Schneider Electric Campus Ambassador (I)

“Mas ambas” is kind of nickname yang bikin saya kesal sekaligus bikin beban tiap mendengarnya. Menurut saya itu alay, maksudnya, panggilan “mas ambas” itu. Entah siapa yang pertama kali memulainya, but it went viral at that time. Iya, saya dipanggil dan dikenal sebagai mas ambas, sejak terpilih jadi Schneider Electric Campus Ambassador semester 7 lalu bersama 12 mahasiswa dari berbagai macam universitas di Indonesia —di pulau Jawa lebih tepatnya.

Jadi ceritanya, saya berencana tobat main-main dan berkutat di organisasi luar kampus di tahun keempat. Saat itu menurut saya, saya sudah lelah dan rasa-rasanya sudah cukup, lah. Ingin lebih fokus pada kuliah, mungkin akan sedikit beraktifitas dengan organisasi di kampus saja, kebetulan juga sedang mendapatkan amanah sebagai leader di lab. Prosman dan juga di Microsoft Student partner, dan tentu saja, saya ingin segera menyelesaikan tugas akhir; kurang lebih itu yang saya katakan pada teman-teman. Tapi itu tadi, yang namanya ingin tobat pasti susah.

Suatu hari muncul sebuah publikasi tentang ini di twitter: Schneider Electric Campus Ambassador. Entah dari akun mana saat itu. Dan beberapa waktu kemudian muncul juga di group facebook PRODI-TI, yang kemudian hanya di-like beberapa orang saja dan nampaknya sepi peminat. Tipikal mahasiswa kampus Telkom memang seperti itu; yang bermanfaat, yang keren-keren, yang bagus-bagus justru didiamkan saja lewat didepan mata. Dan saat pertama kali melihatnya di twitter, saat itu juga saya langsung tertarik karena tiga alasan;

Pertama, karena ini Schneider Electric (SE). Ya.. saya memang belum seberapa tau tentang SE saat itu, tapi saya mengenalinya, at least saya tau SE itu multinational company, itu sudah cukup bikin saya tertarik. Kedua, karena isu yang diangkat adalah energy management. Tentang energi adalah sesuatu yang baru buat saya, tapi saya selalu tertarik tentang ini. Dan yang ketiga adalah, ada iming-iming overseas business trip. Klik. Ternyata setelah saya baca, ada syarat rekomendasi dari kaprodi atau dekan. Kemudian saya mikir, hal apa yang bikin kaprodi atau dekan mau merekomendasikan saya ya? Di prodi atau di fakultas rasanya banyak yang lebih baik dari saya. Dan saya, ngga sedekat itu dengan beliau-beliau. Ah, skiplah, kan mau tobat!

Singkat cerita, Pak Rino, Kaprodi saat itu, minta tolong ke saya tentang sesuatu yang berkaitan dengan Microsoft, lupa apa, tentang aktivasi windows kalau tidak salah. Dan dengan sedikit iseng, saya tanya ke beliau,

“Pak, yang schneider itu, sudah ada yang daftar pak?”

“Belum ada kayaknya, kalau dari fakultas lain gimana udah ada yang daftar?”

Loh kok malah nanya saya, “Kurang tau pak”

“Kamu ngga daftar? Daftar gih”

“Eh iya ingin sih pak, tapi susah sepertinya pak, dan itu butuh surat rekomendasi gitu pak katanya”

“Ah pasti bisa kalau kamu, yasudah bikin aja, nanti saya bikinin”

Voila. 15 menit kemudian surat rekomendasi dari Kaprodi sudah di tangan. Fix tobat saya gagal.

(…bersambung ke part II, ya!)

Comment 1

  1. Pingback: Schneider Electric Campus Ambassador (IV) · Thursday Talk

Leave a Reply