Istighfar

Jadi ceritanya, kalau saya ngga langsung sholat pas denger adzan, Mama selalu nyuruh saya istighfar. Tapi entah kenapa tiap saya istighfar Kakak saya malah ketawa dan si Mama juga ikutan mau ketawa. Mungkin karena saya istighfar-nya dengan muka datar tanpa merasa dosa. Entahlah.

  • Mama: Sholat dulu udah adzan, istighfar, banyak setannya kalau males gitu
  • Saya: *sambil main game* Astaghfirullahaladzim..
  • Mbak Rin: Hahahahaha

Nah, karena saking seringnya Mama nyuruh saya istighfar, saya sering ngeledek Mama sambil becanda, “iya-iyaa tapi ya masa dikit-dikit istighfar, Ma”, yang kemudian disusul tawa kakak saya.

Suatu hari ketika di Madinah, saya sholat dhuhur bareng adik saya berdua di masjid Nabawi. Suasana padat sekali saat itu, dan seperti biasa saya simpan sandal di rak depan pintu masuk masjid. Karena banyaknya pintu dan rak, saya mengingat-ingat betul lokasinya sebelum meninggalkan rak untuk kemudian masuk ke masjid.

Ternyata setelah selesai sholat dhuhur saya tidak berhasil menemukan sandal kami. Saya kelilingi dan cek puluhan rak dan pintu yang saya yakini merupakan tempat saya menyimpan sandal kami berdua.

Sekitar 15 menit berusaha sambil terus mengucur keringat membayangkan saya dan adik saya harus jalan ke hotel tanpa alas kaki. Sempat terbesit ide untuk mengambil sandal orang yang ada di rak aja HAHAHA tapi kemudian saya urungkan karena takut kena azab; masa di tanah suci malah melakukan tindak kriminal? Akhirnya saya menyerah dan menelpon Mama.

  • Saya: *bete* Halo mama, sandalku sama sandal Bojan hilang ngga tau dimana
  • Mama: *santai* Lhoo, sudah dicari? Yaudah gapapa, coba dicari sekali lagi.. Istighfar yang banyak coba
  • Saya: *haduh istighfar terus ini nyuruhnya*Hmmm yawes, yaudah ya nanti kalo ngga nemu aku berarti nyeker ke hotel ya?
  • Mama: Yaa, semoga ketemu

Akhirnya saya menghela napas, sebenernya berharap Mama bilang “Yaudah mama kesana bawa sendal buat kalian”. Saya balik masuk ke masjid, kemudian istighfar beberapa kali sambil mengajak adik saya keluar masjid setelah meyakinkan dia kita akan pulang dengan kaki telanjang, niatnya mau langsung pulang ke hotel. Nyeker.

Tiba-tiba ketika di pelataran masjid Nabawi yang luas itu saya ngelirik ke pintu yang lain, yang ngga saya cek dari tadi. Terus tiba-tiba kayak yakin kalau sendal itu ada disana, dan benar sajaaa ada disana HAHAHAHA. Ternyata daritadi saya salah pintu saudara-saudara! Subhanallah, yaa.

Sampai di hotel saya cerita kejadian selengkap-lengkapnya ke Mama dan kakak saya, dan seperti biasa kakak saya tertawa terpingkal-pingkal dan Mama sambil menahan ketawa bilang, “Tuhkan bener, apa mama bilang, sering-sering istighfar..”

Jadi, sering-sering istighfar ya, Gung!

 

Leave a Reply