I Ditched My Fujifilm X70

Ragam respon yang saya terima ketika pertama kali mengatakan bahwa saya akan mengganti Fujifilm X70 kesayangan saya dengan kamera lain; mulai dari gelak tawa, sumpah serapah sampai kernyit dahi penuh tanda tanya. Bagaimana tidak, seperti yang pernah saya tulis disini sebelumnya bahwa X70 adalah kamera yang saya beli setelah melalui proses kontemplasi yang cukup panjang yang sampai jauh merambat ke proses mengenal diri sendiri. Begitu jauhnya sampai saya lupa bahwa ini cuma tentang hobi.

Situasi berbanding terbalik ketika saya memutuskan untuk melepaskannya: begitu mudah dan cepat sekali menemukan penggantinya. Singkat cerita, selama kurang lebih delapan bulan penggunaan Fuji X70 kemarin, sering saya temui kondisi-kondisi yang kurang atau di bawah ambang ekspektasi saya. Yang kemudian menimbulkan pertanyaan, “loh kok gini ya?”

Kekurangan Fujifilm X70

1. Lambat

Ini sebenarnya sudah saya ketahui sejak sebelum membeli karena sudah beberapa kali hands-on kamera Fuji milik teman saya mulai dari XA sampai XT series dan juga melihat berbagai review yang ada di YouTube maupun blog-blog fotografi. Awalnya saya pikir saya akan mampu berkompromi dengan lambatnya pengoperasian dan autofocus di Fujifilm, tapi ternyata tidak. Perlu dicatat bahwa sebelum pakai Fuji X70, saya menggunakan Canon 60D. Jadi wajar kalau gap-nya cukup terasa dan sering membuat dongkol.

2. Lemah 

Ini yang cukup bikin saya terkaget-kaget. Jangan salah, body-nya kokoh full metal, dials-nya juga metal, tapi entah kenapa saya merasa tombol dan elemen lainnya seperti mudah rusak. Terlebih tombol navigasinya yang kebetulan posisinya terlalu dekat dengan LCD sehingga ibu jari saya cukup susah untuk menekannya dengan posisi yang tepat, sehingga kemungkinan untuk rusak menjadi lebih tinggi.

Ditambah kejadian sekitar bulan Juni lalu di mana kamera saya tanpa sengaja terkena sedikit air yang menggenang di lantai, namun efeknya adalah tidak bekerjanya semua tombol yang posisinya sejajar dengan layar—padahal airnya tidak mengenai tombol-tombol tersebut. Kamera bisa menyala, bisa mengambil gambar, layar tidak bermasalah tapi tombol navigasi dan lainnya tidak bekerja. Weird.

Memang betul bahwa kamera ini tidak memiliki fitur weather shield, tapi kan.. masa semudah itu rusaknya. Meski pada akhirnya berhasil saya selamatkan tanpa membongkar sedikitpun, tanpa membawanya ke luar rumah apalagi ke…

3. Service center

Iya, di tengah kepanikan karena kamera saya tiba-tiba rusak dengan cara yang “gitu doang”, saya mencoba menghubungi service center Fujifilm di Bandung karena kebetulan kartu garansi saya saat itu ada di Bandung. Yang kemudian dijelaskan bahwa kameranya di bawa saja ke service center Jakarta, karena yang di bandung hanya melayani penjualan, kalaupun di-service di Bandung, akan dibawa ke Jakarta juga yang mana akan memakan waktu lebih lama lagi. Dongkol.

Karena pengalaman adalah guru terbaik dan karena saya pernah berhasil menyelamatkan 2 buah handphone saya yang rusak terkena air dengan butiran beras; saat itu saya inisiatif merendam Fuji X70 di dalam tumpukan butir beras –setelah sebelumnya saya lindungi LCD dan lensanya dengan pelindung tentu saja. Dan voila, 12 jam kemudian semua berfungsi normal.

Selain ketiga alasan tersebut ada beberapa alasan minor yang sebenarnya masih bisa saya maklumi seperti hasil video yang biasa aja dan hasil gambar yang… biasa saja. Warnanya okelah, siapa sih yang ngga suka hasil warna kamera Fujifilm, tapi dari kualitas dan ketajamannya kurang bisa diandalkan apalagi kalau kondisi kurang cahaya. Selain itu konektivitas wifi-nya juga susah, beberapa kali dicoba di Samsung S8 selalu gagal. Untungnya di iPhone masih berjalan lancar.

Fujifilm X70 ini merupakan barang pribadi saya yang usia kepemilikannya bisa dibilang paling singkat. Bila melihat iPhone saya yang sudah 3 tahun, G-Shock yang sudah 7 tahun lebih, dan Nike Run yang sudah 4 tahun, bisa dibilang kamera ini adalah pembelian paling gagal yang pernah saya lakukan selama ini.

Maka terfujilah X70, sayonara!

 


Sedikit saran untuk yang ingin membeli Fujifilm, saya sudah mencoba memakai beberapa seri kamera Fuji dan yang paling enak dipakai tentu saja seri X-PRO, kemudian seri XT dan XE (meski untuk XT dan XE menurut saya masih cukup lambat juga sih autofocusnya). Dan dari pengalaman saya kemarin, Fuji X series (x100, x70, x100t) harga jualnya bisa dibilang terjun bebas karena lensa yang tidak bisa diganti.

Buat yang bertanya-tanya lantas kamera apa yang sekiranya ada di kelas yang sama dengan Fujifilm X70 sebagai alternatif pilihan? Menurut saya jawabannya bisa Sony A5100, Ricoh GR, Lumix LX100, Sony RX100 markIII dan Canon M3. Sila dipilih!

3 thoughts on “I Ditched My Fujifilm X70

Leave a Reply