konspirasi benang kusut

Berkali-kali selalu aku katakan padamu, bahwa aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta secepat ini. Aku tidak pernah berencana untuk ini, untuk keadaan dimana aku kembali bermain peran dalam labirin rasa. Aku bahkan tidak yakin sanggup untuk memulainya lagi setelah apa yang terjadi, paling tidak setahun kebelakang. 

Kemudian ibarat benang kusut, aku dan kamu saling potong di satu titik yang kemudian melahirkan banyak lagi titik perpotongan, melilit satu sama lain. Semakin ditarik semakin mengikat. Seharusnya ini menyenangkan, maksudku, bukankah semua orang selalu mendambakan perasaan ini? Bukankah aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya untuk jatuh cinta lagi?

Lalu pertanyaannya adalah kenapa harus dengan kamu. Kenapa harus kamu yang saat itu mungkin tidak seharusnya ingin aku miliki. Kemudian percakapan antara Ludhe dan Keenan dalam perahu kertas menamparku keras, “Cinta itu dipilih, bukan memilih”. Dan dalam perjalanan yang bimbang, tanpa disadari aku sudah berada disini, dalam dimensi yang kusebut labirin rasa, yang didominasi bekas luka. Perasaan takut untuk kembali berjalan didalamnya itu ada, tapi genggamanmu di tanganku menguatkanku.

Periode hidup ini, layaknya drama seri. Awalnya aku tidak langsung begitu saja jatuh cinta. Biasa saja seperti kebanyakan orang. Yang kemudian entah bagaimana setelah tahu bahwa kita akan sering bertemu, diam-diam aku memperhatikanmu. Saat berpapasan, tanpa kamu tahu, sering aku kembali menoleh ke arahmu. Sedikit berharap bahwa kamu pun akan menoleh ke arahku. Saat berpisah, tanpa kamu tahu, aku suka kembali memastikan bahwa kamu masih baik-baik saja sejauh mataku memandang punggungmu yang menjauh pergi.

Hingga pada akhirnya aku yakin, tidak ada yang salah dengan ini. Bukankah cinta itu baik dan benar? Dan asal kamu tahu saja, ketika kamu menemukanku, saat itu sebenarnya kita sedang saling mencari. Dan kini, setelah kita saling menemukan, mauku setiap hari adalah kamu yang ada di balik semua bahagiaku. Mauku adalah kamu.

Leave a Reply