Masa peralihan tahun

Belakangan minatku terhadap tulis-menulis dan baca-membaca buku kian surut. Sebuah kemunduran yang terjadi di tahun dua ribu tiga belas. Aku susah untuk mencari alasan atau sebab dari —aku menyebutnya— kemunduran kualitas hidup ini. 

Bolehlah aku jadikan ini sebagai resolusi di tahun dua ribu empat belas, membaca dan menulis, sehingga tidak lagi banyak terjadi penyesalan-penyesalan seperti di tahun dua ribu tiga belas. Ah, iya, dua ribu tiga belas memang tahun yang paling banyak menimbulkan penyesalan pada diriku.

Bersyukur Tuhan selalu berlaku adil pada setiap makhluknya. Selain penyesalan dan hal yang kusebut dengan kemunduran kualitas hidup itu, dua ribu tiga belas juga merupakan tahun dimana aku semakin menjadi aku yang sebenarnya, aku yang semakin dewasa. yang melakukan apa yang aku inginkan, bukan apa yang orang katakan atau perintahkan.

My destination is no longer a place, rather a new way of seeing. —Marcel Proust

Aku akan selalu bersyukur dengan pengalaman kompetisi debat marketing bersama kedua teman terbaik, duduk di depan panggung utama malam penganugrahan inovasi terbaik di negeri ini, tiga hari mengalami indonesia yang berbeda di yogyakarta, mengikuti kompetisi desain produk di semarang bersama ketiga teman terbaik, mengemban amanah baru sebagai lead regional microsoft student partner, bergabung dengan sebuah keluarga baru —prosmanlab—, berdebar-debar di semifinal imagine cup, bergabung dengan sekumpulan calon pemimpin terbaik di negeri ini di YLI 2013, dan tentu saja keluarga terbaik ruang kelas C314. Terima kasih, nikmat sekali rasanya bersama melakukan hal-hal terbaik, melakukan perjalanan-perjalanan terbaik bersama orang-orang terbaik.

Karena sejauh apapun perjalanan yang kamu lalui, kamu tidak akan menemukan apa-apa selain dirimu sendiri.

Tidak berharap banyak aku pada dua ribu empat belas. Hanya ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, yang lebih professional, yang merangkul lebih banyak keluarga, yang lebih menghargai waktu, yang lebih produktif, yang lebih banyak melakukan perjalanan, yang lebih mendekat kepada sang pencipta, yang lebih banyak menulis dan membaca buku, yang selalu memberi tanpa mengharap kembali seperti sang matahari.

Terima kasih dua ribu tiga belas, andai kata ada kesedihan dan kepedihan yang engkau berikan padaku pun, aku anggap itu sebagai pelajaran yang semakin melapangkan dada dan membukakan pikiranku.

Ngomong-ngomong, aku belum pernah seoptimis ini menyambut tahun baru. Semoga menjadi awal yang baik!

Have a nice Saturday, y’all. 

Leave a Reply