Diskursus

Dari semua hiruk-pikuk tentang pilihan politik kemarin, ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran yang berujung pada riset-riset kecil tentang pilihan-pilihan politik manusia.

Berawal dari kegemasan saya akan fenomena di sekitar, di mana figur yang saya rasa cukup berpendidikan ternyata begitu mudah terbawa oleh opini dan narasi yang dibentuk oleh pihak tertentu.

Dalam riset kecil-kecilan yang saya lakukan selama perjalanan Jakarta-Bandung malam tadi, bisa dipahami bahwa manusia dalam pandangan politik dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok: Konservatif dan Progresif.

Kelompok Konservatif adalah kelompok yang beranggapan, dalam bermasyarakat, ketertiban adalah hal yang utama sehingga mereka lebih menyukai aturan-aturan yang sudah pasti dan tidak boleh diubah. Bisa ditebak bahwa kelompok Konservatif dalam realitasnya akan lebih dekat dengan aturan agama dan tradisi, karena aturan-aturan tersebut diyakini lebih luhur dari manusia.

Sedangkan kelompok Progresif adalah kelompok yang menjunjung hak-hak individu. Kelompok Progresif meyakini bahwa sebuah aturan sudah seharusnya mengikuti perkembangan masyarakat (ber-progress). Dalam melihat aturan agama, kelompok Progresif memaknainya sebagai aturan yang harus ditafsirkan lebih dulu, sehingga kelompok Progresif melihat proses diskursus sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam bermasyarakat.

Singkatnya, kedua kelompok ini memiliki pemahaman yang berbeda terkait aturan. Di mana Konservatif percaya bahwa aturan harus dijunjung dan ditegakkan oleh semua masyarakat agar tercipta masyarakat yang baik, sedangkan Progresif melihat kemanusiaan jauh lebih penting dari sebuah aturan itu sendiri.

Bukan, ini bukan tentang menjadi pihak yang jahat atau yang baik. Menjadi Konservatif ataupun Progresif hanya sekedar preferensi kita sebagai manusia dalam memandang tatanan bermasyarakat. Lagipula preferensi ini bukan merupakan pembagian hitam dan putih, melainkan sebuah kutub-kutub dari sebuah spektrum.

Justru yang menarik dalam bahasan ini menurut saya adalah, ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan struktur otak di kedua kelompok ini. Di mana kelompok Konservatif memiliki Amygdala yang lebih tebal sedangkan Progresif memiliki Insula lebih tebal.

Amygdala sendiri adalah bagian otak yang berhubungan dengan rasa benci, jijik dan takut. Sedangkan Insula adalah bagian otak yang berhubungan dengan rasa simpati dan empati. Nah, aktifitas di kedua bagian otak ini menjadi dasar penjelasan mengenai cara berpikir dan preferensi politik kedua kelompok tadi.

Misalnya untuk Progresif di mana bagian Insula-nya lebih tebal, maka kelompok ini akan menyukai karakteristik pemimpin yang merakyat, rendah hati dan simpatik. Pemimpin yang demokratis akan lebih mudah diterima dibandingkan pemimpin yang otoriter. Karena pemimpin yang otoriter cenderung akan mematikan proses demokratisasi dan merampas hak-hak individu.

Sedangkan orang-orang Konservatif karena lebih terdorong oleh rasa takut dari Amygdala, maka mereka akan menyukai karakter pemimpin yang kuat, tegas dan berwibawa. Bahkan mereka terbuka dengan pemimpin otoriter karena dengan begitu ketertiban akan dicapai.

Selain itu orang-orang Konservatif juga cenderung lebih menjunjung tinggi batasan-batasan kelompok (ke-aku-an), dalam artian “insider vs outsider”, orang asing vs orang pribumi, muslim (mayoritas) vs non-muslim (minoritas). Ini berhubungan dengan ketakutan tadi dimana mereka takut kelompok mereka (insider) akan dikalahkan oleh kelompok luar (outsider).

Ini cukup menjelaskan pertanyaan saya di awal tadi, kenapa seseorang bisa dengan mudah tergiring pada sebuah narasi dan sebagian orang lain tidak. Sesederhana karena otak kita merespon semuanya dengan cara yang berbeda. Dan tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan seseorang.

Jadi bisa dipahami kenapa salah satu pihak selalu menggunakan narasi negatif seperti Indonesia akan bubar atau negara akan dijual ke Cina dan sebagainya. Pun begitu juga dengan berita hoax yang disebar selalu mengangkat isu kelompok agama, ras dan sebagainya; Karena memang yang disasar adalah segmen pemilih Konservatif dengan cara memicu aktifitas Amygdala-nya dengan ketakutan dan kebimbangan. Dalam kata lain “dieksploitasi Amygdala-nya”.

Tapi dari semua hal tentang reaksi otak tadi, saya juga percaya bahwa lingkungan pun berperan dalam membentuk preferensi manusia. Karena seperti otot, otak juga bisa dibentuk. Meski lagi-lagi, sebagai makhluk, sering kali kita hanya ingin membaca dan mendengar hal-hal yang ingin kita dengar atau percayai. Karena kembali lagi: semua itu pilihan.

“It’s not that they don’t know the truth. It’s not that they want to know the truth, either. Information is available if they looked for it. No, they fear the truth. And being part of a mob is a good way to hide from that fear.”

Seth Godin

Dari semua ini, saya jadi yakin bahwa di era post-truth ini, selain pendidikan agama, kemampuan literasi juga salah satu bagian penting yang harus diasah. Kemampuan literasi bukan sekedar bisa baca-tulis, tapi juga tentang memaknai dan mencerna sebuah informasi, mengkritisinya dan juga mengkomunikasikannya. Berbagi informasi, bukan tularkan emosi, kan?


Referensi
  1. Pemilu Irasional dan Gejolak Post-Truth, Kompas.
  2. How ‘moderate’ are Indonesian Muslims?
  3. Could Neuroscience explain what Trump voters are thinking?
  4. Political Orientations Are Correlated with Brain Structure in Young Adults
  5. Hoax dan Teknik Propaganda Firehose at The Falsehood

Leave a Reply