Young Leaders for Indonesia (YLI)

Ini salah satu proyek ambisius saya waktu kuliah. Jadi ceritanya, sejak SMA saya semacam menjadikan beberapa orang sebagai role-model. Orang-orang ini menurut saya hebat dengan caranya masing-masing, usianya rata-rata beda dua-tiga tahun diatas, dan saya menemukan mereka ini begitu saja, lewat blognya masing-masing misalnya. Salah satu dari mereka sebut saja Johan.

Suatu hari, kak Fadel, mantan kahim yang baru saja lulus, masuk ke kelas. Sayangnya, di kelas cuma ada saya dan beberapa orang yang belum pulang. Padahal kak Fadel ini mau promosi tentang Young Leaders Indonesia (YLI), iya, dia salah satu dari peserta YLI juga saat itu. Intinya dia cerita bagaimana seru dan betapa kerennya YLI ini dan berharap —yang kemudian jadi sebuah perintah karena tetiba muncul pak Rino di belakangnya sambil bilang “wajib, ya!”— kami semua sekelas daftar YLI. Saat itu saya sama sekali tidak tertarik, apalagi ketika tahu bahwa salah satu syaratnya adalah GPA minimal sekian. Waktu itu saya masih sensitif soal IPK, jadi harap maklum.

yli satellite 2

“Posternya saya tinggal disini ya, kasih tau ke teman-temannya nanti”. 

Tau apa yang kemudian terjadi dengan saya? Awalnya saya iseng ngambil poster itu, merhatiin muka-muka yang ada di posternya. Dan seketika, dari yang awalnya saya ngga tertarik sama sekali, berubah jadi sangat ingin sekali. Karena ada muka SI JOHAN! Ngerti ngga maksudnya? Engga ya? Gini, saya merasa Johan ini keren dengan caranya sendiri, pokoknya top lah. Dan seketika dia datang ke kelas saya —dalam bentuk poster— dan mengajak saya —masih dalam bentuk poster— untuk bergabung di sebuah organisasi atau event yang dia pernah ada di dalamnya, Seolah-olah dia bilang, “mau ngejar gue? Ikutan ini dulu kalau Lo bisa”. Gila ya gue, gampang banget dipancing!

Sejak detik itu saya jadi gelisah, karena ingin sekali ikutan YLI, tapi syarat IPK aja ngga tembus, gimana dong? Apalagi teman-teman sekelas bakal ikutan daftar juga, which is IPK-nya bagus-bagus. Saya kemudian menyesal kenapa IPK saya ngga bagus itu. Kemudian entah bagaimana, saya bulatkan tekad, saya yakinkan diri, “kalau jodoh ngga kemana”. Berbagai persayaratan saya lengkapi, mulai dari form, motivation letter, dan sebagainya. Harap-harap cemas. Lalu surprisingly, dari sekian belas teman di kelas yang saya khawatirkan itu, cuma tiga yang dipanggil, dan saya salah satunya. There is a way if there is a will, ya, Gung!

Interview, di ITB. Waktu sampai di gedung tempat interview dilakukan, ada papan besar yang penuh dengan nama-nama para kandidat yang akan di interview, banyaaak banget. Hampir semuanya dari ITB. Dan nama saya nyempil diantara ratusan orang itu. Akhirnya masuk, makin jiper. Karena satu, sepertinya semua kandidatnya ini memiliki kemampuan bahasa inggris diatas rata-rata, dan… jago banget ngejawab semua pertanyaan yang diajukan. Lagi-lagi saya cuma merasa sebagai butiran debu tayamum. Dan tibalah saya di interview sama kak Gadis, sebelum interview ini saya sudah ngefans banget sama kak Gadis, dia cantik dan cerdas. Pernah baca tulisannya di Jakarta post. Alpha female banget, lah. Idaman banget. Sayangnya saya bukan idaman dia banget, HAHA bodo amat.  Seperti interview-interview lain yang pernah saya lewati, saya malah curhat. Iya, curhat. Saya malah cerita, tapi memang itu kan gunanya interview, ceritain diri kita dan pemikiran kita? Engga ya? Yaudah.

Alhamdulillah saya diterima, hehe. Nah, sejak bergabung, saya jadi makin tau apa sih Young Leaders for Indonesia (YLI) yang diinisiasi oleh McKinsey ini. Jadi saya ngga cuma sekedar mengejar ambisi, tapi disini saya jadi makin mantap ngejalanin semua sesinya, karena bermanfaat dan berharga sekali setiap sesi dan jam di event ini. Priceless.

Dan efeknya buat saya pribadi, jelas softskill semakin terasah. Selain itu saya yang dulunya bisa dibilang apatis terhadap negeri ini, menjadi semakin bangga dan cinta akan Indonesia, serius. Saya juga semakin terbuka pikirannya, dan semakin optimis terhadap kondisi Indonesia kedepannya. Pokoknya banyak banget hal yang saya dapatkan disini yang mungkin ngga akan pernah bisa saya dapatkan di tempat lain.

Worth it, Gung? BANGET!

Leave a Reply