Lelaki Instagram

Jadi sejak setahun kebelakang memang saya sudah berencana untuk rutin nge-gym, mengingat satu-satunya cara menaikkan berat badan saya agar mencapai berat badan ideal adalah melalui olah raga beban. Beberapa kali juga sudah sempat ikutan, walaupun konsistensi saya masih dipertanyakan.

Dalam beberapa kali kesempatan, saya selalu menyempatkan untuk bertanya mengenai preferensi badan ideal seorang laki-laki dari sudut pandang perempuan. Yang saya tanyai, tentu saja para perempuan. Tau hasilnya apa? Mayoritas mereka ngga terlalu suka dengan pria berbadan kekar, apalagi kalau gambar badannya diedarkan di mana-mana; Instagram misalnya, banyak banget kan udah kayak pepes. Mending pepes di bungkus daun pisang, lah ini, nyaris telanjang.

Menurut saya ini penting. Maksudnya, jawaban mereka tadi. Seandainya nih, ternyata memang kebanyakan perempuan tidak suka dengan laki-laki yang terlalu berotot, lantas apa motif lelaki instagram itu kalau bukan menarik lawan jenis? Kepuasan pribadi kah? Atau malah menarik sesama jenis? Ngga bisa dipungkiri, ketika foto lekuk dan otot kekar disertai ekspresi jantan itu masuk ke ranah media sosial, justru yang paling seru melempar pujian dan berbagi likes adalah dari jenis yang sama. Sebagai laki-laki, saya geli, dan kebanyakan dari kita tanpa disadari akan langsung memberikan label terhadap orientasi seksual dari mereka, padahal belum tentu kan mereka itu gay.

Konon dari jaman dulu, laki-laki yang lebih kuat yang kemudian direpresentasikan oleh otot, mendapatkan kehormatan dan pengakuan lebih dibanding yang lain. Sama halnya dengan mereka yang lebih pintar, lebih tampan, atau lebih kaya. Normal kan? Semua orang pasti ingin merasa dikagumi atau mendapat pengakuan atas apa yang dia miliki. Cuma belakangan karena isu mengenai orientasi seksual dan ego yang makin tinggi, laki-laki kebanyakan merasa segan dan malu untuk mengakui kelebihan laki-laki lainnya, apalagi kalau soal estetika, penampilan, dan badan yang telanjang. Kecuali bagi laki-laki yang feminin.

Jaman dulu mungkin badan kekar identik dengan laki-laki maskulin, macho, sekarang engga, badan kekar juga milik laki-laki feminin. Iya, laki-laki juga bisa feminin ngga peduli apa orientasi seksualnya. Dan laki-laki yang cenderung feminin ini akan lebih mudah mengutarakan kekagumannya pada keindahan, termasuk soal keindahan tubuh. Makanya ngga aneh kalau para perempuan dengan mudahnya melemparkan pujian atas penampilan perempuan lainnya, walaupun kebanyakan cuma basa-basi. Jadi akan menjadi wajar ketika perempuan yang juga feminin tidak tertarik dengan laki-laki yang feminin, ibarat kutub magnet.

Eh, jadi masih perlukah saya nge-gym?

2 thoughts on “Lelaki Instagram

  1. Ini ada artikel Gung tentang ideal male body type according to woman in different country. Ternyata preferensi perempuan bisa berbeda di tiap negara. Dan ternyata perempuan Indonesia lebih suka lelaki dengan badan yang agak gemuk. Mirip dengan hasil temuanmu tentang perempuan yg gak terlalu suka laki laki yang terlalu kekar. http://www.unilad.co.uk/pics/heres-what-the-ideal-male-body-looks-like-in-different-countries/

    Despite of that, mungkin buat kamu gym tetap perlu tapi niatnya lebih penampilan yg lebih professional dan menunjang karir, jadi baju ga keliatan kedodoran banget pas meeting CXO or something. Bukan buat show off ke social media. Or at least, biar stay fit aja.

Leave a Reply