Budak Kapitalis

Beberapa hari yang lalu ketika sedang berkunjung ke Surabaya, saya sempat berdiskusi tentang pekerjaan dan karir dengan seseorang yang cukup dekat dengan saya. Dalam diskusi tersebut ia mengutip saran yang diterimanya tentang betapa perlunya ia untuk masuk ke dalam sebuah perusahaan —apapun itu, untuk mengalami apa yang disebut bekerja untuk orang lain dan merasakan “nikmatnya” berada di ujung terbawah rantai korporasi sebagai sarana untuk mengembangkan diri.

Memang bukan itu cara satu-satunya untuk mengembangkan diri selepas dunia kampus, sebagai anak muda yang tumbuh pada generasi ini, rasanya kini kita punya lebih banyak opsi untuk mengembangkan potensi diri. Tapi kali ini saya menanggapinya dengan mengangguk setuju, karna saya pun mengambil jalan itu; menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar, dan memulainya dengan masuk ke lantai paling dasar dalam sebuah hirarki korporasi. Karena buat saya, memang itu yang saya perlukan.

Satu tahun yang lalu, saya resmi bekerja penuh-waktu di salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar setelah kurang lebih sembilan bulan menjadi apprentice di perusahaan yang sama. Menjadi budak kapitalis, kata orang. Saya justru tertawa karna seolah buruk sekali kesannya menjadi seorang pegawai kantoran disaat yang lain sedang berjuang membangun perusahaan mereka sendiri ataupun mengejar mimpi di benua biru. Sampai bosan rasanya mendengar diskusi tentang mana yang lebih baik: melanjutkan pendidikan, mendirikan usaha sendiri, atau bekerja kantoran di perusahaan yang sudah established.

Sengaja saya sebut paling akhir karena ada pemahaman seolah bekerja di dalam sistem yang sudah ada dan tidak bisa kita ubah sama artinya dengan mengubur mimpi-mimpi besar kita dengan rutinitas dan berbagai aturan ala kantor. Bagi saya tidak, justru dengan masuk ke kolam besar yang di dalamnya saya masih harus berlomba dengan ikan-ikan kecil lainnya, saya menjadi lebih paham tentang ukuran besar-kecil sebuah mimpi yang kita miliki sambil terus menata sedikit demi sedikit mimpi yang kita bangun. Meski kadang benar adanya bahwa kita harus sedikit (atau sering?) berkompromi dengan aturan-aturan dari atas yang kadang membuat gerak kita terbatas.

Hal tersebut menuntut saya untuk belajar berkompromi namun tetap memperjuangkan apa yang saya percayai, sesepele apapun itu. Dan yang paling penting, berada dalam kolam yang besar akan semakin membuat saya jauh dari tinggi hati dan terus ingin belajar karena dari hari ke hari semakin terlihat betapa kecil dan masih banyaknya kekurangan yang saya miliki. Ini yang menurut saya perlu dirasakan oleh fresh graduate yang sering merasa paling hebat.

Beruntung bagi saya ketika perusahaan yang saya pilih dan memilih saya untuk menjadi salah satu karyawannya ini, mengusung nilai-nilai yang juga saya junjung. Berada di lingkungan dengan orang-orang yang lebih sering memotivasi dibandingkan mendemotivasi saya untuk terus menjadi dan melakukan yang terbaik, bertemu berbagai pribadi-pribadi hebat dan inspiratif yang tidak bisa ditemukan di media sosial, berteman dengan mereka yang memiliki optimisme tanpa batas juga merupakan salah satu alasan kenapa saya masih bertahan sampai sekarang.

Kadang saya masih tidak percaya bahwa saya yang notabene-nya adalah mahasiswa yang paling sering menabrak aturan kampus, paling tidak betah di kelas, paling mudah berganti haluan, berhasil melalui tahun kedua di perusahaan yang sama sejak awal lulus kuliah dengan sangat baik. Mungkin memang benar adanya bahwa bekerja di kantoran tidak semembosankan apa yang banyak diceritakan orang diluar sana, atau mungkin saya yang sudah mulai nyaman menjadi budak kapitalis.

Leave a Reply