Februari

Ini bulan Februari ke-23 dalam hidup saya. Meski tidak lahir di bulan ini, tapi saya suka bulan Februari. Dan entah bagaimana, mungkin karena stigma bahwa bulan Februari ini bulan kasih sayang, bulan yang romantis, saya jadi sering kali ikut-ikutan menganggap bahwa di bulan ini, semua jadi lebih melankolis daripada di bulan-bulan lainnya.

Saya akan selalu ingat bagaimana Februari tahun lalu saya memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan yang sebenarnya dari awal saya sudah tau bahwa ini tidak akan berhasil. Sekeras apapun saya berusaha, it wont work. Kemudian dua tahun lalu, ketika saya berusaha memberikan sesuatu kepada orang yang… saya sayangi, yang ternyata justru menjadi semacam jendela menuju keretakan hubungan saya dengan dia.

Februari 2016. Saya di jakarta, dan tanpa siapa-siapa. Jelas kejadian dua tahun lalu tidak akan terulang, karena memang saya sedang tidak ada hubungan dengan siapapun, atau sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun lebih tepatnya. Entahlah, saya belakangan merasa jauh lebih nyaman dan… kuat(?) justru ketika tanpa siapapun yang perlu saya khawatirkan. Bohong sih, karena tetap ada mama dan adik yang perlu saya khawatirkan.

tabula rasa

Tapi memang benar lho, Februari emang bikin semua jadi lebih melankolis, bahkan Jakarta yang selama ini saya kenal garang dengan panas dan gerah-nya ternyata bisa juga menjadi lebih lembut dan hangat di bulan ini. Dan seolah ter-hipnotis dengan alam yang mendadak melankolis, kemarin ketika saya sengaja ke Gramedia untuk mencari buku, dengan sedikit agak impulsif saya mengambil dua buah novel dengan genre yang sudah lama sekali tidak saya sentuh: Tabula Rasa (Ratih nurmala, 2004) dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (Eka kurniawan, 2015). Heran sumpah, padahal dari 2 jam saya ngubek di Gramedia, sekitar 1 jam 40 menit-nya saya habiskan di rak bagian agama, self help, dan bisnis. Tapi ya ngga tau kenapa, di menit-menit terakhir justru saya meluncur ke bagian novel dan tanpa pikir panjang membawa dua buku itu ke kasir neutral

Belum, buku itu belum saya selesaikan, tapi di bulan Februari ini saya menyadari sesuatu tentang diri saya, dan hubungan interpersonal saya: Saya tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menjalin hubungan baik dengan seseorang yang insecure, entah itu sebagai teman atau lebih. Karena hubungan yang seperti itu akan berat sebelah, cenderung banyak salah, sulit untuk maju, selalu minta dimengerti dan ujung-ujungnya saya yang akan (selalu) mengalah. Untuk orang yang terus berjalan bahkan berlari seperti saya, yang doyang mengkritik sesuatu, cukup sulit untuk terus comply dengan keinginan orang yang cenderung insecure. ((ujung-ujungnya curhat))

Anyway, di bulan Februari kali ini saya mendapatkan beberapa kesempatan untuk meningkatkan level saya secara profesional, baik di luar kantor maupun di dalam kantor tempat saya bekerja sekarang. Semoga hasil terbaik datang disaat yang baik pula, amin.

Leave a Reply