Alinea Sasikirana

Tulisan ini saya buat ketika ia sedang tertidur pulas di samping saya. Tiga bulan terakhir, dia memang selalu tidur di tempat yang sama dengan kami berdua. Mengisi ruang kosong yang tidak banyak, dan menjadikannya lebih hangat.

Sebelum menikah, saya tidak pernah secara khusus mendiskusikan tentang rencana kehamilan dan sebagainya dengan Aswita. Secara pribadi saya menganggap kehadiran buah hati adalah sebuah kebaikan. Dan saya juga tidak melihat adanya alasan untuk menunda kehamilan. Karena saya rasa kami berdua sudah cukup siap. Maka pikiran-pikiran untuk menunda dan sebagainya tidak pernah terlintas. Tapi tidak juga menduga akan secepat ini.

Dua hari setelah hari pernikahan, Aswita sempat membisikkan sebuah keinginan, yang terdengar lebih seperti sebuah rencana, untuk tidak langsung memiliki anak. “Ingin pacaran dan jalan-jalan dulu sama kamu” katanya. Sebagai gambaran, Aswita memang bukan tipe orang yang sering bepergian untuk berlibur. Meski dalam catatan saya ia lebih sering terbang ke luar kota dibandingkan saya, namun semua itu adalah perjalanan dinas. Maka meski sempat kaget dengan ucapannya tadi, saya bisa memahami maksudnya.

Jangan ada pikiran untuk menunda-nunda punya anak. Saya ingat betul, itu tadi adalah kalimat yang diucapkan oleh mama mertua saya 30 menit setelah Aswita membisikkan keinginannya. Konteksnya adalah, kami berdua diberikan wejangan oleh mama dan papa sebagai pengantin baru sebelum pamit untuk kembali ke perantauan. Entah memang insting kuat seorang ibu, atau pembicaraan kami di kamar sempat terdengar olehnya. Yang jelas, dengan pamitnya kami, maka gugur sudah rencana dan keinginan istri saya tadi.

***

Alinea Sasikirana. Sejak pertama kali mendengar detak jantung kecilnya melalui mesin USG hampir setahun yang lalu, saya langsung tau kalau saya akan amat sangat menyayanginya. Keyakinan itu semakin jadi seiring berjalannya waktu. Detak jantung, gerakan-gerakan kecil, proyeksi wajah dalam rekam 4-dimensi adalah cara kami untuk mengenalnya lebih dekat.

Dunia sedang tidak baik-baik saja saat proses kehamilan dimulai, pun sepertinya belum akan baik-baik saja saat Kirana lahir, hingga entah sampai kapan. Maka dari sekian banyak doa, harapan agar Kirana ikhlas menjalani semua proses ini adalah yang paling sering saya ucapkan dan bisikkan kepadanya bahkan sejak awal masa kehamilan.

Ikhlas lahir dari ayah dan ibu seperti saya dan Aswita. Ikhlas dilahirkan ke dunia yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ikhlas terlahir di Indonesia. Dan yang paling penting, Ikhlas belajar dan tumbuh bersama-sama karena bagi kami bertiga, ini sama-sama yang pertama.

***

Dan mendampingi seorang Aswita sejak awal kehamilan hingga proses persalinan adalah salah satu momen terbaik yang belum pernah saya alami selama 28 tahun hidup di dunia. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Melihat pertumbuhan janin yang berawal dari tidak ada, lalu menjadi seukuran kacang merah, detak jantung pertama, gerakan pertama, dan semua itu dipresentasikan dalam bentuk perut Aswita yang semakin hari semakin besar.

Bersyukur meski kami berdua harus beradaptasi dengan kondisi yang serba terbatas di tengah pandemi, dan emosi sempat naik turun, namun semua proses berhasil dilalui dengan baik. Sesekali memang ada masa di mana semuanya terasa lebih berat dan melelahkan, tapi balik lagi— kami saling mengingatkan untuk ikhlas agar Kirana juga ikut ikhlas.

Barangkali sembilan bulan kemarin adalah kesempatan untuk saya benar-benar mengimplementasikan apa yang saya tulis di sini, tentang bagaimana pasangan seharusnya saling berkesadaran, saling mendengarkan juga mampu untuk hadir secara langsung lahir dan batin.

Dan begitu saja, hingga di usia kehamilan minggu ke 40 saat Aswita mulai cemas karna belum ada tanda-tanda Kirana akan lahir. Ingat betul saat itu, tentang bagaimana saya selalu berupaya membuat dia tenang dengan afirmasi-afirmasi positif.

Hingga suatu pagi di hari minggu, tepat seminggu setelah kami pindah dari apartemen ke rumah kami, Aswita merasa perutnya sakit. Maka jadilah kami berdua meluncur dari Bintaro di tengah hujan yang cukup deras. Lalu singgah sebentar di McD Drive Thru sektor 9 untuk membeli sarapan. Karena entah bagaimana saya punya feeling hari itu akan cukup panjang untuk kami berdua.

Kami tiba di Klinik Tembuni, Kemang pukul 10.30 WIB dan pukul 14.38 WIB buah hati kami lahir dengan proses yang normal dan lancar. Meski proses persalinan tidak dilakukan di ruang bersalin melainkan di ruang praktek dokter tempat biasa kami konsul karena semua kamarnya sedang terisi, tapi alhamdulillah semuanya baik-baik saja.

Maka begitulah, dan ini adalah awal dari cerita tentang bagaimana alinea baru dalam kisah perjalanan hidup kami bertiga dimulai.

Leave a Reply