Aku menyebut ini aktualisasi diri dan utilisasi otak kanan setelah setahun kebelakang berkutat dengan teori dan hitungan eksak bersama otak kiri.

Padahal sejak ke Jogja dengan Rara pada 2013 lalu, aku ingin sekali membuat rekaman perjalanan semacam ini. Pun begitu dengan Rara, dia selalu bersemangat akan video perjalanan kita. Tapi gagal karena alasan ribet; sebelum ini aku selalu merekam video dengan kamera DSLR, which is sangat berat dan butuh waktu set up yang cukup panjang

—but, ya, hasilnya memang sepadan—

Maka aku cenderung membekukan momen melalui frame kamera sebagai sebuah foto.

Terhitung sejak 2013, Jogja, tidak ada lagi minat untuk bermain dengan time frame video, seolah alam pun mengamini, memang tidak ada perjalanan atau momen yang aku rasa… worth it untuk diabadikan. Selain itu juga karena balik lagi ke alasan pertama, ribet dengan set up kamera. Terlebih sejak aku memakai iphone, peran DSLR jelas tergantikan. Dia lebih sering aku tinggal di rumah. Tapi untuk video, aku belum bisa percaya dengan kamera handphone, bahkan sekelas iphone.

Kemudian pertengahan 2015, ketika ternyata kuliah sudah berakhir dan waktu pun rasanya lebih senggang dibanding jeda waktu satu tahun kebelakang kemarin; aku mulai merasa kreativitas yang dimotori oleh otak kananku mulai lumpuh. Berkali-kali membuka notepad atau dashboard tumblr dengan niatan ingin menulis selalu berakhir dengan kebuntuan di tiga-empat kalimat pertama. Aku mulai menyalahkan rutinitas di kampus kemarin yang perlahan namun pasti membunuh kreativitasku. Aku mulai menyalahkan tidak adanya jeda antara masa-masa sulit tugas akhir dengan dimulainya masa kerja. Realisasi piknik pasca sidang nihil tak berbekas bahkan sebelum sempat dimulai.

Aku sempat ingin memulai lagi rencana piknik dengan mengikuti weekend short trip ke salah satu daerah di jawa tengah. Sebelum akhirnya, muncul invitation dari Schneider untuk short trip gratis ke… Singapura. Saat itu aku berpikir, mungkin ini saatnya kembali memunculkan letupan-letupan kecil di otak kanan. Ditambah dengan adanya device yang bulan lalu aku dapatkan dari Microsoft, rasa-rasanya tidak ada lagi alasan ribet dengan kamera DSLR, kan? Yaaa, sekaligus sebagai ajang uji coba smartphone yang konon dilengkapi dengan kamera terbaik ini lah, ya. 

Seneng sih, pada akhirnya bisa bikin sesuatu lagi walaupun sederhana dan tujuannya memang tidak lebih dari sekedar memenuhi hasrat pribadi, tapi pada akhirnya tetep aja bangga karena tidak sedikit yang mengapresiasi video ini :’)

Semoga semakin banyak buku yang dibaca, kalimat yang ditulis, dan piknik yang indah kedepannya, aamiin.

Leave a Reply