XL Apprentice

Karena belakangan banyak yang bertanya tentang program XL Apprentice, maka saya akan mencoba menceritakan sebenarnya apa itu XL Apprentice dari sudut pandang saya sebagai alumni.

Tepat setahun yang lalu, saya mendapatkan informasi mengenai program XL Apprentice ini dari sahabat saya, karena dia rasa program ini akan cocok dengan saya, begitu katanya. Entah bagaimana, saat itu saya mengamini ucapan sahabat saya itu dan dengan pede-nya langsung mendaftarkan diri melalui email ke bagian HRD. Padahal saya belum lulus.

Tidak lama setelah itu saya mendapatkan undangan melalui email, untuk melakukan tes pertama yaitu Psikotes, Bahasa Inggris, dan (bila lulus) dilanjut dengan FGD (Focus Group Discussion). Saat itu tes dilakukan di Grha XL, Mega Kuningan, Jakarta selatan. Sempat agak kaget ketika ternyata Psikotes yang dilakukan bukanlah Psikotes seperti pada proses seleksi di kebanyakan tempat; tidak ada tes koran, tes menggambar ataupun tes yang memutar-mutar kubus itu, melainkan GMAT (General Management Aptitude Test).

XL Axiata HQ

Menara Prima dilihat dari Grha XL

Setelah melakukan GMAT, tes selanjutnya adalah tes Bahasa Inggris. Saya rasa bukan TOEFL, entah apa, mungkin semacam tes yang dibuat sendiri oleh tim HRD. Relatif mudah dan tidak memakan waktu lama. Selanjutnya setelah diberi waktu untuk beristirahat, maka diinfokanlah siapa saja yang lanjut ke tahap FGD, yang dilaksanakan hari itu juga.

Beberapa hari setelah tes pertama, saya kembali mendapatkan undangan untuk menghadiri interview. Tes kali ini dilakukan di Menara Prima. Jadi ceritanya XL Axiata Head Quarter office itu ada dua: Grha XL, dan Menara Prima. Keduanya masih sama-sama di Mega Kuningan. Saat itu saya diinterview oleh empat orang: dua orang user (IoT dan SQC), dan dua orang HRD. Yang ditanyakan adalah pertanyaan-pertanyaan standard tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah, apa yang kita lakukan selama kuliah, dan sebagainya.

Singkatnya, beberapa hari kemudian saya diundang untuk melakukan medical check up, yang bisa dilakukan di klinik rekanan XL Axiata (saat itu klinik Pramita) di kota manapun, lalu beberapa hari kemudian melakukan tanda tangan kontrak di Jakarta.

***

Kebanyakan calon XL apprentice akan mempertanyakan apakah setelah program Apprentice berakhir (periode 1 tahun) akan langsung dijadikan karyawan tetap, yang kemudian jadi khawatir karena ternyata jawaban yang diterima tidak terdengar menjanjikan. Tapi menurut saya justru itu serunya jadi Apprentice, ibarat Hunger Games, ketika kita masuk sebagai Apprentice di XL Axiata kita akan bersaing lagi untuk mendapatkan tempat yang terbaik buat kita. Dan menurut saya, itu menyenangkan.

Seandainya memang setelah beberapa bulan menjadi Apprentice kemudian merasa tidak cocok bekerja di industri Telco atau di XL Axiata, dan ingin mencoba di tempat lain, itu boleh banget, kok. Tidak ada penalti bagi Apprentice yang resign sebelum masa Apprentice-nya berakhir. Dan sepengalaman saya, di XL cenderung fleksibel orang-orangnya, jadi kalau mau ijin untuk mengikuti tes di tempat lain cukup mudah dan besar kemungkinan malah mendapatkan dukungan.

XL Apprentice

Benefitnya untuk ukuran anak yang baru lulus kuliah boleh dibilang lumayan, lah. Training-training yang diberikan juga bagus-bagus, kadang juga ada acara-acara khusus untuk Apprentice yang lumayan seru. Tapi mungkin memang yang membuat banyak orang berpikir dua kali untuk daftar XL Apprentice adalah ketidakpastiannya itu, sih.

Jadi kalau boleh saya membagi beberapa kondisi setelah kita masuk sebagai Apprentice, itu ada tiga,

  1. Level A. Ketika kita menjadi Apprentice level A ini, maka kita akan mendapatkan unit atau divisi yang memang punya slot karyawan tetap yang kosong, atau memang sedang butuh karyawan tetap. Maka bisa jadi, dua bulan atau tiga bulan setelah kita masuk, kita langsung diangkat menjadi karyawan tetap. Atau mungkin kondisi kedua ketika kita memiliki performa yang sangat baik ketika menjadi Apprentice, bisa jadi kita dipermanenkan. Tapi kalau posisi yang ditawarkan kurang cocok, kita tetap bisa menolak.
  2. Level SS. Ini adalah sebenar-benarnya definisi Apprentice di XL Axiata, ketika unit atau divisi tempat kita mengabdi tidak punya slot karyawan tetap sehingga kita tidak mungkin dipromosikan menjadi employee di unit tersebut. Solusinya yaitu rajin-rajin buka internal job posting dan mencoba peruntungan untuk mendapatkan promosi di unit atau divisi lain (keuntungannya adalah kita punya kemungkinan untuk mendapatkan posisi yang lebih baik), atau kembali menjadi job hunter di luar kantor.
  3. Level Y. Seringnya sih karena sudah terlalu nyaman dan keenakan sampai lupa kalau dia belum dapat tempat duduk resmi di kantor ini. Dan begitu setahun berlalu, ada dua kemungkinan, yang pertama dia lulus dan selesai dari program apprentice, atau yang kedua meskipun ini sangat jarang sekali, yaitu masa apprentice-nya diperpanjang.

Saya kebetulan masuk di kateogori yang kedua.

Sempat manager saya bilang, bahwa kalau dia jadi saya, dia ngga akan mau daftar jadi XL Apprentice, karena tidak ada jaminan untuk menjadi karyawan tetap. Yang kemudian disusul dengan pertanyaan,

“Lo kenapa dulu mau daftar Apprentice?”

“Karena Gue yakin pasti bakal dapat, sih”

wink

(Lanjut ke Setahun kerja, ngapain aja?)

Comments 2

  1. A. R. Fahrobbi 17 November 2016

    Menurut pengalaman dan sepengetahuan mas agung, di XL ada divisi apa saja?
    Dan kandidat calon apprentice nantinya di tempatkan di divisi apa? Dan berdasarkan apa penempatannya?
    Terima kasih

    • Agung Agriza 17 November 2016

      divisi banyak hehe saya ngga hafal; brand communication, digital marketing, digital community, customer loyalty, finance, Human capital development, employee relation, Network, IT service monitoring, BRM, Customer service, digital transformation, LTE, Axis, dan lain-lain

      berdasarkan skill set yang kandidat miliki + background kuliah sih.

Leave a Reply