jalan-jalan.

tiga hari kemarin saya jalan-jalan ke jakarta. sebenarnya bukan jalan-jalan, tapi final suatu kompetisi yang diadakan oleh gramedia dan nokia. jujur saja, kemarin itu pengalaman pertama saya naik angkot yang sampai ganti angkot 3 kali. pertama kali juga naik bis antar kota. pertama kali juga naik busway feeder. pertama kali juga naik KRL. pertama kali juga naik busway. pertama kali juga ngebolang di tengah hiruk pikuk ibu kota.

saya dari bandung ke jakarta bertiga. Dan di bekasi ketemu satu orang teman lagi. jadi fix berempat ke jakarta. Kalau kata arif sih, saya yang paling menikmati perjalanan ini. Soalnya, cuma saya yang pakai kaos, jaket jeans ProClub, tas besar, celana jeans selutut, sendal butut, ditangaan kanan ada kamera, jalan paling cepat, dan sesekali bersenandung “na na na na ..” sambil jalan. Ya, itu saya! Yang lain pada pake sepatu dan baju yang rada kece.

kami berempat semuanya buta arah tentang jakarta. tapi tidak satu sentimeter pun kami tersesat. kenapa? GPS! karena kami memegang teguh pepatah “malu bertanya sesat dijalan”. Dan percayalah bahwa, penduduk lokal adalah petunjuk arah terbaik. Maka terselamatkanlah kami menuju kebon jeruk, menuju Menkominfo, dan menuju bandung.

Selain itu, ada hal lain yang harus diperhatikan ketika travelling. Sekalipun kita bukan orang asli daerah sana, tapi kita harus siap menjadi guide bagi orang lain yang lebih asing dari kita. Seperti kemarin, warga asing yang tidak bisa bahasa indonesia bertanya kepada saya cara pergi ke Gondangdia, dia mau ke UN whatever. Kalau saya jawab nggak tau, lantas kata-kata “penduduk lokal adalah penunjuk jalan terbaik” gugur dong? Jadi saya bertanya dulu ke orang yang lebih lokal, lalu saya jelaskan ke doi. #okesip

Balik lagi ke kompetisi. Ini hackhaton saya yang ketiga. Dan juaranya sudah ketebak. Saya udah dapat pola juaranya. Dan mereka adalah yang menggunakan Artificial Intellegent atau Augmented Reality. Anak industri seperti saya mana tahu yang begituan. Jadi kedepannya mungkin bakal lebih fokus belajar ke arah sana.

Daaaan, tim saya mendapatkan perhatian lebih dari seorang co-founder startupbisnis.com. Jadi di acara kemarin ada juga investor yang datang untuk melihat talent-talent, dan entah kenapa one of them nyangkut di tim saya. Ngobrol panjang lebar tentang tim kami, tentang startup dan berbagi kontak.

Dan satu lagi, ternyata ada senior se-almamater disana, dia salah satu panitia, sekaligus Strategic Coordinator di gramedia digital. Dia tiba-tiba nyamperin saya dan bilang “eh lo dari telkom ya? *julurin tangan* *salaman* gue juga!” terus ngobrol panjang lebar dan dia nanya lagi “lo jurusan apa?” “industri kak” “wah gue juga, gue angkatan 2005. lo industri ngoding?” “dikit kak hehe” “gila lo”. Oke jadi gue gila. Dan dia juga cerita, dia itu salah satu founder IMA di kampus, yang kemarin saya ikutan rekruitasinya tapi mundur itu. Asik banget deh ceritanya.

Terus saya ke Menkominfo, dan ditolak masuk sama satpam gara-gara setelan ala turis itu. Terus saya jalan muterin monas menuju gambir, dan kebetulan kantor ayah saya tepat di depan monas, pengen nelpon sih, sekedar ngasih tau. barangkali bakal dikasih duit atau diajak makan #ngarep. Tapi nggak enak, kebetulan ayah saya itu rajin rapat, dan saya tau kalau lagi rapat terus diganggu itu nggak enak. jadi saya urungkan niat. dan pas dirumah, malah dimarahin “kenapa nggak nelpon aja?”, “takut papa sibuk” “emang kapan? sebelum jumatan? papa disana kok” “abis jumatan” “oh, kalo abis jumatan papa di FF, rapat”. Tuhkan!

Oya, satu catatan lagi. Ternyata kalau naik angkot itu lebih baik naik yang udah hampir penuh, atau bahkan penuh. Walaupun duduknya cuma seperdelapan pantat tapi bang supirnya ngebut, daripada naik yang kosong, ngetem-nya sampai penuh, bisa-bisa satu jam, belum dikit-dikit berenti. OHSHIT.

Leave a Reply