duapuluh-dua

Kemudian satu per satu periode hadir tanpa bisa ditunda lagi. Dan periode ini, periode yang menurut banyak orang adalah masa paling krusial. Dua puluh tahun kedepan, tergantung bagaimana kita menjalani usia dua puluhan kita, begitu kata mereka.

Maka sejak menginjak angka 20, aku selalu mencoba untuk menjadikan momen hari ulang tahun sebagai momen dimana aku harus kembali sadar. Semacam check point. Karena seringnya proses kesadaran dapat begitu menyakitkan, tapi kehadiran, ucapan selamat dan doa dari orang-orang terdekat di hari ulang tahun bisa sedikit membantu mengurangi rasa sakit itu.

Setahun kebelakang aku belajar dan tersadar akan banyak hal. Salah satunya adalah bahwa masalah tidak akan pernah benar-benar lenyap dari kehidupan kita. Bahwa terkadang sebuah perjuangan tidak akan kehilangan maknanya sebagai perjuangan, meski apa yang diperjuangkan tidak mampu diraih. Bahwa di dunia yang penuh pretensi ini, semuanya memang akan berpisah. Tapi hidup adalah perkara mempertahankan sesuatu selama mungkin. Meski kadang, ada hal-hal yang ternyata tidak mungkin untuk kita pertahankan. Bahwa waktu adalah hal yang paling berharga yang bisa kita berikan untuk seseorang. Sebab hanya waktu satu-satunya yang jika sudah kita berikan, tidak akan pernah kembali. Bahwa dalam hidup ini, tidak perlu takut menjalani kebersamaan, dengan siapapun. Karena memang pada dasarnya, semua orang akan melukai. Ini hanya perihal kepada siapa kita bersedia terluka. 

Terima kasih mama-papa, pada akhirnya kado terindah bukanlah kue dan lilin yang kalian antarkan ke kamar pada pagi hari. Bukan juga tentang bingkisan-bingkisan itu. Tapi bisa selalu melihat wajah kalian setiap pagi dan berkumpul bersama adalah kado terbaik sepanjang masa.

Terima kasih buat teman-teman, sahabat-sahabat, dan keluarga prosman yang sudah menyempatkan mengirimkan ucapan doa dan selamat, menyiapkan surprise dan segalanya, yang rela menelpon disela kesibukan, yang berkirim voice note malam-malam. Terima kasih atas doa dan harapannya. Semoga yang baik-baik juga untuk kalian.

Dan yang terakhir, terima kasih buat kamu, perempuan yang sudah sebulan terakhir mewarnai hari-hari. Terima kasih untuk surprise, dan balon-balonnya. Untuk waktu, gelak-tawa, perhatian dan semuanya, terima kasih, Dwita.

Selamat dua puluh dua, Gung!

Leave a Reply