4 hari dengan tema Design Thinking, yang juga menghadirkan para ibu-bapak yang biasa kami simpan namanya dalam kolom copy di email kantor—muncullah pertanyaan dalam diam— “Kenapa harus Design Thinking?”

Ini semua berawal di tahun 1958, tidak lama setelah NASA dibentuk. Seorang Profesor Engineering dari Stanford bernama John Arnold menggagas ide bahwa proses rekayasa desain seharusnya berfokus pada manusia. Saat itu, gagasan ini dianggap cukup nyeleneh—karena pada era perang dingin yang saat itu sedang terjadi, proses desain dan rekayasa produk lebih berfokus pada tujuan utama mereka, yaitu persaingan menuju luar angkasa dan optimalisasi bom hydrogen. Tidak ada unsur manusia-nya sama sekali.

Continue reading “Design Thinking”

On Marriage

Minggu lalu saya mendapatkan kabar bahagia dari seorang teman tentang dirinya yang akan segera mengakhiri masa lajangnya. Segera disini adalah dalam arti yang sebenarnya yaitu minggu depan. Cerita perjalanan menuju pernikahan seorang teman akan selalu menarik, terlebih teman saya ini adalah sosok yang sangat baik agamanya —dan dia menjalani apa yang disebut ta’aruf dalam menuju pernikahannya ini.

Seperti berita pernikahan yang sudah-sudah, saya selalu membuka jalur diskusi dengan, “what makes you tick? kenapa kamu bisa yakin bahwa ini saat yang tepat dan kenapa perempuan ini yang tepat? Continue reading “On Marriage”

Wrap up

It was a failure. Harus saya akui 2017 lalu tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja karena sepanjang tahun kemarin ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya lakukan tapi nyatanya belum berhasil terwujud. Dan hari pertama di tahun 2018 kemarin adalah momen yang tepat untuk menyadari semua itu; ketika tiba-tiba ingatan tentang kegagalan yang saya alami sepanjang 2017 sepakat menghajar memori saya pagi itu. Sayang mereka datang terlambat.

Continue reading “Wrap up”

On Conversation

Maybe we had never met before, maybe we had. We could be complete strangers or long-lost friends. You could be a friend of a friend. And I may be attracted to you, or I may not be. But, if I ask you out for movie or coffee —or even if I just followed your account, it means I find you interesting and it would be my pleasure to engage in sincere human contact over conversation with you.

Continue reading “On Conversation”

Eps. 25

Today, I just want to let you know that I’m proud of you. Not because of the things that people compliment you on from what they can see of you, but because of those that they don’t see. Those things that matter the most, and yet no one ever noticed and complimented on.

For being so responsible in facing all the decisions that you have picked in your life despite the fact that many of them look more like a mess now. For being so strong in adapting to your problems and trying to solve them all alone. Nobody realises what things you have been through.

Continue reading “Eps. 25”

Tentang Millennials

millennials

“Gue ngga suka sama anak-anak millennials, belagu banget!”

Di sebuah perusahaan yang berada di industri yang sudah mapan, gencar —atau latah?— menggunakan istilah ‘Millennials’ sebagai apa yang saya anggap propaganda, biasanya akan berdampak pada banyaknya gesekan-gesekan yang disebabkan oleh ketidakpahaman akan makna millennials itu sendiri. Era keterbukaan dan (ehem) area kerja yang terbuka nyatanya tidak serta merta membuat mereka yang merasa ‘bukan millennials’ menjadi sedikit lebih millennials, atau setidaknya sedikit lebih terbuka dengan hadirnya para millennials.

Continue reading “Tentang Millennials”

Mimpi Seperempat Abad

Pembangunan tol sumatera

Indonesia bukan cuma Jakarta, bukan juga cuma pulau Jawa. Di usia saya yang mendekati seperempat abad ini, akhirnya saya merasa mulai adanya pemerataan yang —meskipun belum signifikan— tapi mulai terlihat hasilnya. Pemerintah sudah mulai bergerak, sekarang pertanyaannya, kita —yang katanya generasi paling kreatif— sudah mulai apa?

Saya selalu diingatkan untuk tidak merendahkan mimpi dan diri saya sendiri dengan hanya bermimpi untuk bisa hidup nyaman sambil duduk di balik layar monitor di suatu sudut ruangan berpendingin. Atau jangan-jangan angan kita sebatas ribuan likes dan followers di media sosial? Ngg— itu sih terlalu rendah dan terlampau mudah bagi kita yang lahir dan hidup di negara sebesar Indonesia. Walaupun bagi sebagian orang mungkin jawabannya akan semudah “kenapa tidak?”

Continue reading “Mimpi Seperempat Abad”

Budak Kapitalis

Beberapa hari yang lalu ketika sedang berkunjung ke Surabaya, saya sempat berdiskusi tentang pekerjaan dan karir dengan seseorang yang cukup dekat dengan saya. Dalam diskusi tersebut ia mengutip saran yang diterimanya tentang betapa perlunya ia untuk masuk ke dalam sebuah perusahaan —apapun itu, untuk mengalami apa yang disebut bekerja untuk orang lain dan merasakan “nikmatnya” berada di ujung terbawah rantai korporasi sebagai sarana untuk mengembangkan diri.

Memang bukan itu cara satu-satunya untuk mengembangkan diri selepas dunia kampus, sebagai anak muda yang tumbuh pada generasi ini, rasanya kini kita punya lebih banyak opsi untuk mengembangkan potensi diri. Tapi kali ini saya menanggapinya dengan mengangguk setuju, karna saya pun mengambil jalan itu; menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar, dan memulainya dengan masuk ke lantai paling dasar dalam sebuah hirarki korporasi. Karena buat saya, memang itu yang saya perlukan.

Continue reading “Budak Kapitalis”

Tentang Memilih Kamera (II)

Setelah melalui proses pencarian selama beberapa minggu, akhirnya pilihan saya jatuh pada Fujifilm X70; sebuah kamera yang justru tidak pernah masuk dalam daftar kamera untuk dipertimbangkan sebelumnya. Bahkan salah seorang teman sempat merespon dengan “Gue ngga nyangka akhirnya lo beli kamera ini, Gung, kayak bukan lo banget..” yang kemudian saya respon dengan tawa —“Justru gue rasa, ini kamera gue banget.”

Bahwa kita harus mengenal diri sendiri dulu sebelum orang lain itu benar adanya. Dalam kasus memilih kamera, ketika kita mengenali siapa dan apa yang akan kita lakukan dengan si kamera, dan mampu berdamai dengan ambisi, semuanya jadi lebih mudah. Bukan karena teman atau bisikan penjaga toko kamera —saran tentu ditampung, tapi keputusan tetap ada di tangan si calon pengguna kamera, kan?

Continue reading “Tentang Memilih Kamera (II)”