Murmuring

I think about finding that elusive balance between the past and the future.

Lean back, and I find myself swamped in what has already happened. Regret, remorse, guilt, sorrow, grief —whatever the emotional residue may be. I go there again and again, even though going there changes nothing.

When I lean forward, into the future, I am also off-balance. Hope, fear, excitement, anxiety, grasping —I go there too. I go there again and again, even though going there also changes nothing. I cannot control the future any more than I can change the past.

Continue reading “Murmuring”

Why I Unfollowed You

Sometimes I unfollow people on Instagram, Twitter, or Path. I do it, you do it —we all do it. Otherwise imagine how long it would take you to scroll through your Instagram feed every day? But, last week I managed to make someone completely lose their mind, just by deciding I didn’t want to follow them any more. (S)he is not the first one.

Actually, I don’t remember what it was that made me decide to unfollow that person, but I do know it wouldn’t have been anything personal, because it never is.

Continue reading “Why I Unfollowed You”

MNGKN

Di tahun ini untuk pertama kalinya saya datang ke pernikahan tanpa ditemani orang tua atau kakak saya, yang artinya, itu adalah pernikahan teman saya. Kabar baiknya, semakin kesini semakin banyak teman saya yang mulai memantapkan pilihannya pada seseorang, yang lagi-lagi membuat saya penasaran, bagaimana bisa semudah itu untuk mengambil keputusan besar seperti sebuah pernikahan?

Enggak, sih, enggak semudah itu, saya tau kebanyakan dari mereka yang sudah menikah ataupun tunangan bukanlah pasangan kemarin sore. Paling tidak sudah saling kenal atau bahkan menjalin hubungan lebih dari 3 tahun, bahkan 6 atau 7 tahun. Maka tentu saja, saya ikut berbahagia.

Continue reading “MNGKN”

24

“Agung tahun ini ulang tahun yang keberapa, sih?”

Kadang saya heran, mama itu pura-pura ngga tau apa gimana ya. Masa kemarin bilang saya lahir tanggal 18, padahal jelas-jelas sekeluarga semua lahir kelipatan lima, dan seingat saya sih, dulu mama yang pertama kali mendeklarasikan “Eh eh, kita semua lahir kelipatan lima, lho..” Terus kalau pas ngisi form keluarga untuk urusan administrasi sepertinya hafal. Yasudala, mungkin Mama gengsi kalau ketawan dia ingat ulang tahun saya HMMM.

Anyway, kalau rencana saya berhasil, tulisan ini akan di-publish ketika saya sedang berada di Phuket, Thailand. Semacam birthday-trip yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak lama. Awalnya ini akan menjadi semacam solo-birthday-trip, tapi ternyata terendus juga sama satu, kemudian jadi dua, dan akhirnya tiga orang teman saya.

Continue reading “24”

Istighfar

Jadi ceritanya, kalau saya ngga langsung sholat pas denger adzan, Mama selalu nyuruh saya istighfar. Tapi entah kenapa tiap saya istighfar Kakak saya malah ketawa dan si Mama juga ikutan mau ketawa. Mungkin karena saya istighfar-nya dengan muka datar tanpa merasa dosa. Entahlah.

  • Mama: Sholat dulu udah adzan, istighfar, banyak setannya kalau males gitu
  • Saya: *sambil main game* Astaghfirullahaladzim..
  • Mbak Rin: Hahahahaha

Nah, karena saking seringnya Mama nyuruh saya istighfar, saya sering ngeledek Mama sambil becanda, “iya-iyaa tapi ya masa dikit-dikit istighfar, Ma”, yang kemudian disusul tawa kakak saya.

Continue reading “Istighfar”

Setahun kerja, ngapain aja? (II)

Sebelum baca ini, ada baiknya baca “Setahun kerja, ngapain aja” bagian pertama.

Jadi di bulan kedua atau ketiga saya melakoni peran saya sebagai Apprentice, saya mulai merasa jenuh, lalu timbul pertanyaan “Masa kuliah susah-payah, kerjanya cuma gini doang sih?”. Semacam merasa di-sia-sia-kan, karena sebenarnya saya bisa melakukan lebih dari sekedar apa yang ditugaskan ke saya saat itu. Dilema first-jobber yaa, gitu.

Continue reading “Setahun kerja, ngapain aja? (II)”

The Paradox of Choice

One thing I learned in my second year of living alone in this big city is that too many options will make you exhausted.

On what to wear today, should I drive or just ride Ojek, what Ojek should I call; Uber, Grab or Gojek, what to eat for breakfast, for lunch, for dinner and much more.

The fact that those choices will unconsciously consume our energy is real. As a result, decision fatigue will occur and reduce the quality of our other decisions. For me, it often leads to decision avoidance. Words like terserah, up to you, or whatever are my arsenal.

That’s why Zuckerberg and many successful people have limited fashion options. They don’t want to make decisions about what they’re eating or wearing. They believe that one less irrelevant decision in the morning leads to better decisions on things that really matter. Yha, maybe I should try to cut down the volume of my clothing.

“Why are you so hard to eat, huh? There are a lot of food stalls around your area, isn’t it?”

Eat is another thing. I found out that it’s so dang hard to decide what to eat even there are dozens of food stalls, cafes, and restaurants around my pad. And it’s getting harder when there’s no one to help me to decide; it often leads to eat nothing. That’s why I have an Indigestion cry

Some say that having more choices are better, but my experience proved otherwise. It also happened in business; from my observation in office, when we offer a large number of choices, customers are successfully attracted, but when it comes to make a purchase, too many options lead to fewer sales.

That’s it, the paradox of choice.

 

Tentang sebuah kehadiran

Bulan Agustus lalu Mama akhirnya berangkat untuk menunaikan ibadah haji, sendirian. Iya sendirian, dan selalu jengkel ketika ada yang bertanya, “kenapa kok ngga ditemenin Mama-nya?” seakan-akan saya anaknya ngga mau banget direpotin untuk sekedar menemani Mama berangkat haji.

Bukan perkara mau atau tidak, tapi memang aturannya tidak semudah itu; ingin menggantikan “jatah” almarhum Papa itu ngga bisa, tetep saya harus antri; 13 tahun.

Satu hal yang saya sadari dari kepergian Mama untuk menunaikan haji kemarin adalah meski sudah sebesar ini, saya tetaplah anak Mama yang paling cengeng. Kadang saya sibuk cari pembenaran, bahwa ini bukan cengeng, tapi memang perasaan saya mudah tersentuh, sensitif; atau karena memang saya punya hati yang terlalu lembut HAHA.

Saya ingat ketika kecil saya selalu minta dibacakan dongeng atau cerita oleh Papa sebelum tidur. Dan suatu hari, stok buku maupun cerita Papa sudah habis, sedangkan saya tetap merengek minta diceritakan sebuah cerita. Alhasil, Papa mengarang cerita, dengan tokoh utamanya adalah saya sendiri.

Dalam cerita itu dikisahkan bahwa saya adalah anak yang nakal, yang entah kenapa suatu hari ditinggal Mama pergi jauh. Tebak apa yang terjadi? Saya mendengarkan cerita itu sambil menangis sampai tertidur cry

Banyak sekali kejadian dimana saya menangis ketika tidak mendapati kehadiran Mama di dekat saya. Tapi yang kemarin ini berbeda, saya menangis bukan lagi karena ketidak hadiran Mama, melainkan karena ketidak mampuan saya untuk hadir disana.

Mungkin itu juga alasan kenapa saya selalu dan selalu mengusahakan untuk sebisa mungkin pulang ke rumah di Bandung setiap ada kesempatan; Sesederhana tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak meluangkan waktu lebih banyak dengan Mama dan adik selagi bisa.

Begitulah.

 

Setahun kerja, ngapain aja?

Satu-dua tahun yang lalu saat masih kuliah, rasanya ingin sekali cepet lulus. Ingin cepat masuk ke dunia kerja meski sebenarnya was-was juga penasaran: sebenarnya kerja itu ngapain aja sih? Takut ngga bisa, takut terlihat bodoh, takut dimarahi bos kayak di film-film, takut kena pecat, dan sebagainya. Tapi ternyata, bekerja tidak semenyeramkan itu. Bahkan cenderung seru dan menyenangkan. Setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

Continue reading “Setahun kerja, ngapain aja?”