Bermotor ke Bromo

Emang bisa? —adalah satu dari sekian banyak respon yang muncul setiap saya bilang akan ke Gunung Bromo naik motor. “Berdua aja?”, “Kenapa ngga naik mobil aja?”, “Dibegal nanti, lho!” dan “Mending jangan” adalah respon lanjutan setelah saya mencoba meyakinkan mereka bahwa saya akan melakukannya. “Kalau dari malang sih gapapa” —engga, kami akan berangkat dari Surabaya.

Berawal dari celetukan teman saya beberapa bulan lalu tentang keinginannya untuk ke Gunung Bromo yang langsung saya respon dengan “Yuk, kapan?” —tipikal saya banget yang ngga pakai babibu langsung ‘Ayo’. Yang akhirnya terealisasi juga akhir bulan lalu.

Continue reading “Bermotor ke Bromo”

Menemukan Mr.Puttachat

Orang indonesia yang mau pergi backpacking ke Phuket pasti pernah menemukan blog ataupun thread di sebuah forum yang menyebutkan tentang salah satu penduduk Phuket yang juga seorang travel agent yang sudah jadi langganan orang Indonesia, yaitu Mr. Puttachat.

Selain Mr. Puttachat, ada nama-nama lain tapi entah kenapa yang paling banyak disebut adalah Mr. Puttachat. Mungkin karena harganya yang lebih murah dan (katanya) orang baik. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung mencari kontak Mr. Puttachat ini di seantero dunia maya. Anehnya, meski Mr. Puttachat sering disebut-sebut, tapi kontaknya cukup sulit untuk ditemukan.

Continue reading “Menemukan Mr.Puttachat”

Naik Bus Malam ke Kuala Lumpur

Ini semua berawal dari sebuah pertanyaan tentang bagaimana caranya bisa berada di Singapura dan Malaysia dalam dua hari tanpa mengeluarkan budget untuk menginap. Dan ternyata caranya cukup mudah, yaitu dengan meninggalkan Singapura di malam hari dengan overnight bus, dan tiba di Kuala Lumpur pagi hari-nya.

Sebenarnya dari berbagai referensi yang saya baca, katanya ada kereta tidur atau sleeper train dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur seperti yang ada di India. Sayangnya sekarang kereta itu sudah ngga ada, sedih banget. Jadi mau ngga mau harus naik bus. Tapi tenang aja, karena ternyata bus malam di Malaysia itu nyaman banget dan ngga kebut-kebutan kaya bus malam di Indonesia.

Continue reading “Naik Bus Malam ke Kuala Lumpur”

The SGD 50 Trip

Saya sering ditanyai oleh saudara maupun teman perihal budget yang harus dipersiapkan untuk menikmati Singapura. Padahal saya juga baru sekali ke Singapura, itupun dibayarin sebuah perusahaan. Cie gitu.

Jadi ketika kemarin saya berkesempatan mampir kesana lagi, saya bikin semacam challenge; cuma berbekal selembar 50 dollar singapura untuk seharian menikmati Singapura. Ya sih, seyakin-yakinnya akan cukup memang, mengingat SGD 50 itu cukup banyak untuk seorang diri; tapi cukup untuk apa?

Continue reading “The SGD 50 Trip”

Sebuah Rencana

Entah suatu hari di bulan apa saya lupa, saya memutuskan untuk pergi ke Thailand di bulan November tahun ini —sendirian. Setelah mencari berbagai referensi baik cetak maupun digital, akhirnya saya memutuskan akan ke Bangkok sambil mampir sebentar ke Singapura. (1)

Maret 2016. Dalam sebuah percakapan hangat di sebuah kafe di kota Bandung, tercetus sebuah keinginan untuk pergi ke Thailand oleh Annisaa, yang tetiba membuat bibir saya gatal sekali ingin menyahut, “Yuk!” saat itu juga. Tapi saya urungkan, karena niatnya kan sendirian; dan juga karena alasan lain tentunya HEHE.

Dalam sebuah percakapan digital lainnya beberapa saat setelah itu, akhirnya saya membisikkan rencana trip ke Thailand saya ke Annisaa, dan kami sepakat bahwa ini tidak akan sekedar wacana. (2)

Continue reading “Sebuah Rencana”

Glamping di Trizara Resort

Okay, this will be a quick post.

Belakangan kata-kata Glamping atau Glamour Camping ini lagi sering banget terdengar di sela-sela percakapan, apalagi di Jakarta yang mayoritas masyarakatnya haus akan penyegaran setelah 5 hari sibuk muter-muter di Ibu kota yang penuh dengan polusi. Nah, kebetulan minggu lalu saya berkesempatan untuk mencoba Glamping di salah satu resort penyedia kemping mewah ini di Lembang, yaitu Trizara Resort.

Continue reading “Glamping di Trizara Resort”

Pertemuan Pertama dengan Singapura

Kemarin sempat kumpul bareng teman-teman kuliah dan dari sekian banyak hal yang kita bahas, yang paling lama dan seru bahasannya adalah tentang jalan-jalan —karena memang itu sih tujuan kita kumpul.

Singapura, Malaysia, Thailand, paspor, visa dan segala hal tentang sebuah perjalanan kita obrolin. Satu hal yang pasti setiap membicarakan sebuah perjalanan adalah semangat. Entahlah, baik saya maupun teman-teman saya juga merasakan hal yang sama, tetiba excited yang berujung ngga bisa tidur.

Seketika saya jadi ingat dan melipir kangen sama negeri singa di seberang sana. Terus baru sadar juga ternyata belum ada postingan tentang Singapura disini. Jadi.. baiklah, mari kita ingat-ingat tentang Singapura.

Continue reading “Pertemuan Pertama dengan Singapura”

Gunung Prau, Dieng

Sebenarnya mendaki gunung itu bukan sebuah kegiatan yang gue banget. Tapi karena selepas kuliah kemarin saya punya target untuk bisa menikmati pantai, lautan, sekaligus gunung sebelum benar-benar tidak bisa, maka naik gunung pun saya jabanin. Tepat seminggu setelah saya bermain air di pantai dan laut di kepulauan seribu, saya pergi ke dieng, gunung Prau, tanpa cuti.

Continue reading “Gunung Prau, Dieng”

Mekkah, First Impression

Sewaktu di Madinah, saya sempat ngobrol panjang lebar dengan seorang guru geografi dari Mesir. Kami bicara banyak hal, dan dia sempat bilang bahwa dia senang bisa ngobrol sama saya. Meskipun bahasa inggrisnya pas-pasan, setidaknya dia jauh lebih fasih dibanding anak muda Aljazair yang saya temui di Masjid Nabawi. Dia cerita banyak, salah satunya tentang Mekkah. Jadi sebelum ke Madinah, dia sudah lebih dahulu ke Mekkah. Setelah dia tau bahwa keesokan harinya saya akan berangkat ke Mekkah, dia bilang gini, “Madinah is beautiful, very beautiful, more than Mekkah”.

Continue reading “Mekkah, First Impression”

Umrah dan Madinah

Sepeninggalan papa tahun lalu kemarin, mama langsung bikin statement kalau kita akan pergi umrah sekeluarga. Isu ini memang beberapa kali muncul pada sesi-sesi diskusi ringan keluarga waktu papa masih ada. Tapi seringnya cuma jadi wacana karena dengan berbagai pertimbangan. Kemarin, mama langsung memutuskan bahwa kami harus umrah tahun itu juga, “mumpung rejekinya masih ada” kata mama. Selain itu, biar kami juga bisa mendoakan papa disana.

Continue reading “Umrah dan Madinah”