#LumiaAppsOlympiad

Terhitung sejak awal bulan desember kemarin, saya cukup disibukkan dengan event hastag tersebut. Sejujurnya sejak saya kembali kedunia perkuliahan semester 3 ini, saya bertekad tidak akan berkutat dengan dunia developer. Saya tidak ingin murtad. Saya ingin fokus di dunia Industri, dimana memang itulah major saya. Terlebih ketika saya masuk kedalam International Class. Tenaga dan pikiran tercurahkan sepenuhnya pada kuliah.

Tiga bulan jauh dari dunia apps-developer, ramai di twitter dan facebook tentang #LumiaAppsOlympiad, yah, biasalah, peluncuran smartphone baru. Saya murni tidak tertarik. Bahkan ketika teman saya bertanya, saya dengan santai menjawab, “Nggak usah, lah”.

Kenyataannya adalah beberapa hari sebelum deadline pendaftaran Olimpiade tersebut, saya dikontak oleh Ainu, teman satu tim di Imagine Cup 2012 dan berbagai kompetisi di 2012.

“Gung, kamu ngedaftarin kita di #LumiaAppsOlympiad ?”

“eh? kagak nu. Kenapa?”

“Itu kita udah terdaftar..”

… Siapa yang ngedaftarin? Dan akhirnya entah tersulut darimana, kami memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Toh cuma main-main, terlebih event ini membawa nama kampus. Kalau menang, kan, lumayan :)

Setelah dilihat-lihat, ternyata kompetisinya cukup mudah. Dan kebetulan saya tidak sedang hectic di kampus. Maka all-out lah saya. Kebetulan saya satu tim dengan teman saya yang satu lagi. Maka fix, tim ini terdiri atas kami berdua. Saya bagian User Interface, dan dia bagian Coding.

Untuk tahap pertama, tiap tim harus mengumpulkan sebuah file .xap (file applikasi-nya) dan sebuah video yang di upload di Youtube. Meski saya mengerjakannya hanya sekitar 15 jam saja sebelum deadline, dan meski prosesnya tidak semulus paha SNSD, kami berhasil masuk final. Dan yang lebih menyenangkan lagi, mayoritas finalis berasal dari kampus saya, Institut Teknologi Telkom.

Jujur ketika masuk final, semangat saya makin membara. Saya bosan jadi finalis, saya ingin menang. Memang pernyataan yang ambisius. Terlebih ketika melihat fakta bahwa saya bukanlah mahasiswa computer science, dan baru masuk ke dunia apps-developer kurang dari 12 bulan yang lalu.

Maka selanjutnya adalah menyelesaikan aplikasi yang kemarin belum jadi untuk kemudian dipresentasikan pada saat final di Jakarta. Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Saya memperbaiki user interface-nya, dan teman saya yang satu lagi itu mengurusi soal API-nya. Semuanya terlihat baik-baik saja, karena tidak ada satu keluhan pun yang keluar dari mulut teman saya itu. Pun ketika dia ditanya oleh ainu, “Gimana? bisa?”, jawabannya adalah “bisa nu..”. Kami mengerjakannya dengan sangat bahagia, tidak terlihat ada kesulitan sedikitpun. Maka saya yakin, kami akan mendapatkan medali emas disini.

Semuanya terungkap ketika deadline tinggal beberapa jam lagi dan API belum bisa diakses. Saya mulai panik. Ada sesuatu yang tidak beres disini. Namun apa daya, deadline tinggal menunggu menit. Dan dengan hati yang sesak antara ingin marah dan sedih karena kecewa mimpi saya untuk menyumbangkan emas mustahil untuk tercapai, saya berusaha tidur, menanti final esok hari, di Jakarta.

Kami berangkat ke Jakarta dengan finalis yang lain. Sepanjang perjalanan saya sangat tidak tenang, apa yang harus saya presentasikan kalau aplikasinya belum jadi seperti ini?

Sesampainya di Plaza Bapindo tempat dimana final dilaksanakan, si teman saya itu sama sekali tidak menunjukan perasaan bersalah. Dia hanya bertanya-tanya “gimana nanti? gimana nanti?” yang jujur saja makin membuat saya kesal. Saya muak! Akhirnya 30 menit sebelum giliran saya presentasi, saya keluar ruangan, dan membuka laptop untuk membuat aplikasi saya itu seolah-olah berjalan dengan baik. Tapi mau bagaimana lagi, tidak adanya koneksi internet membuat saya tidak bisa berbuat banyak.

Akhirnya tiba saat saya presentasi. Dan saya malu. Karena menurut saya, itu adalah presentasi paling gagal yang pernah saya lakukan. Jujur sejujur-jujurnya saya sangat kesal dan muak dengan teman saya yang satu itu. Arrrgggghhh!!!

Dan benar saja, kami saya gagal dapat emas. Dan berhubung dia tidak memberikan kontribusi apapun pada aplikasi ini, maka ketika pembagian medali, saya yang maju, dan saya yang pegang sampai sekarang medalinya. Beruntung dia tidak protes atau apa, toh mungkin dia juga sadar diri. Kejam memang, tapi bagaimana lagi. Mimpi saya dihancurkan begitu saja cuma karena dia yang merasa bisa dan malu untuk mengaku tidak bisa.

Meski begitu alhamdulillah saya membawa pulang sebuah medali perak, untuk Institut Teknologi Telkom. Saya bersyukur, tetap bersyukur meski masih… masih.. dan masih kesal. Kurang dari setahun saya bermain-main di dunia apps developer ini, berkali-kali masuk final, akhirnya berhasil juga menjadi juara, meski hanya juara dua :)

Leave a Reply