Schneider Electric Campus Ambassador (II)

“Dim, aku lanjut ngga ya?”

“Lanjut, Gung, tanggung sudah sejauh ini. Coba dulu lah”

Waktu itu saya lagi kerja praktek di Telkom Indonesia, bareng dimas. Dan mungkin udah lebih dari lima kali percakapan kayak gitu terjadi diantara kita. Dan Dimas, dengan sabarnya selalu bilang, “lanjut Gung, sudah sejauh ini, tanggung..”

Jadi ceritanya, setelah dapat surat rekomendasi dari Kaprodi, saya langsung daftar via email. Gampang sih, cuma CV sama surat rekomendasi aja. Kemudian datanglah panggilan untuk Focus Group Discussion (FGD) di ITB. Dari sini saya masih pede, karena pikiran saya saat itu tidak akan terlalu banyak yang daftar. Ternyata banyak. Mam-pus.

Bayangin, ya. Saya datang ke kampus ITB, melakukan FGD tentang segala sesuatu yang berbau electrical, dan energy, dan saingannya adalah anak-anak teknik elektro, power, atau apalah itu arus kuat – arus lemah dari kampus teknik terbaik di negeri ini. Saya grogi tepat setelah masuk ke ruangan dan mereka semua kenal, kebanyakan sepertinya datang dari satu himpunan atau organisasi atau kelas yang sama, ngomongin hal yang sama: electrical things. Dan mereka terdengar sangat cerdas. Atau itu perasaan aja ya karena saya bener-bener blank soal ini?

Oiya, sekedar informasi. Dari sekian banyak orang, tidak satupun yang saya kenal. Berita baiknya, akhirnya saya berkenalan dengan salah satu orang yang dia terlihat diam saja dari tadi. Jadi asumsi saya, dia dari kampus non-ITB juga, dan tidak mengenal siapapun. Jadi mulailah kita berkenalan. Ternyata dia anak elektro, dan asumsi saya, dia cukup pintar dibidang itu karena mbak-mbak Schneider mengenali dia dengan menyebut salah satu lomba di bidang elektro. Saat itu, saya merasa saya orang paling tidak punya kans untuk survive kemudian lolos di babak ini. Berita baik keduanya, ternyata ada juga anak UNPAD disini! Itu artinya mereka juga pasti buta tentang listrik-listrikan ini, dan ada juga beberapa yang dari Industrial Engineering seperti saya. Lumayan bikin pede, lagi.

Singkat cerita, FGD di mulai, in english tentu saja. Setelah di bagi kelompok, saya mendapatkan kelompok yang paling… lembut. Maksudnya, dibanding kelompok lain, yang isinya laki-laki kekar dengan tingkat percaya diri tinggi ketika membicarakan tentang electrical, kelompok saya isinya perempuan, kecuali saya tentu saja. kelompok saya adalah kelompok paling heterogen, karena diisi oleh anak manajemen, ekonomi (atau akuntansi ya?), Teknik elektro, dan saya, teknik Industri. Disini saya merasa punya peran sebagai jembatan antara anak manajemen, ekonomi dengan anak elektro, dan mencari jalan tengah ketika mereka menemukan jalan buntu.

Dan tibalah saat presentasi. Di sesi presentasi ini, akan ada sesi tanya jawab, yang pertama dari juri dan yang kedua terbuka untuk seluruh peserta FGD. Jadi, saya sudah siap untuk dibantai oleh mas-mas teknik elektro dan kawan-kawannya. Benar saja, mereka semangat sekali mengajukan pertanyaan tajam untuk kelompok saya. Tapi, bukan anak manajemen dan teknik industri kalau ngga jago ngeles. We did good, but they much better. Dari sinilah saya mulai merasa malas untuk melanjutkannya lagi. Dan pesimis akan lolos ke tahap selanjutnya. Say goodbye to overseas business trip, Gung~

Ternyata saya lolos ke tahap selanjutnya, tahap akhir. Kemudian galaulah saya di samping Dimas beberapa hari menjelang deadline submission. Jadi di tahap akhir ini, saya diminta untuk menjawab semua pertanyaan yang dikirimkan oleh Schneider Electric, lalu membuat essay, dan juga video. Iya, video yang diatas tadi itu adalah video saya untuk tahap akhir. Jelek ya? Maklumlah, skenario bikin sendiri, take video sendiri, edit sendiri dan semuanya dilakukan dalam waktu satu hari, di hari terakhir.

(…bersambung ke part III, ya!)

Comment 1

  1. Pingback: Schneider Electric Campus Ambassador (I) · Thursday Talk

Leave a Reply