idealis

Kemarin ada percakapan yang cukup menarik dengan Papa. Entah apa yang mengawalinya, lupa.

Sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sudah sadar bahwa Papa adalah seorang idealis. Meski saat itu saya belum mengenal konsep idealis, tapi dalam pikiran saya, tertanam bahwa Papa akan selalu berpegangan kuat dengan apa yang dia yakini. Efeknya? Oh jelas, bagus. Tapi ngga jarang Papa jadi korban dari apa yang saya sebut: realitas.

Papa akan selalu bersemangat bercerita tentang bagaimana karirnya di Malang 20 tahun lalu dihambat oleh sebuah sistem yang sangat menjijikan. Tentang bagaimana dia seorang diri menjadikan Malang sebagai kota pertama di Jawa timur yang meng-online kan bank-bank di kota tersebut. Tentang bagaimana dia yang berprestasi justru tidak dihargai, karirnya jalan ditempat, sedangkan yang jauh dari kata prestasi mampu melesat dengan cara menjilat. Tentang suratnya kepada direktur telkom setelah bertahun-tahun karirnya stagnan, dan kesabaran yang sudah menipis. Tentang telkom yang kemudian bertansformasi menjadi lebih baik. Tentang salah satu bank yang mengancam putus kerja sama dengan telkom ketika Papa dipindahkan ke Surabaya. Tentang mereka yang memohon-mohon agar Papa kembali ke Malang namun ditolak mentah-mentah. Idealis?

“Ternyata selama ini Papa terlalu idealis, Gung. Dulu papa setiap ditawari sebuah posisi selalu bilang belum siap, karena dalam pikiran papa, seorang pemimpin pastilah harus lebih tahu dibanding bawahannya, ternyata engga gitu.”

Dalam sekejap pikiran saya langsung melayang ke hari jumat lalu, pemilihan koordinator asisten angkatan 2012. Beberapa asisten yang dicalonkan memilih untuk mundur dengan alasan tidak siap dengan alasan-alasan yang membuat saya (sebagai koordinator asisten angkatan sebelumnya) bertanya-tanya dalam hati. “Belum siap kak, masih labil”, yang kemudian saya bertanya dalam hati, memangnya selama ini saya tidak labil sampai-sampai mereka menjadikan alasan “masih labil” sebagai kekurangan yang nampaknya tidak boleh dimiliki oleh seorang pemimpin? Dan banyak lagi alasan lainnya.

“Nah setelah Papa bilang gitu, belum siap, eh taunya yang duduk di posisi itu malah orang yang lebih tidak mampu dari Papa..” lanjutnya.

Iya, dulu saya pun sering mengalami hal yang seperti itu. Hanya karena merasa malu, tidak percaya diri, merasa belum siap, akhirnya malah dipimpin oleh orang yang kemampuannya dibawah, tapi berani. Sakit hati sih, tapi mau gimana lagi. Salah sendiri juga, kan.

Tapi itu dulu, mungkin sama seperti Papa. Bedanya Papa sadar ketika sudah sekian tahun berkecimpung di dunia kerja, saya sadar ketika masuk di dunia kampus.

“Kemudian Papa sadar, ilmu dan kemampuan itu akan berkembang seiring dengan semakin tingginya posisi kita, Gung. Dengan semakin tinggi posisi kita, lingkungan kita juga pasti diisi dengan orang-orang yang tinggi, dan scope masalah yang lebih luas. Otomatis, ilmu dan kemampuan itu akan cepat sekali berkembangnya.”

Saya mengangguk tanda setuju. Meski belum masuk dunia kerja, saya sudah bisa sedikit merasakan dan mengalami apa yang Papa paparkan tadi. Jangan pernah takut untuk menduduki suatu posisi strategis. Terlebih ketika kita dicalonkan, dipercaya, dan didukung. Jangan khawatir karena ilmu akan datang secara terus menerus.

“Duduk dulu aja, karena kamu pemimpin, punya power, gampang banget untuk mendapatkan ilmu yang kamu inginkan itu, tinggal minta aja bawahan kamu yang ngerti untuk ngejelasin, beres.”

Saya kembali mengangguk; Iya juga, ya.  

Leave a Reply