Debat Perdana

Setelah sekitar setahun kebelakang ini kegiatan kompetisi saya dipenuhi oleh kompetisi-kompetisi di bidang IT, yang pada umumnya adalah kompetisi apps developing (which is ini benar-benar menyimpang dari major yang saya ambil), akhirnya kemarin, kesampaian juga niat saya untuk berkompetisi di luar dunia IT. Yap, debat marketing!

Sebagai seorang Phlegmatis-Sanguinis, debat adalah dunia lain bagi saya. By default saya memang seseorang yang lebih banyak nrimo, dibandingkan mendebat. Meski begitu, sebenarnya saya adalah seseorang yang lebih sering menolak, dan mendebat, meski hanya berakhir pada debat kusir dalam hati.

Mungkin banyak yang tidak percaya, termasuk teman-teman saya, ketika saya berkata bahwa saya akan mengikuti debat marketing. Okelah mungkin nilai mata kuliah marketing management saya memang mendapatkan predikat excellent, tapi debat? Seorang agung agriza mendebat?

Jangankan orang lain, saya sendiri juga tidak percaya…

Beruntung Tuhan mengirimkan dua malaikatnya dalam wujud manusia; Dimas, dan Naqi. Mereka berdua adalah partner saya nanti ketika berdebat. Dimas termasuk dalam unit IMAscITTelkom (Indonesia Marketing Association), sedangkan Naqi adalah mantan english debater ketika semasa SMA-nya. Maka berangkatlah kami bertiga ke Jakarta dengan target minimal final.

25 peserta, dan di babak 16 besar kami terhenti…

Perbedaan poin satu koma satu itu yang membuat kami kalah, dan saya yakin, kami dikalahkan tepat di closing statement, injury time. Ketika kami dengan lantang mempertahankan statement awal kami, untuk membuktikan bahwa kami memang benar, tanpa menyerang tim lawan sedikit pun; mereka justru menyerang dan menghancurkan kami disana.

Tidak masalah, nothing to lose here. Bukan mencari kambing hitam, tapi kami memang jauh dari kata siap untuk kompetisi kali ini. Hanya Naqi yang pernah mengikuti kompetisi debat sebelumnya. Murni tanpa persiapan. Target final mungkin memang terlalu tinggi untuk dijangkau, tapi ini pengalaman berharga buat kami bertiga; tentu saja.

Dan kompetisi selanjutnya, kami akan menang.

Mengapa Saya Mengikuti Imagine Cup

Ada satu masa dimana saya berada di puncak tertinggi dari sebuah entitas yang disebut ‘Semangat’. Oh, sebelumnya saya harus berterima kasih kepada —tentu saja kepada orang tua saya yang memutuskan untuk menyekolahkan saya di kampus ini, dan— kakak-kakak panitia PDKT (Pengenalan Dunia Kampus Telekomunikasi) 2011, yang meskipun bagi beberapa mahasiswa baru (termasuk saya) pada saat itu PDKT adalah neraka, tapi setidaknya kini saya menyadari betapa penting dan berhasilnya proses PDKT tersebut.

Ada satu hari, satu sesi, dimana kami para mahasiswa baru dikumpulkan di Gedung Serba Guna. Dan seperti biasa, saya selalu bersemangat untuk menikmati acara kali ini, meski seringkali hanya bertahan di 30 menit pertama.

Namun kali ini berbeda, dari menit pertama sampai menit terakhir, saya tetap semangat. Bahkan terbakar. Tentu saja, karena kakak-kakak panitia menampilkan para juara yang telah mengharumkan nama kampus bahkan nama indonesia di kancah dunia. Dari sekian puluh yang ditampilkan, nyaris tanpa satupun mahasiswa dari Program Studi (PRODI) yang saya ambil. Saya sempat shock, minder, dan sempat bertanya-tanya, apakah saya tidak bisa mengharumkan nama kampus bahkan negara melalui PRODI teknik Industri?

Masih belum terjawab pertanyaan tadi, muncullah beberapa senior yang saat itu menurut saya sangat keren, membanggakan. Mereka berjaya di Imagine Cup, sebuah kompetisi IT yang paling bergengsi di dunia, yang diadakan oleh Microsoft. Merah putih dikibarkan di tangan mereka.

Mungkin karena by nature passion saya memang di dunia IT, dan saya sangat doyan untuk ikut berbagai kompetisi, maka detik itu juga, Imagine Cup menjadi salah satu sesuatu yang akan saya kejar. Terlepas dari PRODI mana saya berasal, saya tidak peduli. Where there is a will, there is a way, isn’t it?

Singkat cerita, tiga bulan setelah PDKT, yang juga berarti sudah tiga bulan berstatus mahasiswa, saya akhirnya benar-benar berkompetisi di Imagine Cup 2012.

Saya bergabung dengan dua tim; Daltonica dan Namaste. Daltonica terdiri dari saya, dan dua senior saya dari jurusan informatika (Kak Fiqi,2007 dan Kak Boni,2009). Tim ini tidak terjun ke kompetisi local, melainkan langsung terjun di worldwide competition di kategori Windows Phone dan Kinect Fun Labs. Sedangkan Namaste adalah tim yang saya bentuk bersama dengan Ainu (Sistem Informasi, 2011), Reza (Informatika, 2011) dan Arif (Elektro, 2011). Dan tim Namaste ini terjun di local competition.

Singkatnya, saya mengikuti kompetisi Imagine Cup pertama kali di tahun pertama saya, dan dari jurusan yang anti-mainstream di kompetisi tersebut, dan dengan tiga project sekaligus, dengan dua tim yang berbeda.

Lantas apa yang saya dapatkan dengan tiga project dari dua tim yang berbeda dalam satu kompetisi super ketat itu?

  1. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, saya berasal dari Program Studi Teknik Industri, dimana kompetisi IT benar-benar bukan ladang untuk saya, bahkan saya tidak belajar apa itu pemrograman (algoritma belajar, sih). Maka dari sana, saya harus banyak belajar hal baru yang mungkin, sebenarnya itu tidak terlalu berguna dalam kuliah saya sehari-hari. Dan dari sana, saya menjadi tahu lebih banyak hal dibandingkan mahasiswa setingkat pada umumnya :)
  2. Deadline. Bagaimana ketika kuliah memasuki masa-masa sulit, dan deadline dari tiga project tersebut datang bertubi-tubi. Disanalah saya belajar bagaimana mengatur waktu, mengatur prioritas, dan keluar dari zona nyaman saya. Memang belum bisa dibilang berhasil, saya keteteran disana-sini. Tapi tidak mengapa, bagi saya dengan gagal dan salah itulah saya dapat menemukan apa itu berhasil dan benar.
  3. Kerja tim. Dengan dua tim sekaligus, yang mana anggota timnya juga baru saling kenal, benar-benar membutuhkan usaha yang kuat. Toleransi dan komunikasi yang baik adalah kuncinya. Dari sini saya banyak belajar berpendapat, mengalah, dan bekerja sama.
  4. Dan tentu saja, dari kompetisi ini saya belajar untuk berjuang, berusaha keras untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan, yang saya impikan. Mental saya benar-benar diuji disini. Keringat, bahkan air mata mengalir deras selama kompetisi ini berlangsung.
  5. Ilmu, inspirasi dan relasi baru.

Memang di Imagine Cup yang pertama bagi saya ini, saya belum berhasil meraih prestasi. Hanya sebatas 20 besar local competition (Namaste), dan dua project Daltonica lolos di Top 100 dunia. Tapi bagi saya, pengalaman dan hal-hal menarik yang saya dapatkan selama berkompetisi itulah yang paling penting, karena itu semua akan terus melekat disini; hati dan pikiran saya.

Nah, buat kalian para mahasiswa yang ngakunya ingin memperbaiki dunia, yang merasa punya ide briliant yang akan merubah dunia untuk menjadi lebih baik, dan ingin mendapatkan pengalaman berkompetisi yang luar biasa, silahkan daftar dan berkompetisi diImagine Cup 2013 :D

Semoga tahun ini saya bisa kembali berkompetisi di Imagine Cup dan kali ini dapat menyumbangkan prestasi bagi kampus dan Indonesia.

Aamiin,

Perayaan Atas Kegagalan

Tadi sore saya menyaksikan tim kelas saya bermain di final sebuah kompetisi futsal fakultas angkatan 2011. Iya, ini final. Itu artinya tim kami sudah mengalahkan berbagai tim. Begitu juga dengan tim lawan. Hebat? Jelas.

Pertandingan berjalan sengit. Sampai pada akhirnya kami unggul, dan kurang satu menit lagi kami akan merayakan kemenangan. Tapi lihat, keadaan berbalik secepat itu. Tim kami kalah dengan ketertinggalan dua gol. Dan tim lawan berpesta atas kemenangannya.

Ini tidak lucu. Ini membosankan. Bagaimana bisa manusia bertahan selama ini dengan peraturan seperti itu: Yang menang yang berpesta.

Kalau boleh saya menciptakan sebuah perayaan atau pesta yang baru, saya akan menciptakan sebuah Pesta atas kegagalan ke-kurang berhasil-an. Dan semua orang wajib merayakannya.

Kenapa? Karena semua orang pantas untuk diberikan sebuah penghargaan. Bukan hanya yang berhasil atau menang saja. Yang kurang berhasil atau kalah juga belum tentu mereka tidak berjuang kan? Lantas apakah tidak ada sedikitpun apresiasi bagi perjuangannya itu? Apakah setiap ke-kurang berhasil-an harus diakhiri dengan kesedihan? Tidak, kan?

Dan justru, menurut saya, yang paling harus diberi selamat, diberi hadiah, diberi sesuatu yang luar biasa itu adalah mereka-mereka yang kurang berhasil, mereka-mereka yang gagal. Karena mereka sebenarnya telah memenangkan sebuah kompetisi yang sangat besar. Yaitu kompetisi untuk menerima kegagalannya tersebut.

Karena menerima kegagalan bukanlah hal yang mudah. 

#LumiaAppsOlympiad

Terhitung sejak awal bulan desember kemarin, saya cukup disibukkan dengan event hastag tersebut. Sejujurnya sejak saya kembali kedunia perkuliahan semester 3 ini, saya bertekad tidak akan berkutat dengan dunia developer. Saya tidak ingin murtad. Saya ingin fokus di dunia Industri, dimana memang itulah major saya. Terlebih ketika saya masuk kedalam International Class. Tenaga dan pikiran tercurahkan sepenuhnya pada kuliah.

Tiga bulan jauh dari dunia apps-developer, ramai di twitter dan facebook tentang #LumiaAppsOlympiad, yah, biasalah, peluncuran smartphone baru. Saya murni tidak tertarik. Bahkan ketika teman saya bertanya, saya dengan santai menjawab, “Nggak usah, lah”.

Kenyataannya adalah beberapa hari sebelum deadline pendaftaran Olimpiade tersebut, saya dikontak oleh Ainu, teman satu tim di Imagine Cup 2012 dan berbagai kompetisi di 2012.

“Gung, kamu ngedaftarin kita di #LumiaAppsOlympiad ?”

“eh? kagak nu. Kenapa?”

“Itu kita udah terdaftar..”

… Siapa yang ngedaftarin? Dan akhirnya entah tersulut darimana, kami memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Toh cuma main-main, terlebih event ini membawa nama kampus. Kalau menang, kan, lumayan :)

Setelah dilihat-lihat, ternyata kompetisinya cukup mudah. Dan kebetulan saya tidak sedang hectic di kampus. Maka all-out lah saya. Kebetulan saya satu tim dengan teman saya yang satu lagi. Maka fix, tim ini terdiri atas kami berdua. Saya bagian User Interface, dan dia bagian Coding.

Untuk tahap pertama, tiap tim harus mengumpulkan sebuah file .xap (file applikasi-nya) dan sebuah video yang di upload di Youtube. Meski saya mengerjakannya hanya sekitar 15 jam saja sebelum deadline, dan meski prosesnya tidak semulus paha SNSD, kami berhasil masuk final. Dan yang lebih menyenangkan lagi, mayoritas finalis berasal dari kampus saya, Institut Teknologi Telkom.

Jujur ketika masuk final, semangat saya makin membara. Saya bosan jadi finalis, saya ingin menang. Memang pernyataan yang ambisius. Terlebih ketika melihat fakta bahwa saya bukanlah mahasiswa computer science, dan baru masuk ke dunia apps-developer kurang dari 12 bulan yang lalu.

Maka selanjutnya adalah menyelesaikan aplikasi yang kemarin belum jadi untuk kemudian dipresentasikan pada saat final di Jakarta. Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Saya memperbaiki user interface-nya, dan teman saya yang satu lagi itu mengurusi soal API-nya. Semuanya terlihat baik-baik saja, karena tidak ada satu keluhan pun yang keluar dari mulut teman saya itu. Pun ketika dia ditanya oleh ainu, “Gimana? bisa?”, jawabannya adalah “bisa nu..”. Kami mengerjakannya dengan sangat bahagia, tidak terlihat ada kesulitan sedikitpun. Maka saya yakin, kami akan mendapatkan medali emas disini.

Semuanya terungkap ketika deadline tinggal beberapa jam lagi dan API belum bisa diakses. Saya mulai panik. Ada sesuatu yang tidak beres disini. Namun apa daya, deadline tinggal menunggu menit. Dan dengan hati yang sesak antara ingin marah dan sedih karena kecewa mimpi saya untuk menyumbangkan emas mustahil untuk tercapai, saya berusaha tidur, menanti final esok hari, di Jakarta.

Kami berangkat ke Jakarta dengan finalis yang lain. Sepanjang perjalanan saya sangat tidak tenang, apa yang harus saya presentasikan kalau aplikasinya belum jadi seperti ini?

Sesampainya di Plaza Bapindo tempat dimana final dilaksanakan, si teman saya itu sama sekali tidak menunjukan perasaan bersalah. Dia hanya bertanya-tanya “gimana nanti? gimana nanti?” yang jujur saja makin membuat saya kesal. Saya muak! Akhirnya 30 menit sebelum giliran saya presentasi, saya keluar ruangan, dan membuka laptop untuk membuat aplikasi saya itu seolah-olah berjalan dengan baik. Tapi mau bagaimana lagi, tidak adanya koneksi internet membuat saya tidak bisa berbuat banyak.

Akhirnya tiba saat saya presentasi. Dan saya malu. Karena menurut saya, itu adalah presentasi paling gagal yang pernah saya lakukan. Jujur sejujur-jujurnya saya sangat kesal dan muak dengan teman saya yang satu itu. Arrrgggghhh!!!

Dan benar saja, kami saya gagal dapat emas. Dan berhubung dia tidak memberikan kontribusi apapun pada aplikasi ini, maka ketika pembagian medali, saya yang maju, dan saya yang pegang sampai sekarang medalinya. Beruntung dia tidak protes atau apa, toh mungkin dia juga sadar diri. Kejam memang, tapi bagaimana lagi. Mimpi saya dihancurkan begitu saja cuma karena dia yang merasa bisa dan malu untuk mengaku tidak bisa.

Meski begitu alhamdulillah saya membawa pulang sebuah medali perak, untuk Institut Teknologi Telkom. Saya bersyukur, tetap bersyukur meski masih… masih.. dan masih kesal. Kurang dari setahun saya bermain-main di dunia apps developer ini, berkali-kali masuk final, akhirnya berhasil juga menjadi juara, meski hanya juara dua :)

Harus lebih sering ditolak

Saya baru menyadari tentang kelemahan saya yang paling.. menurut saya paling menyebalkan. Jadi kelemahan saya ini adalah sebuah perasaan. Perasaan kesal yang amat sangat. Sampai-sampai dada rasanya penuh sesak. Bahkan sampai tidak bisa tidur.

Iya, jadi saya baru saja ditolak oleh sesuatu gitu. Nah, kelemahan saya adalah tidak bisa menerima penolakan. Entahlah, mungkin karena saya tidak biasa ditolak. Kurang lebih begitulah hasil dari analisa saya. Selama ini saya sangat jarang mengalami penolakan. Bisa dihitung dengan jari. Diterima.. diterima.. dan diterima. Ternyata tidak selamanya penerimaan adalah hal yang baik. Kadang kita harus ditolak juga, kadang kita harus jatuh juga, karena itulah yang akan bikin kita bangkit, dan melompat lebih tinggi lagi. *tsah!

Oke jadi, kesimpulannya. Saya tidak bisa menerima penolakan. Bukan kekalahan ya, tapi penolakan. Tapi penolakan yang disertai kekalahan, itu senjata terkuat untuk membunuh saya. Singkatnya, saya belum lapang dada. Dan agar saya bisa lebih berlapang dada, saya harus sering ditolak. Mumpung masih muda!

Tentang (ehem..) Marketing

Sebenarnya judul yang tepat adalah tentang berjualan. Namun agar terlihat sedikit lebih keren, maka Tentang Marketing-lah yang saya pilih. Ini bukan tentang suatu bab di mata kuliah Manajemen Pemasaran sore tadi, bukan juga sebuah judul buku motivasi bisnis. Ini tentang pengalaman saya selama 3 hari menjadi seorang Sales dan Marketer. Dimana ini adalah pengalaman pertama saya.

Selama menjadi mahasiswa, saya belum pernah mengikuti satu pun kepanitiaan. Saya takut berjualan. Sudah bukan hal yang aneh kalau di kampus saya banyak sekali mahasiswa yang menenteng kotak penuh gorengan atau donat. Ada yang memang untuk menambah uang jajan, namun kebanyakan adalah mereka para pengumpul dana untuk sebuah acara. Bahkan dikelas, bisa terdapat lebih dari empat kotak makanan dalam sehari. Dan bila tidak habis terjual, si penjual yang harus membayar sisanya. Menyakitkan.

Saya takut berjualan, lalu mendadak dijadikan seorang sales marketing di sebuah acara besar, launching Windows 8 di Bandung, Trans Studio Mall. Tiga hari itu, saya mengamini pepatah “Awalnya dipaksa, lalu terpaksa, lama-lama biasa, lalu bisa”. 

Sewaktu SMA, saya pernah menjabat sebagai ketua pelaksana sebuah event terbesar kedua di SMA saya waktu itu. Sebagai ketua, saya melakukan apapun yang saya bisa. Dan kebetulan, panitia-panitia yang lain sangat tidak bisa diandalkan. Hanya ada empat-lima-enam panitia yang benar-benar loyal. Dengan sumber daya minimal, saya dituntut oleh guru saya untuk menciptakan sebuah event yang luar biasa. Maka mau tidak mau, saya harus bekerja keras, dengan teman-teman yang seadanya, termasuk dana usaha. Namun tetap, saya tidak ikut berjualan. Tapi saya adalah ujung tombak ketika kami bernegosiasi dengan calon sponsor, yaitu perusahaan. Diskusi di ruang meeting XL dimana saya sendirian dikelilingi para bos-bos XL, saling nego, saya yang melakukannya. Diskusi di kantor speedy, bertemu dengan salah seorang manager, saya lakukan, bahkan saya datang ke rumah salah satu managernya. Dan alhamdulillah, event luar biasa itu benar tercipta.

Hanya itu pengalaman saya dalam hal marketing. Itupun tidak bisa dikatakan marketing, itu hanya.. negoisasi ditambah sedikit kepemimpinan.

16, 17, dan 18 November 2012. Saya ditugaskan untuk benar-benar ber-marketing ria, berjualan. Menghadapi berbagai tipe konsumen. Melayani berbagai keluhan. Memberikan solusi atas berbagai pertanyaan. Beruntung saya menikmatinya, saya melakukannya dengan hati. Ada banyak sales dan marketer lain disana, tapi kebanyakan, bukan hati yang mereka pakai, tapi otak. Orientasi mereka adalah uang. Sedangkan saya, saya tidak dituntut apa-apa oleh pihak Microsoft. Saya hanya dituntut untuk mengenalkan produk dan promo. Dan karena kebetulan saya sangat menyukai teknologi, maka saya menikmatinya, saya menjalankannya dengan hati.

Hari pertama memang saya masih malu-malu. Masih bingung. Saya masih segan-segan menghampiri dan menjelaskan kepada konsumen yang datang ke booth microsoft. Hari pertama siang hari, saya mulai berani, sore, saya mulai luwes. Ternyata ini menyenangkan. Hari kedua-ketiga, saya makin lihai. Diskusi panjang dengan berbagai konsumen. Bahkan ada yang memberikan saya ‘tip’ tapi saya tolak. Beberapa konsumen terlihat nyaman berdiskusi panjang lebar dengan saya, bahkan kami tertawa bersama. Saya senang melihat kenyataan bahwa mereka nyaman dengan saya. Tak jarang beberapa konsumen adalah mahasiswa dari kampus lain, ada juga calon Microsoft Student Partner, ada juga bos dari sebuah perusahaan sesuatu, ada juga developer windows, dan macam-macam. Dari tiga hari saya bekerja disana, sudah seperti berkeliling bandung rasanya.

Nah, dari yang saya amati, hanya saya seorang yang diberikan orang ‘tip’ di event tersebut. Mungkin karena itu tadi, saya pakai hati, saya melayani bapak-bapak seakan saya melayani ayah saya. Saya melayani ibu-ibu seakan saya melayani mama saya. Saya melayani yang seumuran, saya seakan-akan saya melayani diri saya sendiri. Sering saya merasa jengkel dengan beberapa sales atau spg di suatu acara, maka saya tidak ingin orang tersebut merasakan hal yang sama dengan saya bila berhadapan dengan saya. Saya ingin mereka bahagia. Saya hanya ingin, mereka puas setelah keluar dari event ini.

Dan alhamdulillah, tiga hari berjalan lancar. Pengalaman saya bertambah. Kepercayaan diri saya meningkat. Belajar memang tidak harus berada di kampus dan ternyata, pengalaman memang guru yang terbaik :)

Ucapan adalah doa

Berawal dari sebuah percakapan singkat di sebuah jejaring sosial dengan dosen wali saya, pagi tadi. Tidak seperti biasanya, beliau yang memulai percakapan. Seingat saya, kalau beliau yang memulai percakapan, pasti ada sesuatu, entah itu ada kakak kelas yang sedang mencari partner untuk sebuah kompetisi, atau ada urusan dengan akademik. Tapi ternyata pagi ini berbeda.

“Agung, foto yang kemarin kamu upload, dirimu sekarang jadi Microsoft Student Partner, kah?” Awalnya Saya agak terdiam membaca pertanyaan dosen wali saya tersebut. Foto yang mana? Pikir saya dalam hati. Setelah membuka halaman profile saya, ternyata memang benar, ada beberapa foto ketika saya jadi pembicara di openmind ProClub kemarin, sebagai Microsoft Student Partner. “Wah sudah 6 bulan bu saya jadi Microsoft Student Partner” jawab saya.

“Kerennnnnnn.. bahagia kalau anak wali ada yang berprestasi gini”cetus si Ibu wali. “Jadi ikutan bangga, bisa dipamerkan ke anak wali yang lain biar pada semangat mereka” lanjutnya. Mendadak hidung Saya berair karena pujian yang dilancarkan bertubi-tubi oleh dosen wali saya. Dipamerkan? Apa yang bisa dipamerkan dari seorang Agung Agriza?

Belum selesai rasa kebingungan Saya, si Ibu dosen wali  ini melanjutkan bombardirnya, “nanti kamu saya seret buat memotivasi anak-anak wali saya yang lain ya, sama nanti jadi pembicara di CDC (Career Development Center), kalau dulu kan Kak Wirawan (Alumni), generasi sekarang kamu yang jadi pembicaranya”. JLEB.

Saya? Disandingkan dengan Kak Wirawan? Legenda IT Telkom? Legenda ProClub? Legenda MSP-ITT?

Saya jadi ingat dengan sesuatu yang terjadi hampir setahun yang lalu. Saat itu sekitar akhir bulan Desember 2012. Ada sebuah acara, rangkaian dari acara SHAKTI 2011 (Ospek Fakultas). Acara malam itu adalah sebuah mini seminar yang diadakan di Student Hall, yang menampilkan beberapa kakak tingkat dari jurusan Teknik Industri yang boleh dibilang memiliki segudang pengalaman dan prestasi yang luar biasa.

Saat itu, Saya terpukau dengan mereka. Sampai-sampai Saya berkata kepada sahabat Saya, Ilham, “Tahun depan gue mau jadi pembicara kayak mereka, didepan”. Saat itu Ilham langsung menyetujui, “Iya, gue juga”, tapi cepat-cepat Ia kembali meralat kalimatnya, “Eh 2 tahun lagi lah, tahun depan mah belum bisa”. Dan Saya, dengan mata yang masih nanar menatap para senior yang sedang ‘berkhotbah’ berkata lirih,“Nggak, gue tahun depan”.

Dan benar saja, bahkan belum genap 12 bulan berjalan, Saya sudah menjadi seorang pembicara dihadapan hampir 400 mahasiswa/i IT Telkom di Gedung Serba Guna. Ini lebih besar daripada mini seminar tahun lalu yang Saya impikan. Maka tidaklah salah kalau Saya membenarkan bahwa ucapan adalah doa. Ya, ucapan adalah doa.

Apa saya berusaha keras bahkan sampai melakukan apapun untuk mewujudkan kalimat “Tahun depan gue mau jadi pembicara” yang tahun lalu saya ucapkan? Nyatanya tidak. Saya tidak berharap muluk-muluk memang, saya tahu diri, saya ini mahasiswa biasa. Agak mengada-ada nampaknya kalau saya memaksakan diri untuk jadi seorang pembicara. Bahkan saya lupa kalau saya pernah mengucapkan kalimat itu, tapi percayalah, semesta tak pernah lupa, Ia berkonspirasi untuk mewujudkan itu semua. Untuk mengamini ucapan saya setahun yang lalu.

Jangan pernah takut bermimpi, apalagi berandai-andai. Percayalah bahwa Tuhan selalu mendengar apapun itu :)

minggu kelabu

Ayah dari Mama-ku malam tadi meninggal dunia. Sudah setahun ini beliau jatuh sakit. Padahal dua-tiga tahun kebelakang, beliau segar-bugar. Kadang masih bisa ke sawah, atau ke kebun kopi untuk melihat hasil panennya. Bahkan kira-kira 1,5 tahun yang lalu beliau sempat membeli sebuah motor karena sepertinya gatal melihat anak-anak muda yang asik dengan motornya. Meski akhirnya jatuh dalam sebuah kecelakaan. Untungnya tidak terlalu parah. Dan mama hanya bisa geleng-geleng mendengarnya.

Setahun terakhir, beliau sering jatuh sakit. Tingkat kesehatannya fluktuatif. “Tapi unggang (sebutan kakek) mu itu aneh, di rumah dia sakit, pas dibawa ke rumah sakit di palembang dia sembuh, bahkan bisa main sama cucu-cucunya. Pas dibawa ke rumah lagi, dia sakit lagi”, kira-kira itulah yang mama pernah bilang.

Seminggu ini, keadaannya makin parah. Mama mulai gelisah, aku? sama. Dan kemarin, keadaannya makin kritis. Kakekku koma.

Subuh tadi, mama angkat koper ke palembang. Dia pulang, mengantar ayahnya pulang, kali ini ke rumah-Nya yang dimana dia tidak akan pernah sakit lagi. Jujur saya tidak tega melihat mama begitu sedih, menangis. Melihatnya, hati ini terasa teriris-iris. Dan betapa menyesalnya saya ketika saya hanya bisa mengantarnya, dan mencium pipi mama sambil berkata “hati-hati ya, Ma”, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Selamat jalan, Unggang. Pasti disana enak ya nggang, nggak ada suara berisik cucu-cucumu ini. Maaf juga belum bisa ngajak Unggang ke Bandung. Terus, terima kasih sudah melahirkan Mama yang begitu hebat buatku. Semoga amal ibadah Unggang diterima, ya, aamiin. Sampai ketemu lagi.

Menurut Saya

Menurut saya, membahagiakan semua orang memang tidak bisa. Entah benar-benar tidak bisa seperti kita tidak bisa memiliki energi-waktu-dan-uang dalam sekali waktu, atau karena memang saya yang tidak mengerti aturan mainnya.

Menurut saya, mungkin manusia memang tidak akan pernah bisa menjadi malaikat, walaupun dalam beberapa kisah, malaikat bisa berubah menjadi sosok manusia. Entah benar-benar tidak bisa , atau karena memang saya yang tidak tahu caranya.

Jangankan membahagiakan semua orang, membahagiakan dua orang pun rasanya susah sekali. Yang terjadi hanya kehancuran diberbagai pihak.

Menurut saya, hidup memang susah ditebak, ada sekian ribu pilihan dan kesempatan dalam sepersekian detik. Sudah hampir 20 tahun saya menjalani hidup ini, tapi tetap saja masih banyak kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Entah benar-benar hidup itu susah ditebak, atau karena memang saya yang tidak bisa menikmati hidup ini.

Saya menemukan anak ini di dalam kereta KRD Ekonomi ketika perjalanan menuju Padalarang. Keringat bercucuran membasahi wajahnya yang masih sangat polos. Persis seperti pada foto ini. Dia menenteng keranjang besar berisi penuh dengan tahu sumedang yang saya yakin itu sangat berat. Bahkan untuk berjalanpun, badannya yang kecil itu sangat susah digerakkan.

Lalu dia berhenti di depan saya, mengelap keringat, dan meletakkan keranjanganya. Dan saat itu juga terlihat bekas tali keranjang yang dengan sangat jelas dan dalam tergambar di lengan kanannya. Menggambarkan betapa beratnya keranjang itu.

Dia tidak mengeluh, juga tidak memaksa kami untuk membeli barang dagangannya seperti kebanyakan pedagang asongan lain.

Mungkin dia lebih sering dimarahi ayah ibunya daripada saya, karena dagangannya tidak habis atau bahkan tidak laku. Mungkin dia lebih sering ditipu orang daripada saya. Mungkin dia lebih sering dipukuli preman daripada saya. Mungkin dia lebih sering ditampar, atau dilecehkan. Mungkin dia lebih sering tidak makan karena tidak punya uang. Tapi dia tetap berjuang, mungkin untuk biaya adiknya, atau bahkan untuk keluarganya.

Ya Tuhan, kemana saja saya selama ini yang selalu mengeluh dan jarang bersyukur sad