Beberapa Hal Belakangan Ini

Belakangan cuaca di Jakarta sedang tidak terlalu panas. Sesekali hujan turun meramaikan jalanan ibu kota, sampai terkadang ia lupa kalau manusianya juga butuh pulang. Bicara soal pulang, beberapa minggu terakhir ini saya hampir selalu menikmati perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Selain karena cuaca yang mendukung, berjalan kaki juga memungkinkan saya untuk mengamati dan merenungkan lebih banyak hal dibanding saat berkendara— meski itu artinya saya harus merelakan sedikit lebih banyak miligram karbon monoksida yang masuk ke rongga pernapasan.

Tahun ini menyisakan kurang dari tiga puluh hari. Sebenarnya banyak yang ingin diceritakan— tentang pilihan-pilihan, tentang perkenalan dan perpisahan, tentang menerima dan merelakan, tentang malam-malam panjang di kedai mie Aceh atau tentang hangatnya perbincangan di salah satu sudut kedai gelato baru-baru ini. Juga tentang pertemuan pertama dengan Manila, Tokyo dan Belitung, tentang hangatnya Yogyakarta dan Surabaya, tentang kontemplatifnya Ubud dan tentu saja Bandung— terlalu banyak, semoga ini mampu merangkum tentang beberapa hal belakangan ini.

Rasanya, tahun ini begitu cukup buat saya. Lebih dari cukup malah. Kalau mengingat bagaimana di tahun lalu saya merasa banyak kurang dan gagal di sana-sini, tahun ini tidak ada yang pantas untuk saya keluhkan. Semuanya berjalan begitu baik, sebagaimana mestinya, sesuai porsinya.

Mengawali tahun ini, banyak kabar yang menenangkan— tentang dijawabnya doa kami sekeluarga atas kehadiran anggota baru yang begitu dinanti. Tentang si bungsu kesayangan yang mulai menemukan wadah untuk beraktifitas. Tentang mereka yang mulai memantapkan hati pada pilihannya. Tentang pencapaian teman-teman yang meski masih sama-sama mencari setidaknya mulai bisa melangkah pasti dengan kaki sendiri— bisa sebahagia itu ya ternyata melihat orang lain bahagia.

Kemudian memasuki tengah tahun dengan perasaan campur aduk, terutama bulai Mei. Bahwa benar saya memang lemah terhadap bulan Mei dan November— semacam siklus enam bulanan. Ada sesuatu di bulan-bulan ini yang bisa membuat isi kepala dan dada sering tidak sejalan.

Di selepas tengah tahun saya belajar untuk mengorbankan sedikit ambisi saya untuk sekedar menjaga seorang rekan kerja yang saat itu saya rasa pantas untuk dijaga— baik semangatnya, maupun keberadaannya. Meski yang dijaga kadang lupa bahwa saya juga manusia, bahwa saya juga punya rasa. Tapi tidak mengapa, namanya juga berusaha.

Kemudian pernah ada tangis sejadi-jadinya di bulan Agustus, yang berujung pada pelukan-pelukan yang menenangkan. Tapi namanya perasaan, mana ada yang bisa menahan. Sore itu, seseorang yang selalu yakin akan diri saya bahkan sejak kali pertama bertemu, memutuskan untuk pergi. Bukan tentang kepergiannya, tapi tentang memori dan semua cerita yang sudah kami lalui. Tentang apa yang sudah Ia lakukan untuk saya, tentang dukungannya yang tidak pernah berhenti— bahkan sampai detik ini.

Pernah juga ada sedikit perselisihan dengan Mama; Saat itu, ego saya jauh lebih tinggi dibanding rasa hormat padanya. Meski pada akhirnya semua kembali baik-baik saja, tapi momen itu kembali membuat saya sadar bahwa tidak akan pernah lancar hari-hari jika hubungan dengan seorang Ibu sedang tidak baik; juga bahwa saya tidak pernah bisa apa-apa tanpa Mama. Hingga akhirnya beberapa minggu kemudian, Mama menghubungi lebih dulu, rindu katanya. Seandainya dia tahu betapa saya sangat menyesal sudah meninggalkan Bandung lebih awal hari itu.

Juga bersyukur ketika tahun ini beberapa “anak tangga” berhasil saya langkahi dengan baik— tentang sertifikasi profesional pertama saya, tentang peran dan tanggung jawab baru, rekan-rekan kerja yang semakin baik dan membaikkan, tentang keluar dari zona nyaman dan menjadi sebaik-baiknya diri selama 3 hari di Ubud.

Dan setelah semua ini— setelah tahun ke-25 yang luar biasa kemarin, sepertinya saya sudah mulai merasa cukup akan diri saya. Pelan-pelan saya sudah mulai merasa bahwa saya mampu untuk menapak dengan yakin tanpa ragu, mulai paham arah yang dituju. Maka saya pikir, sudah saatnya melepaskan sedikit demi sedikit pedal gas yang sedari awal saya injak dalam-dalam. Settling down kalau kata Jerry Cantrell.

Saya teringat di suatu ketika pernah berkelakar kepada seseorang yang pernah dekat, bahwa di usia dua puluhan ini, saya tidak akan pernah berkomitmen dengan apapun; tidak dengan seseorang, tidak dengan perusahaan, tidak dengan kota atau apapun lainnya. Sekian tahun telah lalu dan rasanya sudah cukup— rasanya saya sudah siap untuk memulai sebuah komitmen.

Maka terima kasih untuk hati, mata, telinga, kaki, tangan, dan semua bagian tubuh yang sudah melalui semuanya dengan sangat baik dan indah, meski tak berarti itu mudah— tidak pernah mudah malah. Terima kasih untuk pikiran-pikiran, peran-peran dan jalur-jalur yang sudah diambil. Semoga besok, lusa, dan bulan-tahun selanjutnya kita bisa melakukan dan berbuat lebih baik lagi.

Dan terakhir, terima kasih untuk seseorang yang belakangan membuat Jakarta sedikit lebih terasa seperti rumah.

One thought on “Beberapa Hal Belakangan Ini

Leave a Reply