iPhone 5s: Dua Tahun Kemudian

Coba tanya siapapun teman dekat saya semasa kuliah, pasti mereka tau kalau dulu saya pernah menjadi seorang yang skeptis banget sama produk Apple. I was an android fanboy back in 2010 ketika blackberry lagi hype padahal lelet banget, “bagian mana dari blackberry yang smart sampai dia bisa disebut sebuah smartphone?”.

Memasuki masa kuliah, saya menjadi the microsoft-guy, melawan arus android dengan Lumia dan berhasil mempengaruhi beberapa orang untuk pakai Lumia juga. Frustasi dengan segala keterbatasan di Windows phone, dan ngga mau pakai Android yang terlihat “mengerikan”, tahun 2014 akhirnya saya luluh dan pakai produk apple untuk yang pertama kalinya, iPhone 5s. Bangga sih, bukan karena iPhone-nya, tapi karena berhasil beli dengan uang hasil jerih payah sendiri.

Awalnya banyak yang mempertanyakan “kepindahan” saya ke platform milik apple ini, karena itu tadi, imej saya saat itu adalah si microsoft guy, tapi ternyata justru platform ini yang paling lama berada di tangan saya, 2 years and still counting. Saya selalu bilang ke teman-teman saya bahwa keputusan saya pakai iPhone semata-mata adalah karena sudah lelah “berpetualang”, dan rasanya ingin istirahat di platform yang cenderung aman dan stabil, semacam kemapanan dalam bersmartphone.

“Udahlah handphone mah gitu-gitu aja, nyari yang gampang-gampang aja biar ngga gonta-ganti terus”

iphone 5s space grey
ceritanya ngebandingin sesama iphone 5s space grey di lab

Apa yang membuat saya jatuh hati pertama kali pada iPhone 5s adalah warna space grey (abu-abu)-nya, itu seksi banget. Selain desainnya yang simpel dan pas ditangan, tentu saja karena kameranya yang cukup mudah digunakan untuk menghasilkan gambar yang relatif bagus juga menjadi salah satu pertimbangan.

Dua tahun dan rasanya saya masih belum memiliki keinginan apalagi merasa butuh untuk mencari penggantinya. Meski boleh dibilang dari sisi kamera sudah jauh tertinggal dibandingkan beberapa smartphone terbaru, tapi untuk sekedar update ke instagram kamera iPhone 5s masih bisa bersaing, lah. Itu instagram saya 95% isinya hasil dari iPhone 5s saya, lho. *terus kenapa*

Sejujurnya kalau ada yang bilang iOS itu jauh lebih stabil dibanding Android, itu ngga sepenuhnya benar. Hanya saja experience yang dirancang memang entah bagaimana membuat user merasa tidak terlalu terganggu setiap ada glitch yang muncul. Mitigasinya seamless banget.

iphone 5s rusak
punya temen, makenya memang sembarangan sih

Begitu juga dengan ketahanannya. Banyak orang yang percaya bahwa device buatan Apple selalu lebih awet dibanding buatan pabrikan lain. Tapi ternyata ngga kok, beberapa kali saya menemukan justru iPhone jauh lebih “rapuh” dibandingkan yang lain. Pernah suatu hari saya kehujanan, eh tombol mute-nya jadi error, dan jack earphone jadi macet. Baru kembali normal setelah direndam ke dalam tumpukan beras selama beberapa saat. Belum lagi permasalahan klasik charger yang cepat rusak, home button dan power button yang berumur singkat. Tapi semuanya balik lagi ke pengguna sih, kalau pakainya jorok ya.. pasti ngga awet. Punya saya termasuk awet sih, baru power button yang pernah diservice.

Secara keseluruhan saya puas dengan iPhone 5s, tujuan saya untuk mendapatkan rasa stabil dan aman diakomodir dengan sangat baik di platform ini. Jadi kadang merasa dulu naif banget ngga mau pakai iPhone, eh sekarang malah ngga bisa lepas :))

4 thoughts on “iPhone 5s: Dua Tahun Kemudian

  1. Setuju!! Punyaku malah iPhone 5 dan masih belum rusak sama sekali. Belum keburu pengen ganti juga, soalnya ngerasa masih belum lemot amat. Kalo ganti pun rencana ke 5s atau SE. Ga minat sama bentukan 6 dan 6s. Kalo kegedean malah “jadi” android ntar wkwk

  2. Wah ini nih biangnya buat geng TA jadi ber-iPhone semua, ngomong-ngomong iPhone ku mau 1st anniv nih bulan ini. But overall I satisfy with the performance of my iPhone, dan belum ada niatan buat ganti *kecuali ada yang ngasih iPhone terbaru* hehe

Leave a Reply