Tokyo: Itinerary

Percaya ngga kalau saya bilang bahwa saya baru bikin itinerary setibanya di Jepang? Satu-satunya saksi hidup ketidaksiapan saya adalah Kak Fiqi yang cuma bisa ketawa-ketawa lihat saya pusing malam-malam mencatat tujuan untuk 7 hari kedepan. Atau beberapa teman kantor yang mungkin sering mergokin saya googling soal Tokyo tanpa menghasilkan satu catatan apapun.

Keuntungan buat saya yang sudah sering melakukan perjalanan adalah, setidaksiap apapun itu, pasti ada plan. Termasuk ketika membeli tiket pesawat yang tiba di bandara Haneda, dan pulang melalui bandara Narita. Keputusan itu saja sudah cukup membuat itinerary saya selanjutnya menjadi lebih mudah.

Continue reading “Tokyo: Itinerary”

Sigma 30mm f/1.4

Sejak memiliki lensa 50mm di tahun 2012 lalu, saya langsung tau bahwa lensa selanjutnya yang akan saya miliki akan selalu lensa dengan fixed focal length, atau yang biasa disebut prime lens. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah focal length berapa yang pas dengan cara atau gaya pengambilan gambar yang sering saya lakukan.

Ketika dengan 50mm lalu saya sering merasa terlalu sempit, kemudian 18.5mm di Fujifilm X70 dan 19mm di Sigma Art Lens kadang terasa terlalu lebar, maka saya tau bahwa focal length yang sesuai dengan cara saya mengambil gambar, ada di antara 50mm dan 20mm.

Continue reading “Sigma 30mm f/1.4”

Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm

Bukan, ini bukan review mirrorless Sony A6000 ataupun Sigma Art Lens 19mm. Kali ini saya hanya akan sedikit berbagi cerita tentang gear yang sekarang menjadi bawaan saya sehari-hari dan beberapa contoh dari hasilnya. Oiya, jadi ceritanya selepas dari sistem Fujifilm, saya beralih ke sistem Sony. Sempat akan mengambil seri RX100 tapi mengingat kejadian kemarin dengan kamera yang tidak dapat diganti lensanya, saya memutuskan untuk mengambil seri A6xxx paling lawas, yaitu A6000.

Continue reading “Sony A6000 x Sigma Art Lens 19mm”

Naik Bus Malam ke Kuala Lumpur

Ini semua berawal dari sebuah pertanyaan tentang bagaimana caranya bisa berada di Singapura dan Malaysia dalam dua hari tanpa mengeluarkan budget untuk menginap. Dan ternyata caranya cukup mudah, yaitu dengan meninggalkan Singapura di malam hari dengan overnight bus, dan tiba di Kuala Lumpur pagi hari-nya.

Sebenarnya dari berbagai referensi yang saya baca, katanya ada kereta tidur atau sleeper train dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur seperti yang ada di India. Sayangnya sekarang kereta itu sudah ngga ada, sedih banget. Jadi mau ngga mau harus naik bus. Tapi tenang aja, karena ternyata bus malam di Malaysia itu nyaman banget dan ngga kebut-kebutan kaya bus malam di Indonesia.

Continue reading “Naik Bus Malam ke Kuala Lumpur”