Catering Berrykitchen

Berawal dari beberapa bulan lalu dimana saya mengalami sakit. Bukan sakit ece-ece tapi sakit beneran, melibatkan tiga buah organ pencernaan. Bahkan sampai sekarang pun saya belum tau pasti apa sebenarnya yang terjadi di dalam perut karena saya tidak mengikuti saran dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bandel.

Menurut analisa Mama, tetangga, Dokter, Apoteker, dan semua orang, sakit yang saya alami adalah efek dari pola makan dan kualitas makanan yang buruk; sarapan yang sering terlewat, makan siang sering telat, makan malam yang terlalu malam, rajin makan junk food dan sebagainya. Yha, namanya juga anak kos.

Continue reading “Catering Berrykitchen”

Pebble : First Impression

Paling tidak sampai minggu lalu, saya masih berpendirian bahwa smartwatch itu bukan benda yang cocok buat orang yang ngga pengen ribet seperti saya. Punya satu buah handphone yang perlu di-charge sehari dua kali aja rasanya udah ribet banget, ini mau ditambah untuk ngecharge jam tangan segala?

Kemarin pun awalnya masih agak mikir-mikir ketika mau mengangkut Pebble Classic ke pergelangan tangan menggantikan G-Shock yang sudah agak berumur untuk sementara. Kebayang gimana nanti kalau baterainya habis, karena kabel yang digunakan bukan kabel USB yang biasa digunakan oleh kebanyakan device. Selain itu saya selalu punya pikiran bahwa smartwatch tidak akan pernah tahan terhadap air dan suhu sekuat jam biasa, apalagi G-shock. Was-was.

Continue reading “Pebble : First Impression”

iPhone 5s: Dua Tahun Kemudian

Coba tanya siapapun teman dekat saya semasa kuliah, pasti mereka tau kalau dulu saya pernah menjadi seorang yang skeptis banget sama produk Apple. I was an android fanboy back in 2010 ketika blackberry lagi hype padahal lelet banget, “bagian mana dari blackberry yang smart sampai dia bisa disebut sebuah smartphone?”.

Memasuki masa kuliah, saya menjadi the microsoft-guy, melawan arus android dengan Lumia dan berhasil mempengaruhi beberapa orang untuk pakai Lumia juga. Frustasi dengan segala keterbatasan di Windows phone, dan ngga mau pakai Android yang terlihat “mengerikan”, tahun 2014 akhirnya saya luluh dan pakai produk apple untuk yang pertama kalinya, iPhone 5s. Bangga sih, bukan karena iPhone-nya, tapi karena berhasil beli dengan uang hasil jerih payah sendiri.

Continue reading “iPhone 5s: Dua Tahun Kemudian”

Samsung Galaxy S7

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka dengan smartphone berukuran besar, jadi walaupun kemarin akhirnya kepincut dengan Galaxy Note 5, dalam hati sebenarnya masih berharap ada versi kecil dari seri note kelima itu.

Nah, bulan Februari kemarin dalam event MWC di Barcelona, Samsung untuk pertama kalinya memperkenalkan Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge. Awalnya dalam bayangan saya sih, Samsung Galaxy S7 ini akan lebih mirip dengan seri pendahulunya, Samsung Galaxy S6, tapi ternyata Samsung Galaxy S7 justru mengusung desain yang sama dengan Samsung Galaxy Note 5 —mulai dari material metal and glass yang digunakan, sampai desain ergonomis-nya— tapi dengan performa yang jauh lebih baik. Iya, itu artinya, harapan saya akan kemunculan versi kecil Note 5 jadi kenyataan.

Continue reading “Samsung Galaxy S7”

Samsung Galaxy Note 5

Saya baru mulai kepincut dengan smartphone buatan Samsung kira-kira tahun lalu, tepatnya ketika Samsung Galaxy Note 5 diperkenalkan (yang kemudian jatuh cinta ketika Samsung Galaxy S7 diperkenalkan bulan lalu!). Sebelum itu, saya termasuk orang yang skeptis dengan smartphone Samsung, selain karena kualitasnya yang menurut saya biasa aja, juga karena harganya yang relatif overpriced. Tapi apa yang dilakukan oleh Samsung pada Galaxy Note 5 sepertinya mulai menggoyahkan skeptisme saya pada smartphone pabrikan Korea selatan itu.

Continue reading “Samsung Galaxy Note 5”

Movie : Spotlight

Dalam satu bulan terakhir, saya menyempatkan untuk menonton tiga buah film yang diputar di bioskop. Sayangnya, dua film pertama yang saya tonton ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. A Copy of My Mind dan Deadpool, meski kedua film ini laris manis di linimasa twitter, saya kok kurang suka ya dengan film karya Joko Anwar itu, begitu juga dengan Deadpool, keduanya terasa biasa banget untuk ukuran film yang ditunggu-tunggu kehadirannya di layar lebar. Kemudian karena saya masih merasa butuh asupan akan film bagus, saya akhirnya kembali lagi ke bioskop untuk menonton film yang ketiga bulan ini: Spotlight.

Continue reading “Movie : Spotlight”

Fokus

Demi meningkatkan produktifitas dan tetap menjaga agar otak tetap fit, mulai akhir tahun kemarin saya mulai membuat challenge atau resolusi yang bersifat pribadi, maupun yang melibatkan orang lain. Biar rame aja sih, karena entah bagaimana kalau ada orang yang sama-sama mengejar suatu hal yang sama dengan saya, biasanya saya akan menjadi lebih bersemangat. Sama-sama mengejar wanita yang sama misalnya, apalagi kalau ngejarnya bareng teman atau sahabat. Krik.

Continue reading “Fokus”

Year in Review

Suatu saat saya akan merasa bahwa apa yang saya lakukan di 2015 kemarin was totally crap. Padahal kalau sekarang diberi pertanyaan yang sama, mungkin jawabannya akan beda.

Ketidakselarasan penilaian pada diri sendiri —yang belakangan saya alami— yang disebabkan oleh perbedaan usia dan tentu saja sudut pandang yang (sudah) berbeda nanti itulah yang bikin saya selalu ingin menulis review tahun yang baru saja lalu di setiap pergantian tahun. Sebenarnya bukan hanya tentang itu, tapi setidaknya ada bahan pengingat untuk dikemudian hari.

Continue reading “Year in Review”