dekat

Seribu delapan ratus dua puluh hari. asumsikan saja begitu. Dan baru kali ini aku merasa benar-benar dekat denganmu. 

23 Januari 2012. Pagi masih berselimut mimpi. Dan aku termangu di kota yang sama denganmu. Sudah dua hari ini aku merasa sangat dekat denganmu. karena memang saat ini kita sedang berdekatan. Jarak rumahku dan rumahmu hanya lima kilometer, padahal biasanya, rumah kita berjarak enam ratus sembilan puluh dua kilometer. Dan oiya, hari ini umurmu tepat delapan belas tahun sepuluh hari. Padahal dulu, ketika aku melihatmu untuk pertama kali dan kemudian jatuh hati, umurmu masih tiga belas tahun. Ternyata waktu tidak pernah ingkar janji ya, dia akan selalu membawaku kesini, ke kamu.

Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Sepertinya semesta berkonspirasi untuk membuatku semakin rindu akan dirimu.

Sekitar pukul sebelas, aku menjemputmu. Bukan di rumahmu yang lima kilometer itu, tapi yang lebih dekat lagi, hanya tujuh ratus lima puluh meter. Kamu datang, dan rindu itu lebur. Menyambutku dengan berlari, dan masih dengan senyum yang sama dengan kemarin. Senyum yang membuatku sangat berat untuk pergi meninggalkan kota ini.

Siang itu kita melaju melawan teriknya matahari. sepanjang perjalanan kita berbincang diantara kebingungan jalan mana yang harus kita lalui. Tapi beruntung kita tidak tersesat sedikitpun. Dan aku sangat senang hari ini. Meski ada hal yang sempat membuatku sedikit kecewa, tapi.. okelah. Dan lagi-lagi aku sangat betah untuk memandangmu dalam-dalam.

Setelah makan siang, tak banyak yang kita lakukan. Hanya menyusuri lantai demi lantai dengan berbagai cerita dan guyonan. Sampai akhirnya berakhir dibawah birunya lampu langit-langit, disebuah kursi yang membelah jalur mobilisasi pejalan kaki. Masih dengan cerita dan guyonan-guyonan ringan, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan semua yang sempat terlewatkan oleh mu. Dan cerita-cerita itu bergulir dengan sendirinya. Sesekali mataku berkaca-kaca saking emosionalnya aku. Dan kamu, memandangku dengan penuh simpati, yang kemudian menenangkanku dengan merangkul pundakku dan merebahkan kepalamu dibahuku. Atau sekedar menepuk-nepuk pundakku. Aku belum pernah selarut ini ketika bercerita, tapi denganmu, aku tumpah.

Tak terasa dua jam lebih kita duduk di kursi itu. Berbagi asa, rasa, cinta, dan cerita.

Selepas shalat maghrib, kita pulang. Ditemani rintik-rintik air sisa hujan tadi sore, dan gemerlapnya lampu kota surabaya, roda melaju cepat. Lampu-lampu kota menjadikan jalan raya yang basah menjadi merona. Dan aku percaya, malam ini, pasti semesta sedang berkonspirasi untuk menciptakan suasana paling romantis untuk kita berdua.

Aku mengantarmu ke rumah yang lima kilometer itu. Berkali-kali kamu mengingatkanku untuk berhati-hati karena history teman-temanmu yang pertama kali kesana pasti tersesat pulangnya. Ya, ini pertama kalinya aku mengantar dia pulang ke rumah sejak 2007. Tapi aku yakin, aku akan jadi orang pertama yang pulang tanpa tersesat. Dan itu terbukti smile

Terima kasih buat hari ini, sayang. terima kasih sudah mau menemani sebelum besok aku pergi lagi, jauh lagi, enam ratus sembilan puluh dua kilometer lagi. Dan mudah-mudahan kamu senang ya smile

Leave a Reply