Jangan Pikirkan Bandung, Vltchek

Beberapa minggu yang lalu, ranah sosial media dan situs berita dunia maya sedang seru membahas sebuah kritik tajam dari seorang jurnalis asing tentang Bandung yang dianugerahi oleh UNESCO sebagai kota kreatif. Yang unik adalah meskipun banyak yang tidak suka dengan kritik tersebut, tapi nampaknya sebagian besar dari kita juga tidak bisa mengelak dan bilang tidak pada kritik yang keluar dari tangan Andre Vltchek. Bahkan ada yang sangat sepakat dan cenderung bahagia akhirnya ada yang menyuarakan isi hatinya.

Ayah saya lahir dan tumbuh di Bandung. Seperti kebanyakan masyarakat Bandung lainnya, beliau begitu cinta dan bangga akan kota ini. Suatu saat menjelang kepindahan kami sekeluarga ke Bandung dari sebuah kota kecil di Jawa timur, ayah saya semakin semangat menceritakan betapa asik, nyaman dan dinamis-nya tinggal di kota kembang tersebut. Saya yang cenderung sudah nyaman di kota tempat kami tinggal merasa malas untuk pindah ke Bandung, karena beberapa kali kami main kesana, ya.. begitu saja.

bandung
sebuah event di area car free day dago (2012)
bandung
suatu hari di perempatan jalan pajajaran (2015)

Bandung, 2011. Sebulan pertama tinggal di kota Bandung saya cukup stress dengan kesemrawutan lalu lintas-nya —meski tidak perlu waktu lama untuk saya jadi bagian dari kesemrawutan itu sendiri. Knalpot bising dimana-mana, rambu lalu lintas yang sebatas pajangan, jalan-jalannya yang sempit dan rusak, manusia-manusia yang menyeberang disana-sini, sampah dimana-mana, kiri-kanan toko barang tiruan. Saya kecewa, dengan kota ini, juga dengan ayah saya. Mana paris van java-nya?

Tapi begini, setidaknya warga Bandung tidak perlu khawatir dengan kritikan dari Andre Vltchek, karena apa yang ditulis olehnya tidak ada yang salah dan tidak bisa mempengaruhi keputusan UNESCO yang mengklaim Bandung sebagai kota kreatif. Opini yang dia tulis sebenarnya bukan hal baru bukan? Lemahnya infrastruktur dan fasilitas publik, siapa yang tidak tahu? Bedanya, kita sudah terbiasa dengan segala kekurangan yang ada.

Apa yang Vltchek rasakan adalah apa yang saya rasakan dulu ketika pertama kali pindah ke kota Bandung, kecewa dengan ayah saya, bedannya, dia kecewa dengan UNESCO. Terlebih dengan latar belakang lingkungannya yang berasal dari negara maju di eropa, jelas akan sangat berbeda. Betul kata ayah Pidi baiq, bahwa Bandung bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan. Yah, namanya juga perasaan, ngga ada yang tau kapan munculnya. Ada yang muncul sejak awal pertama mengenal, ada yang justru di akhir ketika akan meninggalkan.

bandung
pemukiman warga di daerah cihampelas – siliwangi (2016)
bandung sunset
matahari terbenam di barat bandung (2015)

Meski Bandung masih tetap semrawut lalu lintas-nya karena penduduk yang terus saja bertambah, dan meski kota ini begitu-begitu saja bagi banyak orang, tapi pulang ke Bandung adalah hal yang paling menyenangkan meski hanya dihabiskan duduk di teras depan rumah, atau sekedar menikmati udara pagi dan sore kota Bandung sembari menatap rintik hujan yang siap mengguyur tanah.

Jangan pernah pikirkan Bandung, Vltchek, karena Bandung tidak akan pernah menjadi kreatif dengan menyerupai London atau Paris. Bandung akan menjadi kreatif dengan caranya sendiri, tanpa perlu concert hall, karena Bandung itu sendiri adalah concert hall bagi siapapun dengan kreatifitas apapun.

Leave a Reply