Menemukan (Buku) Yang Tepat

Sejak kecil saya selalu menuliskan ‘membaca’ pada setiap kolom formulir yang menanyakan tentang hobi. Meski saat itu saya belum betul paham apakah kegiatan membuka-buka koran untuk melihat gambar-gambar besar penuh warna dari sebuah iklan dan beberapa kolom editorial, juga menikmati komik Captain Tsubasa, Dragon Ball, dan Kungfu Komang bisa ditulis sebagai hobi membaca. Yang saya tahu, itu menyenangkan.

Duduk di bangku Sekolah Mengengah Pertama, saya mulai kenal dengan yang namanya Novel. Kakak saya yang mengenalkannya, awalnya saya tidak tertarik, karena apa asiknya membaca buku yang tidak ada gambarnya. Lalu kemudian ada satu kalimat dari Papa yang masih saya ingat sampai sekarang sebagai jawaban atas pertanyaan saya diatas; bahwa dengan novel, kita lah yang membuat gambarnya sendiri, otak kita akan berimajinasi tanpa batas. Imajinasi tanpa batas.

Saya percaya pada dasarnya semua orang suka membaca buku. Mereka yang tidak suka adalah mereka yang belum menemukan buku yang tepat. Saya menemukan buku yang tepat kira-kira sekitar tahun 2009/2010, dimana saya mulai jenuh dengan komik (Karena captain tsubasa dan Dragon ball sudah tidak ada seri barunya). Dan saya rasa, buku-buku inilah yang pada akhirnya membuat saya semakin rajin melahap kata demi kata, paragraf demi paragraf.

1. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu (Tere Liye, 2009)

Sebuah buku yang merubah pandangan saya tentang novel, juga tentang hidup. Mungkin yang membuat buku ini tepat adalah karena isinya relevan dengan apa yang sedang saya alami saat itu. Buku ini mengajarkan betapa hidup ini saling berkaitan satu sama lain, tentang siklus sebab-akibat, juga tentang makna dan hakikat kehidupan. Terdengar berat padahal tidak, karena dibungkus dengan kisah kehidupan yang sederhana dengan plot yang sangat baik.

2. Titanium (Sitta Karina, 2009)

Saya ingat betul buku ini sempat beberapa bulan didiamkan begitu saja setelah saya membuka beberapa halaman pertamanya, karena sungguh, dari awal kita sudah disodori dengan sejumlah nama karakter yang sangat banyak. Bikin males ngelanjutinnya. Tapi itulah yang kemudian membuat novel ini sangat luar biasa buat saya. Detail karakter dan kejadian seakan-akan apa yang ada di novel ini adalah nyata. Saya sangat larut dalam kisahnya. Meski pada dasarnya ini adalah novel dengan genre romance, tapi isinya tidak murahan seperti kebanyakan novel di luar sana, dewasa, dan juga tidak melebih-lebihkan.

3. Perahu Kertas (Dewi Lestari, 2009)

Ini novel dengan genre popular pertama yang saya baca. Tapi cara Dee menceritakan semuanya membuat saya hanyut sekali dengan kisah antara Kugy dan Keenan ini. Apalagi setting dan plotnya yang terasa sangat dekat sekali dengan saya: Bandung, Jakarta, Lukisan, Bali, dan sebagainya. Sebuah novel tentang percintaan anak muda yang ringan, tapi tidak cengeng. Sebuah novel yang sekali lagi mengajak saya untuk merenung sejenak, memahami cinta.

See..? Sebenarnya itu novel-novel biasa, bukan Paulo coelho atau Murakami (yang sebenarnya juga biasa), tapi kedekatan antara emosi si pembaca dan isi novel ditambah kelihaian penulis dalam meramu sebuah cerita-lah yang membuat semuanya menjadi berarti. Dalam ranah kehidupan saya, cerita-cerita dalam ketiga buku tersebut pada akhirnya berhasil membentuk habit dan pola pikir saya sampai saat ini.

Jadi, sudahkan kamu menemukan buku yang tepat?

 

 

 

Leave a Reply