Dua Dekade

Bukan angka yang membuat kita tua, tapi sikap kitalah yang membuat kita dewasa. Selamat datang di ‘dunia lapis kedua’, gung.. :)

Ada yang bilang, mengucapkan selamat ulang tahun itu tidak boleh, dosa katanya. Mungkin saya memang tidak begitu pandai soal menentukan mana hal yang dosa dan tidak, tapi menurut saya, apa yang salah dengan kita mengucapkan selamat yang kebanyakan diselingi dengan doa? Itu yang saya suka dari hari ulang tahun, teman-teman beramai-ramai mendoakan. Mengucapkan harap, tentu saja harapan kebaikan.

Dua puluh tahun ini beda. Pernah merasa belum siap dengan umur kita yang terus bertambah? Saya pernah. Sering. Tapi kali ini berbeda, entah karena apa. Saya merasa sangat siap dan layak menyandang angka dua puluh ini. Saya menyambutnya dengan bahagia, tidak pernah sesiap dan sebahagia ini.

Bertepatan dengan Tahun Baru Islam, sekaligus kepulangan nenek saya dari Tanah Suci. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, Dua puluh tahun ini berbeda. Tidak tanggung-tanggung, tiga kali saya meniup lilin berbentuk angka 20 hari itu. Pertama, pagi-pagi.. Mama ternyata sudah menyiapkan kue beserta lililnnya.

Kedua, sore-sore, Bi Inez dan Mang Alif, ternyata mereka juga mengingat bahwa hari ini ulang tahun saya, mereka datang ke rumah dengan membawa kue serta lilin angka 20 juga.

Ketiga, masih sore-sore juga, sahabat-sahabat terbaikku, Rara dan Ilham (tanpa adira :( ), diatas kue red velvet, lilin dengan angka 20 berdiri tegak. Diiringi dengan gerimis sore itu, dibawah temaram lampu kuning sebuah cafe di dekat SMA kami dulu, pesta kecil tercipta.

Doa-doa terucap, bahkan saya sempat meneteskan air mata, dan tentu saja, tawa. Mama, Papa, Nenek, Mbak Rin, Fauzan, Naila, Ilham, Rara, Adira, Kak Rofiqi, Noval, dan semua teman dan sahabat-sahabat saya. Mereka sangat berarti buat saya, mereka warna dan rasa dalam 20 tahun ini. Meski beberapa baru saya kenal setahun-dua tahun ini, tapi mereka ada.. doa-doa mereka, motivasi buat saya.

Ya Allah saya sangat bersyukur dilahirkan kedunia ini, dan bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka :’D

Satu hari itu nampaknya belum cukup kebahagiaan terus mengalir, besoknya, bahkan dua hari setelahnya, sebuah kado yang tidak diduga-duga; Naila beserta keluarga datang ke Bandung. Walaupun hanya tiga-empat jam kami bertemu, tapi itu rasanya sudah cukup. Kado terindah :’)

Alhamdulillah, rasanya seribu kali saya mengucap Alhamdulillah tidak akan mampu mengungkapkan betapa bersyukurnya saya atas kebahagian dan rezeki yang Allah berikan kepada saya. Alhamdulillah, terima kasih teman-teman, terima kasih Ma, Pa. Terima kasih juga Om papa dan Tante mama-nya Naila. Terima kasih, Hani heart

Terima kasih, Dunia :)

Leave a Reply