leap of faith

No, not really. Aku belum melakukan lompatan apapun sejauh ini. Atau paling tidak, di tahun ini. Anggap saja ini karena kemarin di awal tahun aku terlalu sibuk dengan resolusi orang lain sampai-sampai melupakan resolusiku sendiri. Padahal biasanya aku selalu menuliskan paling tidak satu baris harapan mengenai tahun yang baru akan dijalani. skip skip skip.

Whats up, A? To tell you the truth, I had been very unhappy this past month. Entahlah, padahal harusnya dengan adanya teman-teman yang baik dan kerjaannya bercandaan mulu di lab ((well, kebanyakan lelucon mereka menurutku sama sekali ngga penting dan… “apasih?”)), tugas akhir yang relatif ‘lancar’ ((aamiin)), keluarga yang hangat, dan beberapa teman dekat yang menyenangkan; aku bisa aja memulai paragraf ini dengan “I had been very happy this past month”. Tapi ternyata engga bisa. Apa ya… beban sih kayaknya. Terasa banget beban-pikiran itu ada, dan banyak. Di rumah, di kampus, dan diantara keduanya. Lebih ke efek domino sih kayaknya. Dan mungkin itu juga yang bikin aku belakangan lebih mudah marah dan emosi. Perubahan ini paling kelihatan kalau lagi di jalan sih, apalagi kalau bawa mobil; yang dulunya sabar banget sekarang doyan main klakson, marahin orang, ngeg*blokin orang ((astaghfirullah)). Yang dulunya pengalah banget sekarang jadi yang ngga mau jalannya diambil orang, yang dulunya main di kecepatan aman-aman aja, sekarang injek gas dalam-dalam. Naik motor juga gitu, yang dulunya pelan-pelan santai, sekarang main kebut-kebutan. Bahkan ilham sering banget komentar kalau malamnya kebetulan pulang bareng, “maneh ngebut banget, ngeri liatnya”.

Bahkan kadang, diri aku sendiri kaget dengan diri aku yang sekarang. Kadang aku mikir, apa karena genotype darah aku BO, dan sekarang sisi-O lah yang dominan atau entah bagaimana. Kadang mikir juga apa ini yang disebut Quarter-life crisis. Atau jangan-jangan karena aku terlalu sibuk ngejaga dan ngurusin perasaan orang banyak sampai-sampai lupa dengan perasaan sendiri? Atau jangan-jangan ini karena sekedar aku butuh a good conversation yang mungkin sudah lama ngga aku lakukan? Atau naah.. butuh jalan-jalan ((inisih excuse)). Nah apapun itu, aku ngga suka sih sama aku yang sekarang. Ngga enak, berat. Makanya aku heran kalau ada orang yang betah berlama-lama untuk jadi yang pemarah, emosian dan sebagainya.

Nah semogasemogasemoga, tulisan selanjutnya akan menceritakan betapa bahagianya aku seperti 2013 lalu, bahkan lebih. ((aamiiin))

Leave a Reply