The Paradox of Choice

One thing I learned in my second year of living alone in this big city is that too many options will make you exhausted.

On what to wear today, should I drive or just ride Ojek, what Ojek should I call; Uber, Grab or Gojek, what to eat for breakfast, for lunch, for dinner and much more.

The fact that those choices will unconsciously consume our energy is real. As a result, decision fatigue will occur and reduce the quality of our other decisions. For me, it often leads to decision avoidance. Words like terserah, up to you, or whatever are my arsenal.

That’s why Zuckerberg and many successful people have limited fashion options. They don’t want to make decisions about what they’re eating or wearing. They believe that one less irrelevant decision in the morning leads to better decisions on things that really matter. Yha, maybe I should try to cut down the volume of my clothing.

“Why are you so hard to eat, huh? There are a lot of food stalls around your area, isn’t it?”

Eat is another thing. I found out that it’s so dang hard to decide what to eat even there are dozens of food stalls, cafes, and restaurants around my pad. And it’s getting harder when there’s no one to help me to decide; it often leads to eat nothing. That’s why I have an Indigestion cry

Some say that having more choices are better, but my experience proved otherwise. It also happened in business; from my observation in office, when we offer a large number of choices, customers are successfully attracted, but when it comes to make a purchase, too many options lead to fewer sales.

That’s it, the paradox of choice.

 

Tentang sebuah kehadiran

Bulan Agustus lalu Mama akhirnya berangkat untuk menunaikan ibadah haji, sendirian. Iya sendirian, dan selalu jengkel ketika ada yang bertanya, “kenapa kok ngga ditemenin Mama-nya?” seakan-akan saya anaknya ngga mau banget direpotin untuk sekedar menemani Mama berangkat haji.

Bukan perkara mau atau tidak, tapi memang aturannya tidak semudah itu; ingin menggantikan “jatah” almarhum Papa itu ngga bisa, tetep saya harus antri; 13 tahun.

Satu hal yang saya sadari dari kepergian Mama untuk menunaikan haji kemarin adalah meski sudah sebesar ini, saya tetaplah anak Mama yang paling cengeng. Kadang saya sibuk cari pembenaran, bahwa ini bukan cengeng, tapi memang perasaan saya mudah tersentuh, sensitif; atau karena memang saya punya hati yang terlalu lembut HAHA.

Saya ingat ketika kecil saya selalu minta dibacakan dongeng atau cerita oleh Papa sebelum tidur. Dan suatu hari, stok buku maupun cerita Papa sudah habis, sedangkan saya tetap merengek minta diceritakan sebuah cerita. Alhasil, Papa mengarang cerita, dengan tokoh utamanya adalah saya sendiri.

Dalam cerita itu dikisahkan bahwa saya adalah anak yang nakal, yang entah kenapa suatu hari ditinggal Mama pergi jauh. Tebak apa yang terjadi? Saya mendengarkan cerita itu sambil menangis sampai tertidur cry

Banyak sekali kejadian dimana saya menangis ketika tidak mendapati kehadiran Mama di dekat saya. Tapi yang kemarin ini berbeda, saya menangis bukan lagi karena ketidak hadiran Mama, melainkan karena ketidak mampuan saya untuk hadir disana.

Mungkin itu juga alasan kenapa saya selalu dan selalu mengusahakan untuk sebisa mungkin pulang ke rumah di Bandung setiap ada kesempatan; Sesederhana tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak meluangkan waktu lebih banyak dengan Mama dan adik selagi bisa.

Begitulah.

 

Glamping di Trizara Resort

Okay, this will be a quick post.

Belakangan kata-kata Glamping atau Glamour Camping ini lagi sering banget terdengar di sela-sela percakapan, apalagi di Jakarta yang mayoritas masyarakatnya haus akan penyegaran setelah 5 hari sibuk muter-muter di Ibu kota yang penuh dengan polusi. Nah, kebetulan minggu lalu saya berkesempatan untuk mencoba Glamping di salah satu resort penyedia kemping mewah ini di Lembang, yaitu Trizara Resort.

Continue reading “Glamping di Trizara Resort”

Setahun kerja, ngapain aja?

Satu-dua tahun yang lalu saat masih kuliah, rasanya ingin sekali cepet lulus. Ingin cepat masuk ke dunia kerja meski sebenarnya was-was juga penasaran: sebenarnya kerja itu ngapain aja sih? Takut ngga bisa, takut terlihat bodoh, takut dimarahi bos kayak di film-film, takut kena pecat, dan sebagainya. Tapi ternyata, bekerja tidak semenyeramkan itu. Bahkan cenderung seru dan menyenangkan. Setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

Continue reading “Setahun kerja, ngapain aja?”

Catering Berrykitchen

Berawal dari beberapa bulan lalu dimana saya mengalami sakit. Bukan sakit ece-ece tapi sakit beneran, melibatkan tiga buah organ pencernaan. Bahkan sampai sekarang pun saya belum tau pasti apa sebenarnya yang terjadi di dalam perut karena saya tidak mengikuti saran dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bandel.

Menurut analisa Mama, tetangga, Dokter, Apoteker, dan semua orang, sakit yang saya alami adalah efek dari pola makan dan kualitas makanan yang buruk; sarapan yang sering terlewat, makan siang sering telat, makan malam yang terlalu malam, rajin makan junk food dan sebagainya. Yha, namanya juga anak kos.

Continue reading “Catering Berrykitchen”

Pertemuan Pertama dengan Singapura

Kemarin sempat kumpul bareng teman-teman kuliah dan dari sekian banyak hal yang kita bahas, yang paling lama dan seru bahasannya adalah tentang jalan-jalan —karena memang itu sih tujuan kita kumpul.

Singapura, Malaysia, Thailand, paspor, visa dan segala hal tentang sebuah perjalanan kita obrolin. Satu hal yang pasti setiap membicarakan sebuah perjalanan adalah semangat. Entahlah, baik saya maupun teman-teman saya juga merasakan hal yang sama, tetiba excited yang berujung ngga bisa tidur.

Seketika saya jadi ingat dan melipir kangen sama negeri singa di seberang sana. Terus baru sadar juga ternyata belum ada postingan tentang Singapura disini. Jadi.. baiklah, mari kita ingat-ingat tentang Singapura.

Continue reading “Pertemuan Pertama dengan Singapura”

Pebble : First Impression

Paling tidak sampai minggu lalu, saya masih berpendirian bahwa smartwatch itu bukan benda yang cocok buat orang yang ngga pengen ribet seperti saya. Punya satu buah handphone yang perlu di-charge sehari dua kali aja rasanya udah ribet banget, ini mau ditambah untuk ngecharge jam tangan segala?

Kemarin pun awalnya masih agak mikir-mikir ketika mau mengangkut Pebble Classic ke pergelangan tangan menggantikan G-Shock yang sudah agak berumur untuk sementara. Kebayang gimana nanti kalau baterainya habis, karena kabel yang digunakan bukan kabel USB yang biasa digunakan oleh kebanyakan device. Selain itu saya selalu punya pikiran bahwa smartwatch tidak akan pernah tahan terhadap air dan suhu sekuat jam biasa, apalagi G-shock. Was-was.

Continue reading “Pebble : First Impression”

Mudik

Akhirnya mudik, lagi! Setelah dua tahun belakangan saya sekeluarga vakum melakukan ritual mudik ke Sumatera, alhamdulillah tahun ini kami diberikan rezeki dan kesempatan lagi untuk mudik asik ke Desa kelahiran Mama.

Bersemangat dan akan selalu begitu setiap akan berangkat. Entahlah, saya dan kedua saudara saya sejak kecil selalu bersemangat ketika tahu bahwa kami akan melakukan perjalan mudik sekeluarga. Meski pada akhirnya kami sama-sama tahu, sebagai anak yang lahir dan tumbuh di kota, tinggal selama kurang lebih seminggu di sebuah desa yang panas dan jauh dari mana-mana dan tentu saja minim akses internet, bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. Alhasil, mana pernah kami betah berlama-lama disana.

Continue reading “Mudik”

Kostan 101 : Jakarta Selatan

Setelah dalam tiga bulan terakhir saya sudah dua kali pindah kostan, akhirnya saya sadar bahwa mencari kost-kostan itu bukan perkara mudah.

Semua orang juga tahu bahwa mencari tempat tinggal, baik rumah ataupun kostan atau apapun itu pada dasarnya akan menjadi mudah ketika sumber daya yang kita miliki lebih leluasa, misalnya uang. Sayangnnya sebagai anak baru Jakarta, saya belum seleluasa itu. Kemudian yang membuat segalanya makin rumit adalah sebagai orang Bandung yang biasa mendapatkan udara sejuk, saya ngga pernah bisa tahan dengan panasnya udara Ibu Kota sehingga menuntut saya untuk memiliki tempat tinggal dengan fasilitas pendingin ruangan, itu artinya saya juga tidak mungkin mengambil kostan dengan harga sekedarnya.

Continue reading “Kostan 101 : Jakarta Selatan”