Imposter Syndrome

Jadi barusan saya baca medium-nya Yoel, salah satu role model per-UX-an di Indonesia yang membahas pengalaman beliau tentang Imposter Syndrome. Jujur ini baru kali pertama saya dengar tentang istilah tersebut. Melegakan membacanya, karena ternyata hal yang biasa saya alami ini ada penjelasannya, dan tentu saja bukan cuma saya yang mengalaminya.

Imposter syndrome itu singkatnya adalah merasa tidak layak karena (merasa) skill kita tidak sebaik atau jauh di bawah dari apa yang orang lain kira.

Continue reading “Imposter Syndrome”

Design Thinking

Ketika segerombolan millennial dengan label digital savvy tiba-tiba diundang untuk hadir pada sebuah workshop 4 hari dengan tema Design Thinking, yang juga menghadirkan para ibu-bapak yang biasa kami simpan namanya dalam kolom copy di email kantor—muncullah pertanyaan dalam diam— “Kenapa harus Design Thinking?”

Ini semua berawal di tahun 1958, tidak lama setelah NASA dibentuk. Seorang Profesor Engineering dari Stanford bernama John Arnold menggagas ide bahwa proses rekayasa desain seharusnya berfokus pada manusia. Saat itu, gagasan ini dianggap cukup nyeleneh—karena pada era perang dingin yang saat itu sedang terjadi, proses desain dan rekayasa produk lebih berfokus pada tujuan utama mereka, yaitu persaingan menuju luar angkasa dan optimalisasi bom hydrogen. Tidak ada unsur manusia-nya sama sekali.

Continue reading “Design Thinking”