All posts filed under: Thoughts

On Being an Xtra Achiever

I note this as a special occasion post, so I will do it in English. It was last Friday when my uh-so-great-and-lovely team was gathered to something called Uncommon Friday meet up. Basically, Uncommon Friday was HR program which used to happen every month, but I don’t know, seems like they don’t run it anymore, no?

Setahun kerja, ngapain aja?

Satu-dua tahun yang lalu saat masih kuliah, rasanya ingin sekali cepet lulus. Ingin cepat masuk ke dunia kerja meski sebenarnya was-was juga penasaran: sebenarnya kerja itu ngapain aja sih? Takut ngga bisa, takut terlihat bodoh, takut dimarahi bos kayak di film-film, takut kena pecat, dan sebagainya. Tapi ternyata, bekerja tidak semenyeramkan itu. Bahkan cenderung seru dan menyenangkan. Setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

Mudik

Akhirnya mudik, lagi! Setelah dua tahun belakangan saya sekeluarga vakum melakukan ritual mudik ke Sumatera, alhamdulillah tahun ini kami diberikan rezeki dan kesempatan lagi untuk mudik asik ke Desa kelahiran Mama. Bersemangat dan akan selalu begitu setiap akan berangkat. Entahlah, saya dan kedua saudara saya sejak kecil selalu bersemangat ketika tahu bahwa kami akan melakukan perjalan mudik sekeluarga. Meski pada akhirnya kami sama-sama tahu, sebagai anak yang lahir dan tumbuh di kota, tinggal selama kurang lebih seminggu di sebuah desa yang panas dan jauh dari mana-mana dan tentu saja minim akses internet, bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. Alhasil, mana pernah kami betah berlama-lama disana.

Kostan 101 : Jakarta Selatan

Setelah dalam tiga bulan terakhir saya sudah dua kali pindah kostan, akhirnya saya sadar bahwa mencari kost-kostan itu bukan perkara mudah. Semua orang juga tahu bahwa mencari tempat tinggal, baik rumah ataupun kostan atau apapun itu pada dasarnya akan menjadi mudah ketika sumber daya yang kita miliki lebih leluasa, misalnya uang. Sayangnnya sebagai anak baru Jakarta, saya belum seleluasa itu. Kemudian yang membuat segalanya makin rumit adalah sebagai orang Bandung yang biasa mendapatkan udara sejuk, saya ngga pernah bisa tahan dengan panasnya udara Ibu Kota sehingga menuntut saya untuk memiliki tempat tinggal dengan fasilitas pendingin ruangan, itu artinya saya juga tidak mungkin mengambil kostan dengan harga sekedarnya.

Menemukan (Buku) Yang Tepat

Sejak kecil saya selalu menuliskan ‘membaca’ pada setiap kolom formulir yang menanyakan tentang hobi. Meski saat itu saya belum betul paham apakah kegiatan membuka-buka koran untuk melihat gambar-gambar besar penuh warna dari sebuah iklan dan beberapa kolom editorial, juga menikmati komik Captain Tsubasa, Dragon Ball, dan Kungfu Komang bisa ditulis sebagai hobi membaca. Yang saya tahu, itu menyenangkan. Duduk di bangku Sekolah Mengengah Pertama, saya mulai kenal dengan yang namanya Novel. Kakak saya yang mengenalkannya, awalnya saya tidak tertarik, karena apa asiknya membaca buku yang tidak ada gambarnya. Lalu kemudian ada satu kalimat dari Papa yang masih saya ingat sampai sekarang sebagai jawaban atas pertanyaan saya diatas; bahwa dengan novel, kita lah yang membuat gambarnya sendiri, otak kita akan berimajinasi tanpa batas. Imajinasi tanpa batas.

Well-Scripted

Bulan April lalu saya dipromosikan ke tempat yang baru di kantor, dan surprisingly, saya malah ketemu dengan seseorang yang menjadi teman pertama saya di bangku Sekolah Dasar dulu, yaitu Nashif. Jadi ceritanya, dulu saya sempat bersekolah di kota Malang walaupun cuma sebatas satu caturwulan atau kurang lebih tiga bulan. Dan di sekolah itu lah saya bertemu Nashif, dan kita duduk sebangku. Salah satu alasan yang bikin saya selalu ingat tentang dia adalah dia teman pertama saya dan dia adalah seorang bule. Lalu satu-satunya foto kenangan di sekolah itu hanyalah foto kami berdua saat sedang mewarnai, dan dulu, Mama sering banget nanya, “Temen kamu yang bule itu kok namanya Nasib, sih?”

Perbendaan dan Pilihan dalam kesendirian

Judulnya lebay sih, tapi baiklah. My favorite things aren’t things anymore. Ada tipe orang yang senang mengumpulkan barang-barang. Segala yang dia inginkan akan segera dibeli. Stress sedikit lari ke pusat perbelanjaan dengan dalih refreshing. Yang berlabel diskon pasti dibeli meski seringnya tidak terlalu butuh. Sejujurnya, saya pernah menjadi orang itu. Tapi ada masanya ketika kita sadar bahwa apa yang pernah kita lakukan itu sebenarnya kurang tepat menurut pribadi kita; tidak sejalan dengan value yang kita pegang, ngga cocok dengan visi kita kedepannya. Dan buat saya, saat itu adalah saat ketika saya mulai hidup sendirian.

Berjalan Lebih Cepat

Orang Indonesia itu jalannya lambat banget, klemar-klemer kalau kata orang jawa. Cuma di Jakarta yang menurut saya manusia-nya punya kecepatan jalan yang lumayan, apalagi kalau di jam berangkat kerja. Beberapa bahkan sampai emosi ketika orang di depan menghalangi laju kaki, padahal kan ngga gitu juga, mbak (sengaja pakai ‘mbak’ soalnya yang gampang emosian di jalur pedestrian biasanya mbak-mbak kantoran).

Lelaki Instagram

Jadi sejak setahun kebelakang memang saya sudah berencana untuk rutin nge-gym, mengingat satu-satunya cara menaikkan berat badan saya agar mencapai berat badan ideal adalah melalui olah raga beban. Beberapa kali juga sudah sempat ikutan, walaupun konsistensi saya masih dipertanyakan. Dalam beberapa kali kesempatan, saya selalu menyempatkan untuk bertanya mengenai preferensi badan ideal seorang laki-laki dari sudut pandang perempuan. Yang saya tanyai, tentu saja para perempuan. Tau hasilnya apa? Mayoritas mereka ngga terlalu suka dengan pria berbadan kekar, apalagi kalau gambar badannya diedarkan di mana-mana; Instagram misalnya, banyak banget kan udah kayak pepes. Mending pepes di bungkus daun pisang, lah ini, nyaris telanjang.

Dear tumblr,

Belakangan aku selalu mengawali sebuah tulisan dengan kata ‘Dear’ terlebih bila itu ditujukan untuk seseorang. Meski benci untuk mengakui, iya, itu budaya korporasi yang semakin melekat dalam keseharianku. Dear tumblr,  Kemarin-kemarin rasanya kamu ramai dibicarakan di berbagai media online di negeri ini. Katanya kamu akan diblokir. Aku marah, lalu aku hubungi orang yang berwenang dalam hal blokir-blokiran ini. Tidak lama, isu itu pun dicabut. Kamu tau mblr? Isu itu bukan dicabut, tapi dipending, bahkan kemungkinan kedepannya tidak hanya kamu, tapi juga teman-temanmu berkesempatan untuk diblokir.  Aku mau ngebelain kamu tapi rasanya percuma, toh aku juga sudah jarang nulis disini. Tapi aku yakin masih banyak yang butuh kamu kok, mblr. Dan kamu harus tau, sebulan sebelum isu pemblokiran itu muncul aku sudah migrasi ke thursdaytalk.in mblr, seolah aku tahu kamu akan diblokir sebulan kemudian. Sampai adira (yang juga sudah pindah karena ajakanku) sempat bilang bahwa ini adalah kepindahan di waktu yang tepat, aku tersenyum. Konten-konten disini juga sudah aku backup, meski tidak akan aku hapus. Kamu, tidak akan aku hapus, Mblr. Tidak akan pernah. Mblr, sekarang …