Why I Unfollowed You

Sometimes I unfollow people on Instagram, Twitter, or Path. I do it, you do it —we all do it. Otherwise imagine how long it would take you to scroll through your Instagram feed every day? But, last week I managed to make someone completely lose their mind, just by deciding I didn’t want to follow them any more. (S)he is not the first one.

Actually, I don’t remember what it was that made me decide to unfollow that person, but I do know it wouldn’t have been anything personal, because it never is.

Read More

MNGKN

Di tahun ini untuk pertama kalinya saya datang ke pernikahan tanpa ditemani orang tua atau kakak saya, yang artinya, itu adalah pernikahan teman saya. Kabar baiknya, semakin kesini semakin banyak teman saya yang mulai memantapkan pilihannya pada seseorang, yang lagi-lagi membuat saya penasaran, bagaimana bisa semudah itu untuk mengambil keputusan besar seperti sebuah pernikahan?

Enggak, sih, enggak semudah itu, saya tau kebanyakan dari mereka yang sudah menikah ataupun tunangan bukanlah pasangan kemarin sore. Paling tidak sudah saling kenal atau bahkan menjalin hubungan lebih dari 3 tahun, bahkan 6 atau 7 tahun. Maka tentu saja, saya ikut berbahagia.

Read More

Naik Bus Malam ke Kuala Lumpur

Ini semua berawal dari sebuah pertanyaan tentang bagaimana caranya bisa berada di Singapura dan Malaysia dalam dua hari tanpa mengeluarkan budget untuk menginap. Dan ternyata caranya cukup mudah, yaitu dengan meninggalkan Singapura di malam hari dengan overnight bus, dan tiba di Kuala Lumpur pagi hari-nya.

Sebenarnya dari berbagai referensi yang saya baca, katanya ada kereta tidur atau sleeper train dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur seperti yang ada di India. Sayangnya sekarang kereta itu sudah ngga ada, sedih banget. Jadi mau ngga mau harus naik bus. Tapi tenang aja, karena ternyata bus malam di Malaysia itu nyaman banget dan ngga kebut-kebutan kaya bus malam di Indonesia.

Read More

The SGD 50 Trip

Saya sering ditanyai oleh saudara maupun teman perihal budget yang harus dipersiapkan untuk menikmati Singapura. Padahal saya juga baru sekali ke Singapura, itupun dibayarin sebuah perusahaan. Cie gitu.

Jadi ketika kemarin saya berkesempatan mampir kesana lagi, saya bikin semacam challenge; cuma berbekal selembar 50 dollar singapura untuk seharian menikmati Singapura. Ya sih, seyakin-yakinnya akan cukup memang, mengingat SGD 50 itu cukup banyak untuk seorang diri; tapi cukup untuk apa?

Read More

Sebuah Rencana

Entah suatu hari di bulan apa saya lupa, saya memutuskan untuk pergi ke Thailand di bulan November tahun ini —sendirian. Setelah mencari berbagai referensi baik cetak maupun digital, akhirnya saya memutuskan akan ke Bangkok sambil mampir sebentar ke Singapura. (1)

Maret 2016. Dalam sebuah percakapan hangat di sebuah kafe di kota Bandung, tercetus sebuah keinginan untuk pergi ke Thailand oleh Annisaa, yang tetiba membuat bibir saya gatal sekali ingin menyahut, “Yuk!” saat itu juga. Tapi saya urungkan, karena niatnya kan sendirian; dan juga karena alasan lain tentunya HEHE.

Dalam sebuah percakapan digital lainnya beberapa saat setelah itu, akhirnya saya membisikkan rencana trip ke Thailand saya ke Annisaa, dan kami sepakat bahwa ini tidak akan sekedar wacana. (2)

Read More

24

“Agung tahun ini ulang tahun yang keberapa, sih?”

Kadang saya heran, mama itu pura-pura ngga tau apa gimana ya. Masa kemarin bilang saya lahir tanggal 18, padahal jelas-jelas sekeluarga semua lahir kelipatan lima, dan seingat saya sih, dulu mama yang pertama kali mendeklarasikan “Eh eh, kita semua lahir kelipatan lima, lho..” Terus kalau pas ngisi form keluarga untuk urusan administrasi sepertinya hafal. Yasudala, mungkin Mama gengsi kalau ketawan dia ingat ulang tahun saya HMMM.

Anyway, kalau rencana saya berhasil, tulisan ini akan di-publish ketika saya sedang berada di Phuket, Thailand. Semacam birthday-trip yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak lama. Awalnya ini akan menjadi semacam solo-birthday-trip, tapi ternyata terendus juga sama satu, kemudian jadi dua, dan akhirnya tiga orang teman saya.

Read More

Istighfar

Jadi ceritanya, kalau saya ngga langsung sholat pas denger adzan, Mama selalu nyuruh saya istighfar. Tapi entah kenapa tiap saya istighfar Kakak saya malah ketawa dan si Mama juga ikutan mau ketawa. Mungkin karena saya istighfar-nya dengan muka datar tanpa merasa dosa. Entahlah.

  • Mama: Sholat dulu udah adzan, istighfar, banyak setannya kalau males gitu
  • Saya: *sambil main game* Astaghfirullahaladzim..
  • Mbak Rin: Hahahahaha

Nah, karena saking seringnya Mama nyuruh saya istighfar, saya sering ngeledek Mama sambil becanda, “iya-iyaa tapi ya masa dikit-dikit istighfar, Ma”, yang kemudian disusul tawa kakak saya.

Read More

Setahun kerja, ngapain aja? (II)

Sebelum baca ini, ada baiknya baca “Setahun kerja, ngapain aja” bagian pertama.

Jadi di bulan kedua atau ketiga saya melakoni peran saya sebagai Apprentice, saya mulai merasa jenuh, lalu timbul pertanyaan “Masa kuliah susah-payah, kerjanya cuma gini doang sih?”. Semacam merasa di-sia-sia-kan, karena sebenarnya saya bisa melakukan lebih dari sekedar apa yang ditugaskan ke saya saat itu. Dilema first-jobber yaa, gitu.

Read More

The Paradox of Choice

One thing I learned in my second year of living alone in this big city is that too many options will make you exhausted.

On what to wear today, should I drive or just ride Ojek, what Ojek should I call; Uber, Grab or Gojek, what to eat for breakfast, for lunch, for dinner and much more.

The fact that those choices will unconsciously consume our energy is real. As a result, decision fatigue will occur and reduce the quality of our other decisions. For me, it often leads to decision avoidance. Words like terserah, up to you, or whatever are my arsenal.

That’s why Zuckerberg and many successful people have limited fashion options. They don’t want to make decisions about what they’re eating or wearing. They believe that one less irrelevant decision in the morning leads to better decisions on things that really matter. Yha, maybe I should try to cut down the volume of my clothing.

“Why are you so hard to eat, huh? There are a lot of food stalls around your area, isn’t it?”

Eat is another thing. I found out that it’s so dang hard to decide what to eat even there are dozens of food stalls, cafes, and restaurants around my pad. And it’s getting harder when there’s no one to help me to decide; it often leads to eat nothing. That’s why I have an Indigestion cry

Some say that having more choices are better, but my experience proved otherwise. It also happened in business; from my observation in office, when we offer a large number of choices, customers are successfully attracted, but when it comes to make a purchase, too many options lead to fewer sales.

That’s it, the paradox of choice.