Thoughts
comments 2

Design Thinking

Ketika segerombolan millennial dengan label digital savvy tiba-tiba diundang untuk hadir pada sebuah workshop 4 hari dengan tema Design Thinking, yang juga menghadirkan para ibu-bapak yang biasa kami simpan namanya dalam kolom copy di email kantor—muncullah pertanyaan dalam diam— “Kenapa harus Design Thinking?”

Ini semua berawal di tahun 1958, tidak lama setelah NASA dibentuk. Seorang Profesor Engineering dari Stanford bernama John Arnold menggagas ide bahwa proses rekayasa desain seharusnya berfokus pada manusia. Saat itu, gagasan ini dianggap cukup nyeleneh—karena pada era perang dingin yang saat itu sedang terjadi, proses desain dan rekayasa produk lebih berfokus pada tujuan utama mereka, yaitu persaingan menuju luar angkasa dan optimalisasi bom hydrogen. Tidak ada unsur manusia-nya sama sekali.

Terinspirasi oleh gagasan Arnold, Bob McKim yang merupakan Profesor Engineering , bersama dengan Matt Kahn yang seorang Art Professor, membangun sebuah program studi yang disebut Product Design. Dalam program ini, McKim dan yang lainnya mulai menciptakan apa yang disebut dengan proses Design Thinking, yang kemudian menjadi dasar bagi Stanford Design School, dan juga menjadi kerangka bagi perusahaan-perusahaan yang berfokus pada aspek manusia dalam membuat sebuah produk— seperti Amazon, Apple, dan Google.

Design Thinking itu sendiri adalah sebuah pendekatan atau cara berpikir yang praktis dan kreatif dalam memecahkan sebuah permasalahan agar dapat memenuhi kebutuhan pengguna (manusia). Bisa dibilang, Design Thinking merupakan gabungan antara kreativitas, empati/emosional, dan rasionalitas.

Design Thinking juga sudah terbukti untuk memecahkan berbagai macam permasalahan yang dapat digunakan oleh industri atau bisnis apapun untuk meraih hasil yang lebih baik. Dengan mengkombinasikan kreatifitas dan cara berpikir kritis, pendekatan ini mampu menjadikan ide-ide dan informasi menjadi lebih terorganisir, keputusan-keputusan menjadi lebih mudah dibuat, dan ilmu untuk terus berkembang. Titik berat Design Thinking adalah fokus pada solusi, bukan pada masalah.

design thinking workshop

Lalu kenapa kita harus menerapkan Design Thinking?

Menurut saya, Design Thinking sudah seharusnya berada di inti dari sebuah bisnis atau organisasi agar terbentuk sebuah budaya dan pola pikir yang berfokus pada bagaimana sebuah problem dapat dipecahkan. Terlebih pendekatan ini dapat diimplementasikan pada berbagai produk, layanan, dan proses; atau apapun yang membutuhkan sebuah improvement.

Selain itu, Design Thinking juga membuat semua orang terlibat pada prosesnya, bukan hanya para designer— itulah kenapa ibu-bapak ini berada di dalam workshop yang sama dengan kita— sehingga semuanya dapat membantu melihat permasalahan yang ada dengan mata dan pikiran yang jernih.

Dan pada akhirnya, dengan pendekatan Design Thinking bias-bias yang ada akan terminimalisir, dan membuatnya kembali balance dengan perspektif yang berfokus pada pengguna sehingga dapat menghasilkan solusi yang tepat— semoga.

2 Comments

Leave a Reply