Catering Berrykitchen

Berawal dari beberapa bulan lalu dimana saya mengalami sakit. Bukan sakit ece-ece tapi sakit beneran, melibatkan tiga buah organ pencernaan. Bahkan sampai sekarang pun saya belum tau pasti apa sebenarnya yang terjadi di dalam perut karena saya tidak mengikuti saran dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bandel.

Menurut analisa Mama, tetangga, Dokter, Apoteker, dan semua orang, sakit yang saya alami adalah efek dari pola makan dan kualitas makanan yang buruk; sarapan yang sering terlewat, makan siang sering telat, makan malam yang terlalu malam, rajin makan junk food dan sebagainya. Yha, namanya juga anak kos.

Sampai kemudian Mama menyarankan saya untuk berlanggan catering, paling tidak untuk makan siang; jadi mau sesibuk apapun, semalas apapun saya jalan keluar untuk cari makan, terlalu panas atau hujan deras, makanan sudah terhidang di pantry —delivered right into my office. Tinggal makan.

Pencarian pun dimulai; Googling, Yesboss, sampai tanya ibu kos. Karena saya anaknya milenial banget, jadi serba pengen digital, ngga ribet dan murah. Dan nampaknya yang memenuhi semua kriteria itu (saat ini) cuma Berrykitchen. Meski kadang suka ketuker nyebutnya sama Berrybenka, tapi sepertinya tidak ada hubungan spesial diantara mereka.

beli poin
beli poin

Jadi intinya, di Berrykitchen kita melakukan pembayaran di awal (prepayment) dengan cara membeli poin. Ada beberapa pilihan paket poin, salah satunya seperti yang saya beli kemarin: paket 100 poin seharga Rp 500.000. Nah, dengan 100 poin ini, setiap harinya kita akan menghabiskan sebanyak 4-5 poin per hari, tergantung pilihan menu kita. Iya, kita bisa pilih menunya setiap hari, dan kalaupun ngga mau ribet, atau sering terlewat (seperti saya), kita akan tetap dapat menu chef recommendation yang berbeda setiap harinya.

Kalau dihitung-hitung jatuhnya jadi lebih murah, sih. Dengan asumsi setiap hari 5 poin, itu artinya kita bisa makan 20 kali dengan hanya membayar Rp 500.000. Bayangkan kalau sehari cuma pilih menu dengan total 4 poin? Cuma Rp 20.000 setiap siangnya! Dibandingkan dengan makan di luar, dimana banyak yang “menggoda” yang ujung-ujungnya bisa sampai Rp 30.000 bahkan Rp 50.000 sekali makan.

Soal rasa memang relatif, tapi buat saya menu Berrykitchen enak, kok. Dan teman-teman yang catering di Berrykitchen juga selama ini ngga pernah mengeluh atau komplain soal rasa. Salah satu menu favorit saya adalah Ayam lada garam, entah kenapa ini enak banget.

chef recommendation
chef recommendation

Tapi seperti biasa, menurut saya tetap ada yang kurang.

Saya sering lupa untuk pilih menu buat besok dan berakhir dengan memakan menu chef recommendation di keesokan harinya, yang kadang kurang cocok; dapat menu pedas misalnya, sedangkan saya ngga bisa makan yang pedas.

Berrykitchen harus segera bikin aplikasi smartphone-nya, sih. Dimana akan ada fitur pengingat dengan push notification di jam-jam akhir menjelang batas pemesanan menu, dan kita bisa langsung pilih menunya juga disana. Pasti bakal hits.

Jadi, buat yang merasa nine-to-five nya padat banget, sibuk banget, atau buat yang doyan drama bingung makan dimana, Berrykitchen wajib untuk dicobain wink

[update] ternyata aplikasi di Android sudah ada, di iOS belum tapi sad

3 thoughts on “Catering Berrykitchen

  1. Halo Agung.
    Blog-nya ganti tampilan ya? Baru main lagi nih, haha.
    FYI, Berrykitchen dan Berrybenka MEMANG punya hubungan spesial… karena owner-nya Berrykitchen adalah istrinya pemilik Berrybenka (dan Groupon), hahaha.

    Wah, gue juga baru mau bikin review katering ini soalnya mulai bulan lalu langganan. Alasannya gara-gara belakangan kalau siang hujan, suka nggak kebagian makanan di kantin gedung kantor karena semua orang merangsek ke sana :))))

    (Kalau nggak keberatan, main-main balik ke blog gue yah.)

    1. aha! iya, pernah denger juga dari temen di kantor kalo memang ada hubungannya diantara dua berry itu :))

      gue justru udah berhenti berlangganan sekarang, ada bosennya juga ternyata kalau kateringan terus.

Leave a Reply