Ah, it was me, pertengahan 2009. Dengan teman-teman saya yang memang saat itu cuma segitu, empat puluhan. Mereka ibarat lilin, ketika bandung masih begitu asing di mata saya.

Masing-masing lilin akan membawa saya ke jalan yang berbeda, menyusuri jalan yang berbeda. Sekarang saya sudah tidak tahu kemana para lilin-lilin itu. Mereka pergi, menerangi yang lain.

Karena terkadang kita harus menggenggam tangan kita sendiri untuk meyakinkan bahwa diri kita kuat. Dan terkadang kita juga harus melepas orang lain agar kita kembali bangkit.

Saya menemukan anak ini di dalam kereta KRD Ekonomi ketika perjalanan menuju Padalarang. Keringat bercucuran membasahi wajahnya yang masih sangat polos. Persis seperti pada foto ini. Dia menenteng keranjang besar berisi penuh dengan tahu sumedang yang saya yakin itu sangat berat. Bahkan untuk berjalanpun, badannya yang kecil itu sangat susah digerakkan.

Lalu dia berhenti di depan saya, mengelap keringat, dan meletakkan keranjanganya. Dan saat itu juga terlihat bekas tali keranjang yang dengan sangat jelas dan dalam tergambar di lengan kanannya. Menggambarkan betapa beratnya keranjang itu.

Dia tidak mengeluh, juga tidak memaksa kami untuk membeli barang dagangannya seperti kebanyakan pedagang asongan lain.

Mungkin dia lebih sering dimarahi ayah ibunya daripada saya, karena dagangannya tidak habis atau bahkan tidak laku. Mungkin dia lebih sering ditipu orang daripada saya. Mungkin dia lebih sering dipukuli preman daripada saya. Mungkin dia lebih sering ditampar, atau dilecehkan. Mungkin dia lebih sering tidak makan karena tidak punya uang. Tapi dia tetap berjuang, mungkin untuk biaya adiknya, atau bahkan untuk keluarganya.

Ya Tuhan, kemana saja saya selama ini yang selalu mengeluh dan jarang bersyukur sad