focus

Fokus

Demi meningkatkan produktifitas dan tetap menjaga agar otak tetap fit, mulai akhir tahun kemarin saya mulai membuat challenge atau resolusi yang bersifat pribadi, maupun yang melibatkan orang lain. Biar rame aja sih, karena entah bagaimana kalau ada orang yang sama-sama mengejar suatu hal yang sama dengan saya, biasanya saya akan menjadi lebih bersemangat. Sama-sama mengejar wanita yang sama misalnya, apalagi kalau ngejarnya bareng teman atau sahabat. Krik.

Salah satu challenge-nya adalah (lebih banyak) membaca buku. Karena jujur tahun lalu sedikit sekali buku yang berhasil saya baca sampai selesai. Tahun ini saya buat dua jenis challenge untuk kategori membaca buku: pribadi dan bareng Mas Ilham-Mas adira. Untuk resolusi baca buku yang pribadi, saya cenderung memfokuskan pada buku-buku yang non-fiksi. Non-fiksi dalam artian buku-buku yang masuknya bukan di ranah hiburan melainkan buku yang memberikan insight tertentu, buku yang membantu saya untuk jadi lebih tau tentang suatu hal. Sedangkan yang bersama Mas-mas itu, cenderung akan ke fiksi, karena tujuannya memang sebagai quick-break dari dunia yang serba serius ini.

the one thing book

the one thing at get abstract

Minggu lalu, saya berkesempatan untuk ‘menyerap’ empat buah buku yang bertemakan time management. Sebenernya ini bukan benar-benar baca buku sih, makanya saya juga menyebutnya dengan kata ‘menyerap’. Ini lebih ke membaca summary yang berupa ebook dan mendengarkan audio book-nya juga, sekalian mengasah kemampuan listening saya ceritanya. Kedepannya memang akan seperti itu terus sih konsepnya, baca summary dan mendengarkan audio book dari Get Abstract yang di-support sama Kak Rofiqi, yang tiap minggu temanya akan berbeda-beda. Menarik sih, jadi tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk baca buku-buku pengetahuan tapi tetap dapat apa intisari dari buku itu. Knowledge compressed, kalau kata Get Abstract.

Dari topik time management, saya menyelesaikan empat buah buku yaitu The One Thing (Gary Keller, 2013), Singletasking (Devora Zack, 2015), Procrastinate on Purpose (Rory Vaden, 2015), dan Living the 80/20 Way (Richard Koch, 2005). Yang menarik adalah, dari keempat yang sudah saya selesaikan, meskipun dengan judul yang berbeda-beda, saya menemukan satu inti yang bisa diambil dan ditanamkan dalam kehidupan kita sehari-hari: Fokus.

Selama ini kita telah salah menganggap bahwa manusia (harus) bisa multitasking. It’s a myth, bro. Multitasking itu istilah untuk komputer, bukan untuk manusia. Tapi belakangan ketika kehidupan manusia semakin tidak terpisahkan dengan komputer, istilah tersebut tanpa kita sadari juga melekat dalam kehidupan kita. Sehingga munculah persepsi bahwa manusia juga seharusnya bisa multitasking, but science says multitasking doesn’t work.

Multasking is simply not a human capability.

Yang sebenarnya kita anggap sebagai multitasking selama ini ternyata adalah task switching— beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan itu sangat tidak efisien. Selama ini kita mungkin menganggap dengan mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus kita akan menjadi lebih produktif, akan lebih efisien padahal itu justru membawa kita pada sebuah kondisi dimana kesalahan akan lebih sering terjadi. Contoh paling simpelnya adalah mengemudi sambil melakukan panggilan telepon atau membalas pesan singkat. Berapa banyak korban kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh gangguan penggunaan ponsel? Banyak.

We need to focus. Kita akan menghasilkan hasil yang lebih baik dan akan menjadi lebih produktif ketika kita fokus pada satu hal dan menyelesaikannya secara berurutan, satu per satu. Tidak cuma soal produktifitas, fokus juga diperlukan ketika kita ingin mencapai suatu kesuksesan. Dalam bukunya, Gary Keller mengatakan bahwa kesuksesan membutuhkan sebuah konsentrasi (fokus) dalam periode yang panjang pada satu titik, bukan seperti tembakan yang tersebar ke berbagai arah. Satu titik inilah yang kemudian disebut One Thing, dan masih menurut Keller, untuk mendapatkan kesuksesan kita harus menemukan apa One thing dalam hidup kita, yang kemudian akan kita fokuskan menjadi tujuan.

Satu lagi yang perlu menjadi catatan, khusunya buat diri saya sendiri adalah dengan memfokuskan diri, kita akan memilah mana hal-hal yang akan kita kerjakan; menentukan prioritas. Dan itu artinya, kita harus berani untuk bilang tidak pada siapapun. Kita harus berani menolak ajakan, atau tugas-tugas yang sekiranya itu bukan tugas kita, dan akan mengganggu pekerjaan yang sebenarnya adalah prioritas kita. Apa-apa yang dapat mengganggu jalan kita menuju kesuksesan, harus berani kita tolak.

Singletasking means being here, now, immersing yourself in one thing at a time.

Dan dengan fokus, bukan berarti kita harus menyelesaikan satu pekerjaan dari awal sampai selesai dalam satu waktu, bukan. Fokus adalah meletakkan seluruh perhatian dan energi kita pada pekerjaan yang sedang kita kerjakan.

Nah dari sini saya tentunya akan berusaha menjadi manusia yang lebih fokus, dong (added to 2016 resolution), karena setelah menyelesaikan keempat buku ini saya merasa ditampar, mengingat di dunia kuliah kemarin, rasanya saya lebih sering mencoba melakukan banyak hal ketimbang fokus pada satu hal dan menjadi ahli disana. Dan harapannya, selain bisa lebih fokus, adalah bisa lebih berani untuk bilang tidak.

*kemudian mengalun merdu lagu Jangan bilang tidak – Raffi ahmad feat. Ayushita*

Leave a Reply