Sebuah Rencana

Entah suatu hari di bulan apa saya lupa, saya memutuskan untuk pergi ke Thailand di bulan November tahun ini —sendirian. Setelah mencari berbagai referensi baik cetak maupun digital, akhirnya saya memutuskan akan ke Bangkok sambil mampir sebentar ke Singapura. (1)

Maret 2016. Dalam sebuah percakapan hangat di sebuah kafe di kota Bandung, tercetus sebuah keinginan untuk pergi ke Thailand oleh Annisaa, yang tetiba membuat bibir saya gatal sekali ingin menyahut, “Yuk!” saat itu juga. Tapi saya urungkan, karena niatnya kan sendirian; dan juga karena alasan lain tentunya HEHE.

Dalam sebuah percakapan digital lainnya beberapa saat setelah itu, akhirnya saya membisikkan rencana trip ke Thailand saya ke Annisaa, dan kami sepakat bahwa ini tidak akan sekedar wacana. (2)

Read More

24

“Agung tahun ini ulang tahun yang keberapa, sih?”

Kadang saya heran, mama itu pura-pura ngga tau apa gimana ya. Masa kemarin bilang saya lahir tanggal 18, padahal jelas-jelas sekeluarga semua lahir kelipatan lima, dan seingat saya sih, dulu mama yang pertama kali mendeklarasikan “Eh eh, kita semua lahir kelipatan lima, lho..” Terus kalau pas ngisi form keluarga untuk urusan administrasi sepertinya hafal. Yasudala, mungkin Mama gengsi kalau ketawan dia ingat ulang tahun saya HMMM.

Anyway, kalau rencana saya berhasil, tulisan ini akan di-publish ketika saya sedang berada di Phuket, Thailand. Semacam birthday-trip yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak lama. Awalnya ini akan menjadi semacam solo-birthday-trip, tapi ternyata terendus juga sama satu, kemudian jadi dua, dan akhirnya tiga orang teman saya.

Read More

Istighfar

Jadi ceritanya, kalau saya ngga langsung sholat pas denger adzan, Mama selalu nyuruh saya istighfar. Tapi entah kenapa tiap saya istighfar Kakak saya malah ketawa dan si Mama juga ikutan mau ketawa. Mungkin karena saya istighfar-nya dengan muka datar tanpa merasa dosa. Entahlah.

  • Mama: Sholat dulu udah adzan, istighfar, banyak setannya kalau males gitu
  • Saya: *sambil main game* Astaghfirullahaladzim..
  • Mbak Rin: Hahahahaha

Nah, karena saking seringnya Mama nyuruh saya istighfar, saya sering ngeledek Mama sambil becanda, “iya-iyaa tapi ya masa dikit-dikit istighfar, Ma”, yang kemudian disusul tawa kakak saya.

Read More

Setahun kerja, ngapain aja? (II)

Sebelum baca ini, ada baiknya baca “Setahun kerja, ngapain aja” bagian pertama.

Jadi di bulan kedua atau ketiga saya melakoni peran saya sebagai Apprentice, saya mulai merasa jenuh, lalu timbul pertanyaan “Masa kuliah susah-payah, kerjanya cuma gini doang sih?”. Semacam merasa di-sia-sia-kan, karena sebenarnya saya bisa melakukan lebih dari sekedar apa yang ditugaskan ke saya saat itu. Dilema first-jobber yaa, gitu.

Read More

The Paradox of Choice

One thing I learned in my second year of living alone in this big city is that too many options will make you exhausted.

On what to wear today, should I drive or just ride Ojek, what Ojek should I call; Uber, Grab or Gojek, what to eat for breakfast, for lunch, for dinner and much more.

The fact that those choices will unconsciously consume our energy is real. As a result, decision fatigue will occur and reduce the quality of our other decisions. For me, it often leads to decision avoidance. Words like terserah, up to you, or whatever are my arsenal.

That’s why Zuckerberg and many successful people have limited fashion options. They don’t want to make decisions about what they’re eating or wearing. They believe that one less irrelevant decision in the morning leads to better decisions on things that really matter. Yha, maybe I should try to cut down the volume of my clothing.

“Why are you so hard to eat, huh? There are a lot of food stalls around your area, isn’t it?”

Eat is another thing. I found out that it’s so dang hard to decide what to eat even there are dozens of food stalls, cafes, and restaurants around my pad. And it’s getting harder when there’s no one to help me to decide; it often leads to eat nothing. That’s why I have an Indigestion cry

Some say that having more choices are better, but my experience proved otherwise. It also happened in business; from my observation in office, when we offer a large number of choices, customers are successfully attracted, but when it comes to make a purchase, too many options lead to fewer sales.

That’s it, the paradox of choice.