Cerita sedikit

Saya ingin cerita, betapa saya dari kecil sudah bercita-cita untuk berkuliah di jurusan Teknik Informatika. Bahkan sejak sebelum masuk sekolah dasar. Betapa ayah saya sangat mendukung saya untuk masuk ke jurusan tersebut. Betapa ayah saya sangat semangat menceritakan masa kuliahnya di informatika untuk memotivasi saya. Betapa bahagianya saya ketika tahu bahwa paman saya yang saat itu sedang berkuliah di Informatika ITS membuatkan saya sebuah game khusus untuk saya yang disimpan dalam sebuah disket. Betapa yakinnya saya saat itu.

Waktu terus berputar. Dan perlahan konsistensi saya mulai luntur, keyakinan saya mulai goyah. Mimpi saya untuk menjadi sarjana teknik informatika perlahan bergeser. Bahkan sempat banting stir jauh sekali, saya ingin jadi Mahasiswa Hubungan Internasional. Lalu banting stir lagi menjadi Mahasiswa ‘pajak’ meski hati menolak.

Saya tumbuh sebagai remaja yang inkonsisten, terlebih ketika di bangku SMA. Seperti kata seorang sahabat saat itu, saya terlalu mudah dipengaruhi. Saya terlalu menuruti apa kata orang, dan di ujung masa SMA saya, pikiran mulai berkecamuk. Saya lelah, saya mengeluh, dan terus mengeluh. Dan Saya hampir melacurkan impian saya.

Setelah lelah mencari tujuan, saya mencoba menutup telinga terhadap semua propaganda-propaganda anjing marketing institusi-institusi yang silih berganti masuk ke ruang kelas saya; menyalak-nyalak. Saya merasa sudah cukup mendengarkannya, kini saatnya saya mendengar apa kata hati saya sendiri.

Dan akhirnya, Informatika. Saya yakin dengan ini, dan Institut Teknologi Bandung. Tapi saya harus realistis, kemampuan saya mungkin tak akan mampu menembus gerbang kampus ini. Maka pilihanpun jatuh pada Institut Teknologi Telkom, kampus ayah dan kakak saya. Lalu saya berdiskusi dengan mereka, ayah dan ibu saya. Namun apa yang terjadi adalah, mereka meminta saya untuk masuk ke Teknik Industri dengan berbagai alasan. Dan singkat cerita, saya diterima di Teknik Industri Institut Teknologi Telkom, satu jurusan dengan kakak saya.

Antara bahagia dan sedih, sesekali saya masih mengetikkan keyword yang berhubungan dengan ‘Informatika’ di mesin pencarian. Dan menemukan sebuah blog mahasiswa teknik Informatika IT Telkom, Wirawan Winarto. Saya baca beberapa tulisannya, tentang kegiatannya, dan tentang kampusnya. Dan dari blog inilah saya pertama kali tahu tentang Microsoft Student Partner, dan ada sebuah incubator di IT Telkom yang bernama, ProClub, yang sudah berhasil menaklukan Indonesia, atau bahkan dunia.

Yah, saya sangat kecewa karena ternyata mayoritas anggota ProClub adalah mahasiswa Teknik Informatika, dan tiap tahun hanya diterima sangat sedikit dari ratusan yang mengikuti seleksinya. Bahkan  saya sempat mention ke @hmif_ittelkom dan bertanya apakah jurusan selain informatika boleh mendaftar di ProClub? Yang kemudian dijawab, boleh, biasanya ada anak elektro, telekomunikasi, dan sistem komputer yang daftar dan keterima.

Okay, but, wait.. Industri? bagaimana dengan teknik Industri? apa ada kesempatan? berhubung sudah lelah, saya kubur rasa penasaran saya. Sebenarnya Saya sangat menyesal, tapi bagaimana lagi, teknik industri adalah pilihan orang tua saya. Dan akhirnya, Saya kubur dalam-dalam tentang ProClub. Dan mencoba hidup dalam dunia Industri. Dan masa kuliah pun dimulai, selamat datang Teknik Industri smile

Kira-kira setahun kemudian..

“Pagi. Salam kenal juga, Saya Agung Agriza, Teknik Industri 2011, Institut Teknologi Telkom :)” kalimat ini muncul disebuah milis, Microsoft Student Partner Indonesia, disesi perkenalan anggota baru, diantara puluhan kalimat salam kenal yang diakhiri dengan ‘Teknik Informatika’, Teknik Industri muncul, dan itu saya. Ternyata saya bisa..

“112111224” Nomor induk ini juga muncul di sebuah daftar anggota, ProClub ITTelkom, diantara puluhan 113 yang merupakan kode Teknik Informatika, muncul sebuah 112 yang merupakan kode Teknik Industri, dan itu saya. Ternyata saya bisa..

Saya jadi teringat sebuah kalimat dari dosen fisika saya, “kalau kalian merasa ini bukan tempat untuk anda, tenang saja, karena cepat atau lambat, anda akan dibelokkan oleh Tuhan ke skenario anda yang seharusnya”, mungkin ini skenario saya.

Dan satu lagi, ternyata pilihan orang tua tak pernah salah.

Leave a Reply