Wrap up

It was a failure. Harus saya akui 2017 lalu tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja karena sepanjang tahun kemarin ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya lakukan tapi nyatanya belum berhasil terwujud. Dan hari pertama di tahun 2018 kemarin adalah momen yang tepat untuk menyadari semua itu; ketika tiba-tiba ingatan tentang kegagalan yang saya alami sepanjang 2017 sepakat menghajar memori saya pagi itu. Sayang mereka datang terlambat.

Tapi dibalik semua itu, tentu jauh lebih banyak hal yang sepatutnya saya syukuri di sepanjang 2017 —tentang saya yang akhirnya (insyaallah) sembuh dari problematika pencernaan, tentang segala pencapaian tahunan meskipun gagal straight-4, tentang keluarga yang sehat dan baik-baik saja, tentang teman dan sahabat saya yang baik dan semakin baik, tentang semua tempat baru, ilmu baru dan orang baru yang saya temui, tentang kebaikan dan segala yang menjadi lebih baik, tentang kesempatan dan kegagalan yang tentu saja tetap patut disyukuri. Terima kasih!

Continue reading “Wrap up”

On Conversation

Maybe we had never met before, maybe we had. We could be complete strangers or long-lost friends. You could be a friend of a friend. And I may be attracted to you, or I may not be. But, if I ask you out for movie or coffee —or even if I just followed your account, it means I find you interesting and it would be my pleasure to engage in sincere human contact over conversation with you.

It doesn’t matter what movie or which coffee shop. It could be a run-down stall that serves black coffee with condensed milk, or a fancy cafe that serves a range of coffee with creative yet pretentious names. I’m not a coffee person but that’s okay. We could go to XXI or CGV for movie, or even go to foreign film festival, it really doesn’t matter.

Continue reading “On Conversation”

Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm

Bukan, ini bukan review mirrorless Sony A6000 ataupun Sigma Art Lens 19mm. Kali ini saya hanya akan sedikit berbagi cerita tentang gear yang sekarang menjadi bawaan saya sehari-hari dan beberapa contoh dari hasilnya. Oiya, jadi ceritanya selepas dari sistem Fujifilm, saya beralih ke sistem Sony. Sempat akan mengambil seri RX100 tapi mengingat kejadian kemarin dengan kamera yang tidak dapat diganti lensanya, saya memutuskan untuk mengambil seri A6xxx paling lawas, yaitu A6000.

Continue reading “Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm”

Eps. 25

Today, I just want to let you know that I’m proud of you. Not because of the things that people compliment you on from what they can see of you, but because of those that they don’t see. Those things that matter the most, and yet no one ever noticed and complimented on.

For being so responsible in facing all the decisions that you have picked in your life despite the fact that many of them look more like a mess now. For being so strong in adapting to your problems and trying to solve them all alone. Nobody realises what things you have been through.

Continue reading “Eps. 25”

I Ditched My Fujifilm X70

Ragam respon yang saya terima ketika pertama kali mengatakan bahwa saya akan mengganti Fujifilm X70 kesayangan saya dengan kamera lain; mulai dari gelak tawa, sumpah serapah sampai kernyit dahi penuh tanda tanya. Bagaimana tidak, seperti yang pernah saya tulis disini sebelumnya bahwa X70 adalah kamera yang saya beli setelah melalui proses kontemplasi yang cukup panjang yang sampai jauh merambat ke proses mengenal diri sendiri. Begitu jauhnya sampai saya lupa bahwa ini cuma tentang hobi.

Situasi berbanding terbalik ketika saya memutuskan untuk melepaskannya: begitu mudah dan cepat sekali menemukan penggantinya. Singkat cerita, selama kurang lebih delapan bulan penggunaan Fuji X70 kemarin, sering saya temui kondisi-kondisi yang kurang atau di bawah ambang ekspektasi saya. Yang kemudian menimbulkan pertanyaan, “loh kok gini ya?”

Continue reading “I Ditched My Fujifilm X70”

Akhir Pekan Untuk Bali

Baliii

Sebenarnya Bali tidak pernah masuk dalam travel bucket list saya, setidaknya sampai dua bulan yang lalu. Mereka yang cukup dekat dengan saya pasti paham bahwa bucket list saya berada pada destinasi-destinasi dengan aksara yang berbeda dengan Indonesia. Pun begitu dengan tahun ini, sebenarnya bukan tahun yang saya inginkan untuk berjalan-jalan, tapi semua berubah ketika keadaan “memaksa” saya untuk pergi sebentar dan ketika destinasi yang paling memungkinkan adalah Bali.

Continue reading “Akhir Pekan Untuk Bali”

Tentang Millennials

“Gue ngga suka sama anak-anak millennials, belagu banget!”

Di sebuah perusahaan yang berada di industri yang sudah mapan, gencar —atau latah?— menggunakan istilah ‘Millennials’ sebagai apa yang saya anggap propaganda, biasanya akan berdampak pada banyaknya gesekan-gesekan yang disebabkan oleh ketidakpahaman akan makna millennials itu sendiri. Era keterbukaan dan (ehem) area kerja yang terbuka nyatanya tidak serta merta membuat mereka yang merasa ‘bukan millennials’ menjadi sedikit lebih millennials, atau setidaknya sedikit lebih terbuka dengan hadirnya para millennials.

Continue reading “Tentang Millennials”

Mimpi Seperempat Abad

Pembangunan tol sumatera

Indonesia bukan cuma Jakarta, bukan juga cuma pulau Jawa. Di usia saya yang mendekati seperempat abad ini, akhirnya saya merasa mulai adanya pemerataan yang —meskipun belum signifikan— tapi mulai terlihat hasilnya. Pemerintah sudah mulai bergerak, sekarang pertanyaannya, kita —yang katanya generasi paling kreatif— sudah mulai apa?

Saya selalu diingatkan untuk tidak merendahkan mimpi dan diri saya sendiri dengan hanya bermimpi untuk bisa hidup nyaman sambil duduk di balik layar monitor di suatu sudut ruangan berpendingin. Atau jangan-jangan angan kita sebatas ribuan likes dan followers di media sosial? Ngg— itu sih terlalu rendah dan terlampau mudah bagi kita yang lahir dan hidup di negara sebesar Indonesia. Walaupun bagi sebagian orang mungkin jawabannya akan semudah “kenapa tidak?”

Continue reading “Mimpi Seperempat Abad”

Budak Kapitalis

Beberapa hari yang lalu ketika sedang berkunjung ke Surabaya, saya sempat berdiskusi tentang pekerjaan dan karir dengan seseorang yang cukup dekat dengan saya. Dalam diskusi tersebut ia mengutip saran yang diterimanya tentang betapa perlunya ia untuk masuk ke dalam sebuah perusahaan —apapun itu, untuk mengalami apa yang disebut bekerja untuk orang lain dan merasakan “nikmatnya” berada di ujung terbawah rantai korporasi sebagai sarana untuk mengembangkan diri.

Memang bukan itu cara satu-satunya untuk mengembangkan diri selepas dunia kampus, sebagai anak muda yang tumbuh pada generasi ini, rasanya kini kita punya lebih banyak opsi untuk mengembangkan potensi diri. Tapi kali ini saya menanggapinya dengan mengangguk setuju, karna saya pun mengambil jalan itu; menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar, dan memulainya dengan masuk ke lantai paling dasar dalam sebuah hirarki korporasi. Karena buat saya, memang itu yang saya perlukan.

Continue reading “Budak Kapitalis”