Imposter Syndrome

Jadi barusan saya baca medium-nya Yoel, salah satu role model per-UX-an di Indonesia yang membahas pengalaman beliau tentang Imposter Syndrome. Jujur ini baru kali pertama saya dengar tentang istilah tersebut. Melegakan membacanya, karena ternyata hal yang biasa saya alami ini ada penjelasannya, dan tentu saja bukan cuma saya yang mengalaminya.

Imposter syndrome itu singkatnya adalah merasa tidak layak karena (merasa) skill kita tidak sebaik atau jauh di bawah dari apa yang orang lain kira.

Itu yang saya rasakan di penghujung 2016 ketika saya mendapatkan penghargaan dari VP dan managers sebagai Xtra Achiever. Waktu itu perasaannya campur aduk sekali mengingat posisi saya yang belum genap 6 bulan bekerja, sekaligus sebagai yang termuda (minim pengalaman) di dalam tim.

Waktu itu, butuh beberapa hari untuk saya menerima bahwa saya memang layak mendapatkannya. Ada ketakutan, yang barangkali berlebihan, kalau sampai orang lain menganggap saya terlalu dianakemaskan. Beruntung saat itu saya mendapatkan validasi, dari 2 arah sekaligus, eksternal (yang berupa pesan singkat dari VP saya yang mengatakan bahwa saya benar-benar layak mendapatkannya) dan internal— sehingga syndrome ini tidak berlarut-larut.

Yang kedua terjadi ketika saya baru pindah ke perusahaan tempat saya bekerja saat ini; di mana industrinya jauh berbeda, banyak istilah asing yang perlu saya serap, dan diberi tanggung jawab yang cukup besar. Sampai bulan ketiga barangkali saya masih merasa sangat bodoh, bahkan mungkin sampai saat ini. Stress sekali rasanya berusaha mencerna banyak hal, juga melakukan banyak hal dalam waktu yang sempit.

Sampai akhirnya saya terduduk lemas dan berpikir; I think I’m not that good— jangan-jangan dulu saya terlalu oversell ketika interview, jangan-jangan saya diterima di sini karena faktor luck aja, dan seterusnya.

Cukup lama saya mengalami imposter syndrome saat itu. Sebenarnya bukannya sama sekali tidak ada konfirmasi eksternal yang saya terima, hanya saja, saya belum bisa menerima konfirmasi-konfirmasi atau puji-pujian tersebut sebagai validasi bahwa saya mampu. Lha wong kenyataanya saya masih pusing tentang banyak hal kok?

Sampai akhirnya salah seorang teman meminta waktu untuk sesi 1-on-1, di sana dia bercerita bagaimana dia sangat kesulitan sekali untuk mencerna dan mengejar kecepatan orang-orang di sini. Dan dia iri melihat saya mampu melakukan semuanya. Dia juga takut kalau nanti dipecat karena dia tidak sebaik yang dikira. Saya hanya tertawa mendengarnya saat itu, sambil berkata ‘kamu ngga tau aja gimana stress-nya aku’.

Iya, singkatnya, diapun mengalami imposter syndrome. Tapi dengan keterbukaan itu, pelan-pelan kami saling menguatkan dan menerima bahwa barangkali memang tidak mudah untuk catching up dengan orang-orang ini, dengan perusahaan ini.

Dari situ saya sadar, kadang validasi eksternal tidak melulu soal pujian— tapi keterbukaan atas ketidakmampuan juga bisa jadi validasi eksternal yang bisa membantu menghilangkan syndrome pekerja ini. Justru aneh ngga sih kalau dipuji-puji terus?

Leave a Reply