Budak Kapitalis

Beberapa hari yang lalu ketika sedang berkunjung ke Surabaya, saya sempat berdiskusi tentang pekerjaan dan karir dengan seseorang yang cukup dekat dengan saya. Dalam diskusi tersebut ia mengutip saran yang diterimanya tentang betapa perlunya ia untuk masuk ke dalam sebuah perusahaan —apapun itu, untuk mengalami apa yang disebut bekerja untuk orang lain dan merasakan “nikmatnya” berada di ujung terbawah rantai korporasi sebagai sarana untuk mengembangkan diri.

Memang bukan itu cara satu-satunya untuk mengembangkan diri selepas dunia kampus, sebagai anak muda yang tumbuh pada generasi ini, rasanya kini kita punya lebih banyak opsi untuk mengembangkan potensi diri. Tapi kali ini saya menanggapinya dengan mengangguk setuju, karna saya pun mengambil jalan itu; menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar, dan memulainya dengan masuk ke lantai paling dasar dalam sebuah hirarki korporasi. Karena buat saya, memang itu yang saya perlukan.

Read more “Budak Kapitalis”