Berlabuh di Olympus

Memangnya kamera Olympus bagus ya? Kok jarang yang pakai?

Mungkin kamera ini bukan untuk semua orang— bahkan sepertinya ngga banyak yang tau kalau ada kamera dengan merek Olympus. Di atas kertas juga sebenarnya tidak ada yang menonjol dari mirrorless seri EM10 Mark-II ini, tapi percaya deh, ada yang beda ketika kita mulai menggunakannya.

Melihat spesifikasinya, tidak ada yang spesial dari deretan angka di atribut kamera tanpa cermin seri EM10 Mark-II ini: Sensor Micro Four Thirds 16MP dengan sensor Live MOS, TruePic VII processor, 5-axis image stabilization, 2.36M-dot OLED EVF dan 3-inch touchscreen LCD.

Micro Four Thirds (M43)

Sensor M43 ini ukurannya setengah dari sensor kamera full frame, sangat kecil. Seringnya alasan ini yang banyak membuat orang enggan untuk menggunakan kamera dengan sistem M43; karena berdasarkan hitung-hitungan matematikanya sih, semakin besar penampang sensor maka semakin banyak cahaya yang ditangkap sehingga gambar yang dihasilkan juga akan semakin bagus.

Olympus M.Zuiko Digital 45mm f/1.8
Olympus M.Zuiko Digital 45mm f/1.8

Sebenarnya iya, tapi di level pengguna, itu tidak akan terlalu terasa. Noise yang dikhawatirkan muncul ketika kondisi cahaya kurang juga belum saya temukan. Memang sih, ketika kondisi benar-benar gelap, kamera ini sangat kesulitan untuk mencari fokus. Berbanding terbalik di saat cahaya melimpah, autofocus-nya cepat sekali. Tapi sesering apa sih kita foto gelap-gelapan?

Efek lain dari kecilnya ukuran sensor adalah ukuran lensa dan body camera yang memungkinkan untuk jadi lebih kecil dan compact. Dan ini adalah salah satu faktor yang jadi pertimbangan saya: compact.

5-axis image stabilization

Salah satu atribut yang paling saya suka dari kamera ini— mungkin tujuan utamanya agar ketika mengambil gambar di kondisi kurang cahaya, kamera tetap bisa stabil meski shutterspeed dan ISO diturunkan untuk meminimalisir noise. Tapi ternyata fitur 5-axis IBIS ini juga bisa sangat membantu ketika kita merekam video. Meski begitu, untuk hasil video yang lebih maksimal, saya tetap menyarankan pakai Lumix sih— karena berkat fitur Dual I.S, dia bisa mengkombinasikan antara 5-axis IBIS dan in-lens stabilizer.

Olympus M.Zuiko Digital 45mm f/1.8
Olympus M.Zuiko 14-42mm f3.5-5.6 EZ

EVF dan LCD screen

Nah untuk atribut yang satu ini bolehlah kalau mau diadu dengan kamera lain di kelas yang lebih tinggi— view finder-nya jernih dan sangat tajam, top notch-lah. Bikin bentah berlama-lama membidik dari EVF. Selain itu LCD screennya juga bagus dengan warna yang akurat, lengkap dengan touchscreen yang responsif. 

Build Quality

Di range harga kurang dari 10 juta, saya rasa kamera ini termasuk salah satu yang memiliki build quality paling baik diantara kamera lainnya. Kokoh dan mantap serta nyaman untuk digenggam. Selain itu, berkat metal dan plastik bertekstur yang membungkus badan kamera, saya merasa lebih tenang ketika membawanya bepergian meski belum weather sealed.

Olympus M.Zuiko Digital 45mm f/1.8
Olympus M.Zuiko Digital 45mm f/1.8

Olympus Colors

Saya ngga pernah nyangka bisa sesuka ini dengan warna yang dihasilkan oleh Olympus. Warnanya hidup dan natural sekali, bahkan saat dipakai memotret panggung yang penuh dengan lampu, warnanya masih natural dengan skin-tone yang tepat. Jadi ngga heran kenapa banyak stage photographer pakai Olympus.

Nah, dengan mengadopsi kamera ini, berarti dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini saya sudah mencoba empat jenis kamera berbeda— Canon 60D, Fujifilm X70, Sony A6000 dan Olympus OM-D 10 Mark-II. Jujur yang terakhir saya sebut adalah yang paling nyaman dan mungkin akan benar-benar jadi yang terakhir, sudah saatnya berkomitmen, kan? Lagi pula perbandingan harga dan kepuasan yang saya dapatkan membuat kamera ini terasa begitu murah, hingga akhirnya tanpa ragu saya selalu merekomendasikannya kepada siapapun yang bertanya.

Olympus M.Zuiko Digital 45mm f/1.8

Dan dari ketiga mirrorless yang sempat saya punya, kamera ini adalah kamera yang paling banyak mendapatkan compliment, lho. Termasuk dari orang yang belum saya kenal yang tanpa sengaja melihat hasil gambarnya di sebuah festival musik, atau dari orang yang saya mintai tolong untuk mengambil gambar dengan kamera ini. Pengalaman berkamera yang menyenangkan memang.

Dan terakhir, banyak yang bertanya tentang lebih baik mana; beli mark-II atau mark-III? Menurut saya, ambil mark-II lalu sisanya pakai buat beli lensa aja, mengingat lensa-lensa Olympus relatif mahal. Selain itu perbedaan mencolok antara seri kedua dan ketiga cuma di 4K capability aja, kok. Sisanya beda tipis bahkan cenderung sama.

Cheers! 📸

Leave a Reply