Berhenti Sejenak

Setidaknya dalam satu tahun kebelakang, saya tidak pernah merasa sesehat ini. Selalu bersyukur meski untuk mencapai kondisi ini saya harus dipaksa istirahat dan berhenti dari segala aktifitas selama lebih dari 10 hari, plus menelan 6 buah pil obat dalam sehari untuk beberapa bulan kedepan.

Padahal ya, dari jaman kuliah dulu, saya termasuk orang yang percaya bahwa terkadang kita memang perlu berhenti sejenak dari segala rutinitas dan aktifitas. Yang kemudian semua itu perlahan terlupakan seiring terlalu asiknya rutinitas di kantor. Eh ladalah akhirnya tubuh memaksa saya untuk berhenti biar saya sadar.

malu difoto pas lagi jelek

23 Februari lalu saya tumbang. Setelah ditunda hampir satu tahun, akhirnya saya menyerah. Rumah sakit MMC yang saya jadikan pilihan kemarin, mengingat jaraknya yang hanya sepelemparan batu dari kosan saya saat ini.

Bulan Juni tahun lalu saya sempat ke Siloam Hospital di Semanggi dan Rumah Sakit Borromeous di Bandung, dimana saya memang disarankan untuk rawat inap untuk kemudian dilakukan tindakan lebih lanjut untuk mengetahui pasti ada masalah apa di dalam perut saya —endoskopi.

Saat itu waktunya tidak tepat, bulan puasa dan menjelang lebaran. Pikir saya, mungkin bisa diundur nanti setelah lebaran. Dan seperti yang sudah-sudah, saya kemudian larut dalam kesibukan di kantor. Ditambah juga karena saya takut dan malas berhubungan dengan rumah sakit, maka saya berharap ini cuma sakit biasa dan bisa sembuh sendiri. Meski pada akhirnya harus saya akui ini bukan sakit biasa dan tidak bisa sembuh sendiri.

buat satu bulan

25 Februari akhirnya tindakan yang sudah lama tertunda bisa dilakukan. Untuk pertama kalinya saya dibius —total. Ini juga yang sempat bikin Mama cemas sehingga memutuskan untuk langsung ke Jakarta meski sudah saya katakan berkali-kali untuk tidak perlu ke Jakarta, karena saya akan baik-baik saja.

Dari hasil endoskopi yang kemudian dilanjutkan dengan biopsi kemarin, didapati bahwa saya menderita apa yang disebut dengan radang usus kronis atau yang biasa disebut Inflammatory Bowel Disease (IBD).

Penyebabnya tidak diketahui, pasti ada hubungannya dengan makanan sih, namanya juga saluran pencernaan. Tapi menurut dokter ada kemungkinan ini terjadi karena sistem imun saya yang bereaksi berlebihan pada bakteri di usus, yang mengakibatkan usus saya kalah oleh sistem imun saya sendiri.

DE&T Family

Namun saya tetap sangat bersyukur karena apa yang dikhawatirkan tidak terjadi —dari hasil biopsi di usus tidak ditemukan adanya sel kanker. Meski begitu, menurut dokter proses penyembuhan radang usus ini akan memakan waktu yang lama, minimal 6 bulan atau bahkan bisa 1 tahun. Dan harus rutin kontrol ke dokter setiap bulan dan endoskopi setiap 3 bulan untuk melihat perkembangannya.

Tapi seperti kata pepatah, selalu ada hikmah di balik masalah. Pertama tentu saja saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Kedua saya jadi sadar ternyata saya punya banyak teman yang baik dan peduli dengan saya HAHA jadi baper waktu banyak banget yang nyempetin datang dari jauh atau bahkan sekedar bertanya kabar melalui pesan singkat. Terima kasih kalian heart

Begitulah, mulai sekarang belajar untuk makan lebih sehat lagi, belajar untuk tidak takut ke rumah sakit. Mudah-mudahan saya diberikan kesabaran aja untuk terus-terusan minum obat dan semoga lekas sembuh.

Aamiin.

Leave a Reply