Tentang Memilih Kamera (II)

Setelah melalui proses pencarian selama beberapa minggu, akhirnya pilihan saya jatuh pada Fujifilm X70; sebuah kamera yang justru tidak pernah masuk dalam daftar kamera untuk dipertimbangkan sebelumnya. Bahkan salah seorang teman sempat merespon dengan “Gue ngga nyangka akhirnya lo beli kamera ini, Gung, kayak bukan lo banget..” yang kemudian saya respon dengan tawa —“Justru gue rasa, ini kamera gue banget.”

Bahwa kita harus mengenal diri sendiri dulu sebelum orang lain itu benar adanya. Dalam kasus memilih kamera, ketika kita mengenali siapa dan apa yang akan kita lakukan dengan si kamera, dan mampu berdamai dengan ambisi, semuanya jadi lebih mudah. Bukan karena teman atau bisikan penjaga toko kamera —saran tentu ditampung, tapi keputusan tetap ada di tangan si calon pengguna kamera, kan?

Continue reading “Tentang Memilih Kamera (II)”

Tentang Memilih Kamera

Suatu hari saya pernah bilang ke teman saya, bahwa ada beberapa benda yang saya miliki, yang ketika ingin membelinya, saya tidak akan pernah main-main melakukan riset untuk kemudian memutuskan memilikinya —duh, diksi. Salah satunya adalah kamera. Memang bukan fotografer beneran sih, tapi proses membekukan momen dalam frame kamera itu menyenangkan buat saya.

Jadi ceritanya, satu-dua tahun kebalakang saya mulai merasa bahwa kamera yang saya miliki saat ini —Canon EOS 60D— terasa terlalu besar dan berat. Agak risih bawa-bawa barang sebesar itu, ditambah dengan beberapa lensa yang juga berat. Semakin terasa ketika sedang traveling atau di tempat yang ramai. Engga heran ketika saya memutuskan untuk pakai iPhone di tahun 2014, si 60D makin jarang keluar rumah.

Continue reading “Tentang Memilih Kamera”

Berhenti Sejenak

Setidaknya dalam satu tahun kebelakang, saya tidak pernah merasa sesehat ini. Selalu bersyukur meski untuk mencapai kondisi ini saya harus dipaksa istirahat dan berhenti dari segala aktifitas selama lebih dari 10 hari, plus menelan 6 buah pil obat dalam sehari untuk beberapa bulan kedepan.

Padahal ya, dari jaman kuliah dulu, saya termasuk orang yang percaya bahwa terkadang kita memang perlu berhenti sejenak dari segala rutinitas dan aktifitas. Yang kemudian semua itu perlahan terlupakan seiring terlalu asiknya rutinitas di kantor. Eh ladalah akhirnya tubuh memaksa saya untuk berhenti biar saya sadar.

Continue reading “Berhenti Sejenak”

Murmuring

I think about finding that elusive balance between the past and the future.

Lean back, and I find myself swamped in what has already happened. Regret, remorse, guilt, sorrow, grief —whatever the emotional residue may be. I go there again and again, even though going there changes nothing.

When I lean forward, into the future, I am also off-balance. Hope, fear, excitement, anxiety, grasping —I go there too. I go there again and again, even though going there also changes nothing. I cannot control the future any more than I can change the past.

Continue reading “Murmuring”

Why I Unfollowed You

Sometimes I unfollow people on Instagram, Twitter, or Path. I do it, you do it —we all do it. Otherwise imagine how long it would take you to scroll through your Instagram feed every day? But, last week I managed to make someone completely lose their mind, just by deciding I didn’t want to follow them any more. (S)he is not the first one.

Actually, I don’t remember what it was that made me decide to unfollow that person, but I do know it wouldn’t have been anything personal, because it never is.

Continue reading “Why I Unfollowed You”

MNGKN

Di tahun ini untuk pertama kalinya saya datang ke pernikahan tanpa ditemani orang tua atau kakak saya, yang artinya, itu adalah pernikahan teman saya. Kabar baiknya, semakin kesini semakin banyak teman saya yang mulai memantapkan pilihannya pada seseorang, yang lagi-lagi membuat saya penasaran, bagaimana bisa semudah itu untuk mengambil keputusan besar seperti sebuah pernikahan?

Enggak, sih, enggak semudah itu, saya tau kebanyakan dari mereka yang sudah menikah ataupun tunangan bukanlah pasangan kemarin sore. Paling tidak sudah saling kenal atau bahkan menjalin hubungan lebih dari 3 tahun, bahkan 6 atau 7 tahun. Maka tentu saja, saya ikut berbahagia.

Continue reading “MNGKN”

24

“Agung tahun ini ulang tahun yang keberapa, sih?”

Kadang saya heran, mama itu pura-pura ngga tau apa gimana ya. Masa kemarin bilang saya lahir tanggal 18, padahal jelas-jelas sekeluarga semua lahir kelipatan lima, dan seingat saya sih, dulu mama yang pertama kali mendeklarasikan “Eh eh, kita semua lahir kelipatan lima, lho..” Terus kalau pas ngisi form keluarga untuk urusan administrasi sepertinya hafal. Yasudala, mungkin Mama gengsi kalau ketawan dia ingat ulang tahun saya HMMM.

Anyway, kalau rencana saya berhasil, tulisan ini akan di-publish ketika saya sedang berada di Phuket, Thailand. Semacam birthday-trip yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak lama. Awalnya ini akan menjadi semacam solo-birthday-trip, tapi ternyata terendus juga sama satu, kemudian jadi dua, dan akhirnya tiga orang teman saya.

Continue reading “24”

Istighfar

Jadi ceritanya, kalau saya ngga langsung sholat pas denger adzan, Mama selalu nyuruh saya istighfar. Tapi entah kenapa tiap saya istighfar Kakak saya malah ketawa dan si Mama juga ikutan mau ketawa. Mungkin karena saya istighfar-nya dengan muka datar tanpa merasa dosa. Entahlah.

  • Mama: Sholat dulu udah adzan, istighfar, banyak setannya kalau males gitu
  • Saya: *sambil main game* Astaghfirullahaladzim..
  • Mbak Rin: Hahahahaha

Nah, karena saking seringnya Mama nyuruh saya istighfar, saya sering ngeledek Mama sambil becanda, “iya-iyaa tapi ya masa dikit-dikit istighfar, Ma”, yang kemudian disusul tawa kakak saya.

Continue reading “Istighfar”

Setahun kerja, ngapain aja? (II)

Sebelum baca ini, ada baiknya baca “Setahun kerja, ngapain aja” bagian pertama.

Jadi di bulan kedua atau ketiga saya melakoni peran saya sebagai Apprentice, saya mulai merasa jenuh, lalu timbul pertanyaan “Masa kuliah susah-payah, kerjanya cuma gini doang sih?”. Semacam merasa di-sia-sia-kan, karena sebenarnya saya bisa melakukan lebih dari sekedar apa yang ditugaskan ke saya saat itu. Dilema first-jobber yaa, gitu.

Continue reading “Setahun kerja, ngapain aja? (II)”

The Paradox of Choice

One thing I learned in my second year of living alone in this big city is that too many options will make you exhausted.

On what to wear today, should I drive or just ride Ojek, what Ojek should I call; Uber, Grab or Gojek, what to eat for breakfast, for lunch, for dinner and much more.

The fact that those choices will unconsciously consume our energy is real. As a result, decision fatigue will occur and reduce the quality of our other decisions. For me, it often leads to decision avoidance. Words like terserah, up to you, or whatever are my arsenal.

Continue reading “The Paradox of Choice”