Hitam

Kepulan asap rokok milik bapak-bapak paruh baya di depan barusan, mengingatkan saya akan satu hal. Bahwa tanpa sadar, kita sedang berlomba-lomba menuju apa yang biasa disebut dengan kematian. Meski sebenarnya kita tidak akan pernah benar-benar mati— hanya berpindah dari kehidupan sekarang ke kehidupan selanjutnya. Setidaknya itu yang saya yakini. Tapi tetap saja.

Masih dari rumah duka di kisaran Jakarta pusat. Siang tadi tidak seperti biasanya, saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih awal. Setali tiga uang; menghindari hujan dan macet di malam hari, menemani seorang teman yang kebetulan sedang berakhir pekan di Bandung agar tidak menyetir seorang diri dan ingin menyempatkan hadir untuk seorang rekan yang sedang berduka.

Dari sekian banyak agenda hari ini, yang terakhir cukup menguras emosi. Ternyata saya memang selemah itu kalau soal keluarga, terlebih ketika menyangkut perihal kehilangan orang tua. Saya yang mencoba tegar dengan balutan hitam-hitam, runtuh seketika ketika memasuki rumah duka dan menemukan wajah yang tidak asing sedang menangis di depan peti jenazah.

“Yang kuat ya, yang sabar. Boleh sedih, tapi jangan lama-lama”— lirih dalam pelukan. Terdengar kuat dan menguatkan, padahal pengelihatan mulai buram oleh air mata. Lantas bergegas keluar ruangan setelah mencium tangan sang ibu. Tidak lama, sayup-sayup terdengar nyanyian dalam bahasa batak dari dalam ruangan. Mengelilingi jenazah mereka bernyanyi dengan lirik-lirik doa yang menghibur; mungkin juga benar— selayaknya kelahiran, kematian juga patut dirayakan. 

Lalu sembari menatap kepulan asap rokok yang menghilang di langit-langit, saya bertanya dalam diam: kalau tiba saatnya saya nanti, akankah ada yang perduli? Bersedihkah atau sebaliknya?

Apapun, yang penting mohon dimaaf dan doakan.

Leave a Reply